{"id":504904,"date":"2026-05-31T20:23:00","date_gmt":"2026-05-31T13:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/05\/31\/indonesia-berpeluang-diserang-seperti-venezuela-connie-faktor-rakyat-akan-sangat-menentukan\/"},"modified":"2026-05-31T23:40:10","modified_gmt":"2026-05-31T16:40:10","slug":"indonesia-berpeluang-diserang-seperti-venezuela-connie-faktor-rakyat-akan-sangat-menentukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/05\/31\/indonesia-berpeluang-diserang-seperti-venezuela-connie-faktor-rakyat-akan-sangat-menentukan\/","title":{"rendered":"Indonesia Berpeluang Diserang seperti Venezuela? Connie: Faktor Rakyat Akan Sangat Menentukan"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH <\/b>&#8211; Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, <a title=\"Yusril Ihza Mahendra\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/yusril-ihza-mahendra\/\">Yusril Ihza Mahendra<\/a>, mengenai kemungkinan Indonesia menghadapi tekanan geopolitik seperti yang dialami <a title=\"Venezuela\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/venezuela\/\">Venezuela<\/a> memicu perdebatan luas di kalangan akademisi, pengamat keamanan, dan publik.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut bukan sekadar membahas ancaman perang konvensional.<\/p>\n<p>Di baliknya tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar, yakni bagaimana Indonesia dapat menjadi arena perebutan pengaruh negara-negara adidaya di tengah meningkatnya persaingan global.<\/p>\n<p>Yusril sebelumnya menyoroti posisi Indonesia yang sangat strategis, baik dari sisi geografis maupun kekayaan sumber daya alam.<\/p>\n<p>Menurutnya, negara-negara besar memiliki kepentingan besar terhadap kawasan yang kaya energi, mineral kritis, serta jalur perdagangan internasional.<\/p>\n<p>Bahkan, ia mengingatkan bahwa apabila terjadi skenario konflik besar, Indonesia dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan militer modern.<\/p>\n<p>Pernyataan itu kemudian mendapat respons dari Guru Besar Hubungan Internasional ST Petersburg State University, Connie Rahakundini Bakrie, yang menilai peringatan tersebut harus dipandang sebagai alarm serius bagi para pemimpin nasional.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Connie: Ini Bukan Alarm Biasa, Melainkan Wake Up Call<\/h3>\n<p>Connie menegaskan bahwa dalam lanskap geopolitik dan geoekonomi dunia saat ini, kemungkinan Indonesia menghadapi tekanan seperti yang dialami Venezuela tidak bisa dianggap mustahil.<\/p>\n<p>Menurutnya, perubahan tatanan global yang semakin kompetitif membuat negara-negara kaya sumber daya menjadi objek perebutan kepentingan strategis.<\/p>\n<p>&#8220;Ini bukan sekadar alarm, tetapi wake up call bagi para pemimpin kita,&#8221; kata Connie.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah alutsista yang dimiliki, tetapi juga kesiapan logistik, stok amunisi, kemampuan intelijen, serta dukungan masyarakat terhadap negara.<\/p>\n<p>Dalam pandangannya, faktor rakyat menjadi elemen yang sangat menentukan ketika sebuah negara menghadapi tekanan eksternal.<\/p>\n<p>&#8220;Apakah TNI siap atau tidak, itu penting. Tapi yang juga penting adalah apakah rakyat Indonesia siap dan memiliki kedekatan dengan pemerintah. Itu faktor utama dalam menjaga negara,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Soroti Kelemahan Pertahanan dan Logistik<\/h3>\n<p>Connie menilai Indonesia telah melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah persoalan stok amunisi dan logistik pertahanan yang dinilai masih terbatas apabila harus menghadapi situasi darurat dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Selain itu, sebagian alutsista masih membutuhkan perawatan berat atau heavy maintenance, sehingga berpotensi mengurangi kesiapan operasional apabila terjadi krisis.<\/p>\n<p>Menurut Connie, tantangan lainnya adalah komposisi anggaran pertahanan yang masih didominasi belanja personel.<\/p>\n<p>Ia menyebut sebagian besar anggaran pertahanan masih terserap untuk kebutuhan sumber daya manusia dibandingkan penguatan teknologi dan sistem pertahanan masa depan.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau kita bicara tantangan masa depan, ini menjadi persoalan yang harus diperhatikan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Jalur Strategis Indonesia Jadi Rebutan Dunia<\/h3>\n<p>Connie juga menyoroti posisi Indonesia yang berada di jalur laut paling strategis di dunia.<\/p>\n<p>Indonesia menguasai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, dan III, yang menjadi bagian penting dari lalu lintas perdagangan global.<\/p>\n<p>Selain itu, keberadaan Selat Malaka membuat Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem perdagangan internasional.<\/p>\n<p>Menurut Connie, dokumen strategis pertahanan Amerika Serikat beberapa tahun terakhir menunjukkan perhatian besar terhadap penguasaan jalur komunikasi laut global atau sea lines of communication.<\/p>\n<p>Karena itu, kemampuan early warning system, pengawasan wilayah, dan integrasi intelijen nasional menjadi sangat krusial.<\/p>\n<p>&#8220;Intelijen adalah mata negara. Pertanyaannya, apakah data-data yang kita miliki sudah benar-benar terintegrasi?&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Ia menilai Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk memperkuat koordinasi antar lembaga intelijen demi menghadapi ancaman modern yang semakin kompleks.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Ancaman Terbesar Bukan Invasi, Tapi Perebutan Pengaruh<\/h3>\n<p>Sementara itu, pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho memiliki pandangan yang sedikit berbeda.<\/p>\n<p>Menurutnya, peringatan Yusril harus dilihat dalam kerangka realisme geopolitik, bukan sebagai prediksi bahwa Indonesia akan mengalami invasi militer langsung.<\/p>\n<p>&#8220;Saya tidak melihat Indonesia akan diinvasi,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Namun, ia menilai Indonesia berpotensi menjadi medan perebutan pengaruh antara dua kekuatan terbesar dunia saat ini, yakni Amerika Serikat dan China.<\/p>\n<p>Dalam kompetisi global yang berlangsung tanpa perang terbuka, kedua negara membutuhkan akses terhadap wilayah-wilayah strategis yang dapat memperkuat posisi mereka.<\/p>\n<p>Indonesia dinilai menjadi salah satu aset paling berharga dalam persaingan tersebut.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Indonesia Adalah Prize di Indo-Pasifik<\/h3>\n<p>Wibawanto menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia menjadikannya sangat penting bagi kepentingan geopolitik dunia.<\/p>\n<p>Selain memiliki jalur laut dan udara strategis, Indonesia juga kaya akan sumber daya energi dan mineral yang sangat dibutuhkan industri modern.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.<\/p>\n<p>Kondisi itu membuat Indonesia berstatus sebagai swing state, yaitu negara yang memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan kekuatan regional.<\/p>\n<p>&#8220;Siapa yang memenangkan pengaruh di Indonesia akan memiliki peluang lebih besar memenangkan persaingan di Indo-Pasifik,&#8221; katanya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Diplomasi Seimbang Jadi Kunci<\/h3>\n<p>Menghadapi situasi tersebut, Wibawanto menilai Indonesia harus mempertahankan <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/politik\/\">Politik<\/a> luar negeri yang seimbang dan tidak berpihak pada salah satu blok kekuatan.<\/p>\n<p>Ia menyebut pendekatan equidistant diplomacy, omni diplomacy, atau multidirectional diplomacy sebagai strategi yang paling tepat.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan itu, Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat, China, Rusia, maupun kekuatan besar lainnya tanpa kehilangan independensi.<\/p>\n<p>Namun, strategi tersebut hanya akan berhasil apabila ditopang oleh fondasi domestik yang kuat.<\/p>\n<p>Menurutnya, terdapat tiga syarat utama agar Indonesia mampu menjaga kedaulatan di tengah kompetisi global.<\/p>\n<p>Pertama, negara harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai kepentingan nasional inti (core national interest).<\/p>\n<p>Kedua, pemerintah harus membangun kepercayaan publik serta menjaga kekompakan nasional.<\/p>\n<p>Ketiga, Indonesia harus memiliki strategic autonomy, yakni kemampuan bermanuver secara independen di panggung internasional tanpa tekanan dari pihak mana pun.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Tantangan Besar Indonesia di Tengah Persaingan Global<\/h3>\n<p>Peringatan yang disampaikan Yusril dan analisis para pakar menunjukkan bahwa tantangan Indonesia di masa depan tidak hanya berasal dari ancaman militer konvensional.<\/p>\n<p>Persaingan ekonomi, pengaruh politik, perang informasi, keamanan siber, hingga perebutan akses terhadap sumber daya strategis diperkirakan akan menjadi medan kompetisi utama abad ke-21.<\/p>\n<p>Dengan posisi geografis yang sangat strategis dan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam tatanan dunia baru.<\/p>\n<p>Namun di saat yang sama, posisi tersebut juga menempatkan Indonesia di tengah pusaran kepentingan berbagai kekuatan global yang terus berebut pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengenai kemungkinan Indonesia menghadapi tekanan geopolitik seperti yang dialami Venezuela<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":504905,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[34],"tags":[242,1420,2982,50324,269439,274908,328272],"series":[],"class_list":["post-504904","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-politik","tag-peristiwa","tag-geopolitik","tag-yusril-ihza-mahendra","tag-connie","tag-berita","tag-venezuela"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/504904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=504904"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/504904\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/504905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=504904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=504904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=504904"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=504904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}