{"id":507160,"date":"2026-06-21T17:12:00","date_gmt":"2026-06-21T10:12:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/06\/21\/transformasi-besar-besaran-prabowo-bikin-banyak-orang-kaget\/"},"modified":"2026-06-21T18:11:06","modified_gmt":"2026-06-21T11:11:06","slug":"transformasi-besar-besaran-prabowo-bikin-banyak-orang-kaget","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/06\/21\/transformasi-besar-besaran-prabowo-bikin-banyak-orang-kaget\/","title":{"rendered":"Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b> &#8211; Kondisi bangsa saat ini masuk pada fase-fase yang mendebarkan. Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan di masyarakat terhadap gejolak yang terjadi, apakah bersumber pada sesuatu yang serius atau sekedar riak-riak kecil yang bisa diabaikan.<\/p>\n<p>Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Perumahan (PKP) Fahri Hamzah dalam Kajian Pengembangan Kebangsaan dengan tema &#8220;Mengenal Transformasi Bangsa&#8221;.<\/p>\n<p>\u201cIni harus kita diskusikan bersama untuk menjawab isu-isu yang berkembang sekarang, yang sedang\u00a0 hangat. Ada gugatan yang terjadi dilakukan oposisi atau perlawanan yang kuat di kalangan civil society dan mahasiswa,\u201d kata <a title=\"Fahri Hamzah\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/fahri-hamzah\/\">Fahri Hamzah<\/a>, Minggu, 21 Juni 2026.<\/p>\n<p>Menurut Fahri Hamzah, hal ini menarik untuk dikaji karena Indonesia sebagai negara yang demokratis, maka semua harus\u00a0 berpikir untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan sekelompok orang.<\/p>\n<p>Yakni secara terus menerus berupaya untuk mencerdaskan diri, serta mengikuti gagasan-gagasan agar menjadi warga negara yang baik. Sehingga terciptanya masyarakat yang cerdas, seusai amanat konstitusi.<\/p>\n<p>\u201cLalu, persoalan apa yang sebenarnya sedang terjadi, apakah peristiwa yang mirip dengan tahun 98?\u201d tanya Fahri.<\/p>\n<p>Seperti tuduhan kembalinya otoritarianisme, atau justru sekedar keresahan penurunan kesejahteraan kelas menengah yang meningkat tajam.<\/p>\n<p>\u201cAtau ada isu-isu lain yang di belakang layar. Diduga adanya perlawanan terhadap strategi Presiden <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/prabowo\/\">Prabowo<\/a> melakukan transformasi besar-besaran,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p>Fahri berharap agar semua pihak membaca situasi sekarang secara \u2018clear\u2019 agar tidak salah dan keliru dalam mengambil sikap.<\/p>\n<p>\u201cPartai Gelora sebagai bagian dari koalisi pemerintahan, harus menyampaikan kepada publik. Inilah yang sebenarnya terjadi. Saya mengerti betul pikiran-pikiran Pak Prabowo,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Fahri mengaku, mengenal Prabowo secara pribadi sudah lama, bahkan pernah menjadi juru bicara dalam tiga kali Pilpres dari empat kali yang diikuti Presiden RI ke-8 itu.<\/p>\n<p>\u201cBahkan saya juga mempelajari pikiran-pikiran dari keluarga Pak Prabowo. Mulai dari kakeknya Pak Margono yang merupakan tokoh koperasi dan pendiri Bank BNI hingga bapaknya Prof Sumitro,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Fahri juga mengaku sebagai murid Prof Sumitro Djojohadikusumo secara langsung, karena kuliah di Fakultas Ekonomi Indonesia, tempat ayah Presiden Prabowo itu mengajar.<\/p>\n<p>\u201cMakanya saya bersahabat dengan Pak Prabowo cukup lama dan membaca buku-buku beliau, termasuk soal perumahan rakyat dan ekonomi kerakyatan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ekonomi kerakyatan itu, kata Fahri, adalah ekonomi Pancasila yang mengedepankan kepentingan rakyat dan negara daripada memberikan peluang lebih besar instrumen-instrumen market.<\/p>\n<p>\u201c Nah, karena itulah kita kemudian seperti berada dalam transformasi besar. Setelah Soekarno, Prabowo-lah, presiden yang memikirkan kepemimpinan yang cukup mendalam,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Jika Soekarno memikirkan transisi dari negara yang dijajah\u00a0 di bawah kolonialisme menjadi negara merdeka. Sementara Prabowo memikirkan satu negara, yang mulai didominasi\u00a0 kelompok-kelompok ekonomi besar dan konglomerasi.<\/p>\n<p>\u201cMenurut pemahaman beliau, kita\u00a0 harus memperkuat cita-cita sektor kerakyatan yang ditulisnya dalam dua buku. Paradoks Indonesia dan\u00a0 Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045,\u201d katanya.<\/p>\n<h3>Kaget Transformasi Prabowo<\/h3>\n<p>Dalam buku Paradoks Indonesia, ia mengungkapkan, bahwa Prabowo melakulan kritik terhadap sistem pemerintahan, khususnya sistem ekonomi. Yaitu menyangkut\u00a0 persoalan ekonomi dan kebocoran sumber daya alam (SDA), termasuk korupsi di dalamnya.<\/p>\n<p>\u201cKritik ini kemudian dijadikan sebagai strategi mengakhirinya, yakni mengakhiri masifnya kebocoran. Kampanye melaawan kebocoran itu betul-betul diniatkan, betul-betul diselenggarakan dan dipimpin langsung oleh beliau,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Presiden Prabowo, juga melakukan upaya besar-besaran untuk mengakhiri ketimpangan persoalan ekonomi, sehingga membuat banyak orang kaget.<\/p>\n<p>\u201cJadi kalau ada orang kaget yang beliau lakukan secara besar-besaran oleh Pak Prabowo. Mungkin dia lupa membaca, bahwa ini adalah pikiran dasar dari Pak Prabowo sejak lama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dalam buku Paradoks Indonesia, kata Fahri, Prabowo selalu menyebutkan, bahwa Indonesia adalah negara kaya dan percaya dengan kekayaan tersebut, dapat menjadikan Indonesia sebagai negara maju.<\/p>\n<p>\u201cJadi bukan seperti kritik orang, yang tidak percaya pada sumber daya alam kita, apalagi sumber daya manusianya,\u201d jelas Fahri.<\/p>\n<p>Mereka mengganggap Indonesia sekarang menjadi negara otoriter, negara otoritarisme seperti China.<\/p>\n<p>Padahal China yang sebagai dianggap negara otoriter, justru tumbuh pesat sebagai secara ekonomi sebagai kekuatan global baru.<\/p>\n<p>\u201cJadi konsep yang dibawah Pak Prabowo itu, kita harus percaya pada sumber daya alam dan sumber daya manusia sendiri untuk mengelolanya,\u201d kata Wakil Ketua DPR 2014-2019 ini.<\/p>\n<p>Akibat tidak dikelola dengan baik, lanjut dia, terjadi kebocoran yang massif SDA Indonesia, sehingga tidak memberikan manfaat kepada rakyatnya.<\/p>\n<p>\u201cItulah yang beliau lakukan sekarang dengan membentuk Satgas PKH. Sekarang ini ada penertiban\u00a0 ekspor mineral dan sumber daya alam. Sekarang dikonsentrasikan pada satu unit yang disebut dengan Danantara Sumber Daya Indonesia (SDI),\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dimana Danantara SDI bertugas mengidentifikasi seluruh SDA, sehingga negara memiliki kontrol\u00a0 sumber daya alamnya secara riil.<\/p>\n<p>\u201cKita ini adalah pemilik nikel nomor satu, mungkin emas nomor satu di dunia, batubara nomor tiga dan sawit bisa dibilang nomor satu dan seterusnya. Banyak sekali sumber daya alam kita, ada juga migas, mineral logam, perkebunan, perikanan dan kelautan. Ini bisa menjadi sumber kemamjuan kita,\u201d tegas Fahri.<\/p>\n<p>Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini menegaskan, Prabowo ingin agar SDA Indonesia tidak lagi mengalami kebocoran, sehingga harus dikontrol oleh negara.<\/p>\n<p>\u201cPernyataan yang selalu beliau katakan. Kita harus tegakkan ini dan kita kontrol jangan sampai terjadi kebocoran,\u201d kata Fahri menirukan pernyataan Presiden <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/prabowo-subianto\/\">Prabowo Subianto<\/a> dalam berbagai kesempatan.<\/p>\n<p>Sementara dalam mengatasi berbagai ketimpangan, Presiden Prabowo antara lain melaksanakan\u00a0 program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam rangka pemerataan ekonomi, meskipun diwarnai insiden adanya tertangkapnya tiga pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN)\u00a0 dalam kasus korupsi.<\/p>\n<p>\u201cKalau tiga pimpinan puncaknya ditangkap karena kasus korupsi, itu soal lain, silahkan apparat penegakan hukum mengusutnya. Tapi yang ingin saya katakan, MBG ini adalah platform besar pikiran Pak Prabowo tentang pemerataan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sebab, kondisi riil Indonesia sekarang, menurut Fahri, menganut sistem ekonomi liberal, menyerahkan pada mekanisme pasar, dan tidak memberikan kemakmuran kepada rakyat.<\/p>\n<p>\u201cBanyak aset, tanah, hutan, tambang dan\u00a0 perbankan termasuk perbankan Himbara yang menyalurkan kredit kepada kelompok-kelompok yang sudah kuat dan besar.\u00a0 Mereka semua yang mengendalikan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Kelompok tersebut, mempunyai kemampuan untuk mengendalikan market atau pasar.\u00a0 Kelompok ini juga punya kemampuan untuk mencari kapital atau modal di dalam dan luar negeri. Mereka juga bahkan ditopang oleh bank-bank pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cKalau beliau, mereka sudah mengambil sumber daya alam kita,. Dibiayai bank negara kita, tapi\u00a0 setelah itu begitu ada hasil penjualan, mereka bawa ke luar negeri dan tidak disimpan untuk kepentingan bangsa Indonesia,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Hal-hal seperti inilah yang disampaikan Prabowo sebagai Paradoks Indonesia, disatu sisi memiliki kekayaan alam melimpah, namun disisi lain pendapatan perkapita penduduknya sangat rendah.<\/p>\n<p>\u201cPer kapita income kita, kalau dihitung dari negara-negara yang merdeka bersamaan dengan kita. Kita masih berada diantara paling bawah, kita kalah dari Malaysia, Taiwan, China, Singapura dan Korea,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cIni adalah fakta-fakta bahwa dengan negara yang kita merdeka bersamaan. Mereka lebih miskin\u00a0 sumber daya alam, tapi sekarang mereka lebih kaya daripada kita. Itulah yang disebut sebagai Paradoks Indonesia,\u201d pungkas Fahri.<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/507160?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut Fahri Hamzah, hal ini menarik untuk dikaji karena Indonesia sebagai negara yang demokratis, maka semua harus\u00a0 berpikir untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan sekelompok orang.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":507161,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"prabowo","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[34],"tags":[274908,10434,68,1420,2081],"series":[],"class_list":["post-507160","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-fahri-hamzah","tag-headline","tag-peristiwa","tag-prabowo-subianto"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/507160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=507160"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/507160\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/507161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=507160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=507160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=507160"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=507160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}