{"id":51363,"date":"2022-07-02T19:42:00","date_gmt":"2022-07-02T12:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/harianaceh.co.id\/2022\/07\/02\/olahan-sampah-ini-disebut-mampu-mencegah-paparan-pmk-pada-hewan-ternak\/"},"modified":"2022-07-02T19:43:45","modified_gmt":"2022-07-02T12:43:45","slug":"olahan-sampah-ini-disebut-mampu-mencegah-paparan-pmk-pada-hewan-ternak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2022\/07\/02\/olahan-sampah-ini-disebut-mampu-mencegah-paparan-pmk-pada-hewan-ternak\/","title":{"rendered":"Olahan Sampah Ini Disebut Mampu Mencegah Paparan PMK pada Hewan Ternak"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><\/p>\n<p><b>BANDA ACEH &#8211;<\/b> Sampah organik hasil dari rumah tangga memiliki banyak manfaat. Sebagaimana olahan sampah menjadi eco-enzyme yang ditekuni Relawan Eco-Enzyme Indonesia (REEI) Gresik. Eco-enzyme diklaim mampu mencegah ternak terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).<\/p>\n<p>Ketua REEI Gresik Tatik Erawati menyatakan, eco-enzyme merupakan salah satu jalan untuk mengurangi sampah. Bahan-bahan untuk pembuatannya berasal dari sisa bahan pangan atau makanan rumah tangga. \u2019\u2019Seperti kulit mangga, pisang, pepaya, dan sejenisnya,\u2019\u2019 kata Tatik.<\/p>\n<p>Nah, di saat wabah PMK menyerang Gresik dan daerah lainnya, eco-enzyme diklaim mampu mencegah ternak terpapar PMK. Sebab, eco-enzyme tersebut mampu membunuh bakteri-bakteri jahat.<\/p>\n<p>Biasanya, Tatik menggunakan eco-enzyme tersebut dengan cara menyemprotkan ke ternak. Baik pada hidung, mulut, maupun kaki. \u2019\u2019Ini sudah diteliti bisa mensterilkan kuman maupun bakteri. Sehingga bisa untuk mencegah ternak terpapar PMK,\u2019\u2019 ucapnya.<\/p>\n<p>Pembuatan eco-enzyme tersebut cukup mudah. Hanya dibutuhkan sampah organik dari hasil rumah tangga. Contoh saja sayuran yang tidak terpakai dan yang masih mentah. \u2019\u2019Ingat, sayuran yang belum dimasak,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Setelah sampah terkumpul, bahan itu dipotong menjadi kecil-kecil. Kemudian, dimasukkan ke larutan Molase dan didiamkan selama 90 hari. Setelah itu, cairan tersebut disaring dan diberi kadar Ph. Diketahui, eco-enzyme tersebut memiliki kadar Ph sampai 2,9. Artinya, bisa untuk mengobati luka, jantung, dan detoks pada kaki.<\/p>\n<p>Tatik menyarankan, di sebelah wadah itu diletakkan tanaman lidah mertua. Tujuannya, menetralkan gas metana. \u2019\u2019Jadi, untuk membuat komposisinya, 3 kilogram sisa buah dan sayuran, 1 kilogram gula merah atau Molase, dan 10 liter air. Kemudian, tutup rapat agar tidak ada udara yang masuk,\u2019\u2019 jelas Tatik.<\/p>\n<p>Saat ini pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pertanian Pemkab Gresik untuk melakukan sterilisasi di kandang-kandang ternak. Sebagaimana kemarin (1\/7) siang, Tatik melakukan sterilisasi di wilayah Randuagung. \u2019\u2019Semua bisa membuat sendiri di rumah karena bahannya dari sampah dapur yang belum dimasak,\u2019\u2019 tutupnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Sampah organik hasil dari rumah tangga memiliki banyak manfaat. Sebagaimana olahan sampah menjadi eco-enzyme yang ditekuni Relawan Eco-Enzyme Indonesia (REEI) Gresik. Eco-enzyme diklaim mampu mencegah ternak terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK). Ketua REEI Gresik Tatik Erawati menyatakan, eco-enzyme merupakan salah satu jalan untuk mengurangi sampah. Bahan-bahan untuk pembuatannya berasal dari sisa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51364,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[],"series":[],"class_list":["post-51363","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/51363","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=51363"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/51363\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/51364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=51363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=51363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=51363"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=51363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}