{"id":513885,"date":"2026-08-13T08:57:00","date_gmt":"2026-08-13T01:57:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/08\/13\/makan-demi-konten-nyawa-jadi-taruhan\/"},"modified":"2026-08-13T15:42:37","modified_gmt":"2026-08-13T08:42:37","slug":"makan-demi-konten-nyawa-jadi-taruhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/08\/13\/makan-demi-konten-nyawa-jadi-taruhan\/","title":{"rendered":"Makan Demi Konten, Nyawa Jadi Taruhan!"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><\/p>\n<p><b>BANDA ACEH<\/b> -PERCAYA atau tidak, tren makan di depan kamera ini bermula dari rasa kesepian.\u00a0<\/p>\n<p>Mukbang muncul di Korea Selatan pada awal 2010-an, lahir dari platform live streaming seperti AfreecaTV, di mana penonton bisa merasa &#8220;makan bersama&#8221; seseorang secara real-time.\u00a0<\/p>\n<p>Tren ini kemudian meluas besar-besaran ke negara-negara Barat sekitar tahun 2014.<\/p>\n<p>Di Indonesia sendiri, tren food vlogging mulai berkembang sejak awal 2010-an seiring munculnya YouTube, lalu semakin pesat lima tahun terakhir dengan hadirnya TikTok dan Instagram.\u00a0<\/p>\n<p>Nama-nama seperti Nex Carlos, Tanboy Kun, hingga Farida Nurhan pun lahir dan membesarkan industri review kuliner tanah air.<\/p>\n<p>Dari Pujian yang Menghidupkan, Hingga Kritik yang Mematikan Usaha<\/p>\n<p>Inilah sisi gelapnya: satu video bisa membuat warung kecil kebanjiran pembeli &#8212; atau justru bangkrut dalam semalam.\u00a0<\/p>\n<p>Kehadiran seorang reviewer makanan bisa meningkatkan atau menghancurkan reputasi restoran hanya lewat penilaian yang mereka sampaikan ke masyarakat luas.\u00a0<\/p>\n<p>Ulasan pedas soal rasa, kebersihan, atau pelayanan bisa menyebar viral dalam hitungan jam, dan bagi pelaku usaha kecil, itu bisa jadi pukulan telak yang sulit dipulihkan.<\/p>\n<p>Ketika &#8220;Makan Banyak&#8221; Berubah Jadi Ajang Taruhan Nyawa<\/p>\n<p>Semakin ekstrem kontennya, semakin viral &#8212; tapi harganya kadang nyawa.\u00a0<\/p>\n<p>Kasus paling mengerikan datang dari China: Pan Xiaoting, bintang mukbang berusia 24 tahun, meninggal saat live streaming.<\/p>\n<p>Lambung Pan Xiaoting benar-benar robek akibat kebiasaan makan lebih dari 10 kg makanan setiap sesi, tanpa jeda, hingga 10 jam sehari.\u00a0<\/p>\n<p>Ironisnya, ia sempat dirawat karena pendarahan lambung, namun kembali binge eating sehari setelah keluar rumah sakit.<\/p>\n<p>Kasus lain juga menghantui dunia mukbang: Efecan Kultur, mukbanger asal Turki berusia 24 tahun, meninggal akibat komplikasi obesitas setelah sempat tak bisa berdiri dan mengalami gangguan pernapasan.\u00a0<\/p>\n<p>Sementara itu, seorang YouTuber mukbang di Filipina meninggal karena serangan jantung sehari setelah mengunggah video makan besar-besaran.<\/p>\n<p>Dokter jantung pun angkat bicara: makan berlebihan dapat memberi tekanan besar pada jantung, terutama bagi mereka dengan hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.<\/p>\n<p>Di balik gemerlap subscriber dan endorse, industri food vlogger menyimpan dua wajah, kekuatan untuk mengangkat &#8212; dan menjatuhkan &#8212; usaha kecil, serta risiko kesehatan nyata bagi kreatornya sendiri.\u00a0<\/p>\n<p>Konten menghibur, tapi taruhannya kadang jauh lebih besar dari sekadar &#8220;views&#8221;.<\/p>\n<p>(Mantan Jurnalis\/Aktivis Media Sosial)<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/513885?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH -PERCAYA atau tidak, tren makan di depan kamera ini bermula dari rasa kesepian.\u00a0 Mukbang muncul di Korea Selatan pada awal 2010-an, lahir dari platform live streaming seperti AfreecaTV, di mana penonton bisa merasa &#8220;makan bersama&#8221; seseorang secara real-time.\u00a0 Tren ini kemudian meluas besar-besaran ke negara-negara Barat sekitar tahun 2014. Di Indonesia sendiri, tren [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":513886,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-513885","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/513885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=513885"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/513885\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/513886"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=513885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=513885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=513885"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=513885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}