{"id":517108,"date":"2026-09-05T09:01:00","date_gmt":"2026-09-05T02:01:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/09\/05\/gunung-anak-krakatau-erupsi-pvmbg-pastikan-belum-berpotensi-tsunami\/"},"modified":"2026-09-05T09:01:00","modified_gmt":"2026-09-05T02:01:00","slug":"gunung-anak-krakatau-erupsi-pvmbg-pastikan-belum-berpotensi-tsunami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/09\/05\/gunung-anak-krakatau-erupsi-pvmbg-pastikan-belum-berpotensi-tsunami\/","title":{"rendered":"Gunung Anak Krakatau Erupsi, PVMBG Pastikan Belum Berpotensi Tsunami"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH<\/strong>, LAMPUNG SELATAN \u2014 Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5\/9\/2026) pagi. Erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat (4\/9) pukul 23.07 WIB disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.<\/p>\n<p>Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menyaksikan maupun mendokumentasikan aktivitas erupsi. Hal itu karena masih terdapat potensi lontaran material vulkanik dari kawah aktif.<\/p>\n<p>Aktivitas tersebut juga memunculkan kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, mengenai kemungkinan tsunami. Kekhawatiran itu berkaitan dengan pengalaman tsunami pada 22 Desember 2018 yang terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Namun, berdasarkan hasil evaluasi PVMBG hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Masyarakat pun diimbau tidak panik dan tetap mengacu pada informasi resmi dari pemerintah.<\/p>\n<p>Meski demikian, PVMBG terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Masyarakat diminta tidak membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar. Setiap perkembangan signifikan akan disampaikan melalui kanal resmi pemerintah.<\/p>\n<h3>Fenomena Lava Fountain<\/h3>\n<p>Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan Sabtu (5\/9) pukul 00.00\u201306.00 WIB, erupsi masih berlangsung. Secara visual, aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena <strong>lava fountain<\/strong> atau lava air mancur yang teramati pada malam hari.<\/p>\n<p>Dalam pemantauan visual, gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0\u2013III. Sementara itu, asap kawah tidak teramati.<\/p>\n<p>Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik.<\/p>\n<p>Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi yang tercatat dalam laporan selama 21.600 detik.<\/p>\n<p>Kondisi cuaca di sekitar gunungapi terpantau berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut.<\/p>\n<p>Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada <strong>Level III (Siaga)<\/strong>. PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.<\/p>\n<h3>BNPB Minta Masyarakat Tidak Panik<\/h3>\n<p>Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menekankan pentingnya kewaspadaan yang diiringi ketenangan.<\/p>\n<p>Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tidak perlu panik terhadap isu tsunami. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah.<\/p>\n<p>BNPB menekankan tiga hal utama dalam menghadapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Pertama, <strong>keselamatan masyarakat menjadi prioritas<\/strong>. Pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada di radius bahaya. Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut perlu diperkuat untuk mencegah warga memasuki zona terlarang.<\/p>\n<p>Kedua, <strong>kesiapsiagaan perlu ditingkatkan<\/strong>. Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila terjadi perubahan aktivitas yang memerlukan evakuasi.<\/p>\n<p>Ketiga, <strong>masyarakat diminta mematuhi arahan petugas<\/strong>. Warga tidak perlu mendekati kawasan gunungapi hanya untuk menyaksikan atau merekam erupsi.<\/p>\n<p>Informasi yang belum terverifikasi, termasuk kabar mengenai potensi tsunami, juga diminta tidak disebarluaskan karena dapat memicu kepanikan.<\/p>\n<p>BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas vulkanik ataupun morfologi gunungapi.<\/p>\n<p>Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, BNPB, serta kanal resmi kebencanaan lainnya.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH, LAMPUNG SELATAN \u2014 Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5\/9\/2026) pagi. Erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat (4\/9) pukul 23.07 WIB disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":517110,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[1],"tags":[627,135312,1135,68,29381,124504,4033],"series":[],"class_list":["post-517108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-bnpb","tag-erupsi","tag-gunung-anak-krakatau","tag-headline","tag-lingkungan","tag-pvmbg","tag-tsunami"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/517108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=517108"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/517108\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/517110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=517108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=517108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=517108"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=517108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}