{"id":517492,"date":"2026-09-08T18:51:00","date_gmt":"2026-09-08T11:51:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/09\/08\/gunung-anak-krakatau-kembali-erupsi-aktivitas-vulkanik-masih-tinggi\/"},"modified":"2026-09-08T18:51:00","modified_gmt":"2026-09-08T11:51:00","slug":"gunung-anak-krakatau-kembali-erupsi-aktivitas-vulkanik-masih-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/09\/08\/gunung-anak-krakatau-kembali-erupsi-aktivitas-vulkanik-masih-tinggi\/","title":{"rendered":"Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA<\/strong> \u2014 Aktivitas <a title=\"Gunung Anak Krakatau\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/gunung-anak-krakatau\/\">Gunung Anak Krakatau<\/a> di Selat Sunda masih menunjukkan dinamika vulkanik pada Selasa (8\/9\/2026).<\/p>\n<p>Setelah sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, gunung api tersebut kembali mengalami erupsi pada Selasa pagi.<\/p>\n<p>Berdasarkan informasi Badan Geologi, erupsi terjadi pada pukul 05.34 WIB. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 44 milimeter dan berlangsung sekitar 10 detik.<\/p>\n<p>Meski terjadi letusan, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Sementara itu, pemantauan sebaran abu vulkanik menunjukkan material erupsi berada pada ketinggian sekitar 6.000 kaki atau 1,8 kilometer.<\/p>\n<p>Abu vulkanik bergerak ke arah selatan-barat daya, terutama menuju wilayah Samudra Hindia di sebelah barat laut Banten.<\/p>\n<p>Aktivitas tersebut menjadi perhatian karena Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga.<\/p>\n<h3>Aktivitas Erupsi Masih Berlangsung<\/h3>\n<p>Kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.<\/p>\n<p>Badan Geologi sebelumnya mencatat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sehingga statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026.<\/p>\n<p>Pada awal September, aktivitas gunung api tersebut kembali meningkat. Gunung Anak Krakatau bahkan sempat mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, sejak Jumat (4\/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6\/9) pukul 00.04 WIB.<\/p>\n<p>Setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, aktivitas vulkanik tidak sepenuhnya berhenti.<\/p>\n<p>Badan Geologi menyebut Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan pola letusan ringan yang terjadi secara berkala.<\/p>\n<p>Pemantauan pada 6\u20137 September juga masih menunjukkan dinamika kegempaan yang tinggi.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama karena muncul informasi yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan ancaman tsunami.<\/p>\n<p>Badan Geologi sebelumnya menegaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.<\/p>\n<p>Berdasarkan evaluasi saat itu, gunung tersebut tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.<\/p>\n<p>Kendati demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap dipantau secara intensif.<\/p>\n<p>Masyarakat diminta mengikuti perkembangan aktivitas gunung api hanya dari sumber resmi, seperti Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), MAGMA Indonesia, BPBD, serta pemerintah daerah.<\/p>\n<h3>Rangkaian Aktivitas Gunung Anak Krakatau<\/h3>\n<p>Sebagai konteks, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat setelah sempat mengalami jeda erupsi.<\/p>\n<p>Badan Geologi mencatat seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik berlangsung hingga awal September 2026.<\/p>\n<p>Kemudian, pada 5 September malam, terjadi episode erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Fenomena tersebut berakhir pada 6 September dini hari.<\/p>\n<p>Namun, aktivitas vulkanik masih tinggi sehingga potensi terjadinya letusan susulan tetap menjadi perhatian.<\/p>\n<p>Kepala Badan Geologi Lana Saria sebelumnya menyatakan kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi.<\/p>\n<p>Potensi bahaya utama meliputi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.<\/p>\n<p>Dengan kembali terjadinya erupsi pada Selasa pagi, masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau terus memantau informasi resmi dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan Badan Geologi.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan dinamika vulkanik pada Selasa (8\/9\/2026).<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":517493,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"Gunung Anak Krakatau","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[1],"tags":[330370,372146,1135,29381,124504,125332],"series":[],"class_list":["post-517492","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-badan-geologi","tag-erupsi-gunung-api","tag-gunung-anak-krakatau","tag-lingkungan","tag-pvmbg","tag-selat-sunda"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/517492","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=517492"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/517492\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/517493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=517492"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=517492"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=517492"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=517492"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}