{"id":520810,"date":"2026-09-15T01:44:00","date_gmt":"2026-09-14T18:44:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/09\/15\/joel-kande-seni-aceh-tak-boleh-sekadar-tontonan-harus-jadi-suara-rakyat\/"},"modified":"2026-09-15T01:44:00","modified_gmt":"2026-09-14T18:44:00","slug":"joel-kande-seni-aceh-tak-boleh-sekadar-tontonan-harus-jadi-suara-rakyat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/09\/15\/joel-kande-seni-aceh-tak-boleh-sekadar-tontonan-harus-jadi-suara-rakyat\/","title":{"rendered":"Joel Kande: Seni Aceh Tak Boleh Sekadar Tontonan, Harus Jadi Suara Rakyat"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH<\/strong>\u00a0\u2014 <a title=\"Kesenian Aceh\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/kesenian-aceh\/\">Kesenian Aceh<\/a> dinilai sedang menghadapi persoalan serius. Persoalan tersebut bukan semata menyangkut kualitas pertunjukan, tetapi juga semakin berkurangnya daya pikir dan keberanian seni dalam membaca realitas kehidupan.<\/p>\n<p>Seniman tradisi Aceh, Zulkifli alias <a title=\"Joel Kande\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/joel-kande\/\">Joel Kande<\/a>, menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pendangkalan dalam berkesenian.<\/p>\n<p>Menurut Joel Kande, sejak dahulu para guru dan sheikh mengajarkan bahwa kesenian Aceh bukan sekadar sarana hiburan. Seni memiliki fungsi penting untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan kehidupan.<\/p>\n<p>\u201cTujuan dan fungsi kesenian Aceh itu adalah untuk menyampaikan pandangan atau menyampaikan segala sesuatu. Entah itu ekonomi, politik, pendidikan, agama, maupun peristiwa kekinian yang terjadi di lingkungan,\u201d ujar Joel di Senin (14\/9\/2026).<\/p>\n<p>Ia menilai fungsi tersebut kini mulai bergeser. Seni Aceh, katanya, semakin sering ditempatkan hanya sebagai tontonan untuk menghibur masyarakat.<\/p>\n<p>Padahal, menurut Joel, hiburan seharusnya hanya menjadi bonus dalam berkesenian, bukan tujuan utama.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita amati peristiwa hari ini, rupanya sudah bergeser. Hari ini kesenian Aceh bukan lagi untuk menyampaikan pandangan, tetapi tujuannya untuk menghibur,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Joel menilai persoalan lainnya terlihat dari minimnya karya dan lirik baru yang mampu membaca perubahan zaman. Banyak pertunjukan masih mengandalkan lirik-lirik lama yang sudah sangat dikenal masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cDinamika keseharian, lingkungan, daerah, agama, negara, semuanya berubah. Ini harus disampaikan dalam kacamata seni. Nah, bagian ini yang kita alpa,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Joel, seniman Aceh harus kembali menghadirkan kekuatan intelektualitas melalui karya. Hal itu dapat dilakukan melalui karya-karya baru maupun dengan menghidupkan kembali repertoar klasik dan tradisional dalam konteks kekinian.<\/p>\n<p>Ia mendorong lahirnya lirik-lirik baru yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga mampu berbicara tentang berbagai persoalan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cBicara politik melalui seni, bicara ekonomi melalui seni, bicara pendidikan melalui seni, bicara agama melalui seni. Nggak usah takut salah,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Bagi Joel, kesalahan dalam berkarya bukan alasan untuk berhenti menciptakan karya. Justru, katanya, yang lebih berbahaya adalah ketika seniman terlalu takut salah hingga akhirnya tidak melakukan apa-apa.<\/p>\n<p>\u201cTakutlah ketika kita merasa karena takut salah tidak mau buat apa-apa. Itu saya rasa lebih bahaya daripada kita melakukan sesuatu yang salah. Setelah itu kita sadar, maka kita berubah untuk menjadi yang benar,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Joel juga mengkritik kecenderungan yang ingin memisahkan seni dari persoalan sosial di sekitarnya. Menurut dia, anggapan bahwa seni hanya boleh berbicara mengenai estetika merupakan pandangan yang terlalu sempit.<\/p>\n<p>\u201cSeni itu harus dapat melogikakan apa pun yang terjadi di ruang lingkungan kita. Kita berkesenian, kita suarakan lewat seni,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Joel menjelaskan, seni memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan sebuah pandangan. Pesan yang disampaikan melalui karya seni, menurutnya, dapat diterima masyarakat dengan cara yang berbeda dibandingkan ketika pesan yang sama disampaikan oleh politisi atau pejabat.<\/p>\n<p>\u201cKetika politisi menyampaikan, pejabat menyampaikan, seni menyampaikan pandangan itu berbeda,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, ia melihat seni masih memiliki ruang besar untuk menjadi media refleksi sekaligus kritik terhadap kondisi sosial Aceh.<\/p>\n<p>Joel bahkan menilai ada nilai kejujuran tersendiri ketika sebuah persoalan disampaikan melalui seni tanpa kepentingan politik praktis.<\/p>\n<p>\u201cKejujuran dalam berpandangan ini masih unggul sedikit ketika seni menyampaikan pandangannya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bagi Joel Kande, menghidupkan kembali fungsi kritis seni bukan berarti menjadikan setiap karya sebagai propaganda. Sebaliknya, seni justru harus kembali menjadi ruang tempat masyarakat berpikir, merasakan, sekaligus membaca perubahan zaman.<\/p>\n<p>Seni Aceh, menurutnya, jangan sampai hanya terdengar merdu di panggung, tetapi kehilangan suara ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan.<\/p>\n<p>Zulkifli alias Joel Kande dikenal sebagai pegiat musik tradisional Aceh dan pendiri grup Bur\u2019am. Ia bersama kelompoknya pernah meraih Aga Khan Music Awards 2022 untuk kategori musik tradisional, sebuah penghargaan internasional yang diberikan di Royal Opera House, Muscat, Oman.<\/p>\n<p>Pandangan Joel tersebut kembali menegaskan bahwa menjaga tradisi bukan hanya soal mempertahankan bentuk lama, tetapi juga memastikan seni tradisi tetap mampu berbicara tentang zaman yang terus berubah.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seniman tradisi Aceh, Zulkifli alias Joel Kande, menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pendangkalan dalam berkesenian.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":520811,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"joel kande","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[35],"tags":[292979,319718,370718,372324,372325,372326,13434],"series":[],"class_list":["post-520810","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-budaya-aceh","tag-seniman-aceh","tag-seni-aceh","tag-joel-kande","tag-kesenian-aceh","tag-seni-tradisional","tag-aceh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/520810","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=520810"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/520810\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/520811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=520810"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=520810"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=520810"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=520810"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}