{"id":524260,"date":"2026-10-04T18:40:58","date_gmt":"2026-10-04T11:40:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=524260"},"modified":"2026-10-04T20:16:41","modified_gmt":"2026-10-04T13:16:41","slug":"afifah-afrah-ajak-generasi-muda-peduli-kehutanan-di-forest-youthverse-resilience-summit-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/04\/afifah-afrah-ajak-generasi-muda-peduli-kehutanan-di-forest-youthverse-resilience-summit-2026\/","title":{"rendered":"Afifah Afrah Ajak Generasi Muda Peduli Kehutanan di Forest Youthverse Resilience Summit 2026"},"content":{"rendered":"<p><strong>MEDAN &#8211;<\/strong> Bagaimana jika menjaga hutan ternyata bukan hanya tentang pohon?<\/p>\n<p>Di balik hamparan hutan yang tampak hijau, terdapat jaringan kehidupan yang jauh lebih kompleks: air yang terus bergerak, tanah yang menopang vegetasi, satwa yang bergantung pada habitat, mikroorganisme yang menjaga siklus materi, hingga manusia yang kehidupannya turut dipengaruhi oleh keberadaan ekosistem tersebut.<\/p>\n<p>Ketika satu bagian mengalami tekanan, dampaknya dapat menjalar ke berbagai bagian lainnya. Karena itu, pertanyaan tentang hutan pada akhirnya bukan sekadar berapa banyak pohon yang masih berdiri, melainkan seberapa kuat ekosistem mampu mempertahankan kehidupannya dan seberapa jauh manusia bersedia mengambil bagian dalam menjaganya.<\/p>\n<p>Pertanyaan tersebut menemukan ruang refleksinya dalam <a title=\"Forest Youthverse Resilience Summit 2026\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/forest-youthverse-resilience-summit-2026\/\">Forest Youthverse Resilience Summit 2026<\/a>, sebuah ruang pembelajaran dan kolaborasi yang dikembangkan Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) untuk memperkuat kapasitas generasi muda dalam isu kehutanan, konservasi, keanekaragaman hayati, inovasi, dan ketahanan lingkungan.<\/p>\n<p>Di Sumatera Utara, rangkaian kegiatan <a title=\"Forest Youthverse\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/forest-youthverse\/\">Forest Youthverse<\/a> mempertemukan mahasiswa, dan berbagai unsur generasi muda dalam proses belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman langsung di lapangan.<\/p>\n<p>Salah satu peserta yang mengikuti proses tersebut adalah <a title=\"Afifah Afrah\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/afifah-afrah\/\">Afifah Afrah<\/a>, mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Alumni MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan tersebut sebelumnya lebih banyak mengenal persoalan lingkungan melalui riset, karya tulis ilmiah, kompetisi inovasi, dan pengembangan gagasan berbasis sains.<\/p>\n<p>Forest Youthverse kemudian membuka ruang pengalaman yang berbeda: mempertemukan pengetahuan yang selama ini dibangun melalui penelitian dengan realitas ekosistem hutan yang dapat diamati secara langsung.<\/p>\n<h3>Ketika Riset Membuka Jalan Menuju Konservasi<\/h3>\n<p>Sebelum mengikuti Forest Youthverse, Afifah telah membangun pengalaman di bidang riset dan inovasi lingkungan sejak bangku sekolah.<\/p>\n<p>Ia pernah meraih Juara Harapan II Inovasi Daerah Sumatera Utara, Juara I Business Plan Universitas Indonesia, peringkat tujuh Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional di Institut Teknologi Bandung, serta Medali Perak dalam Ajang Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI).<\/p>\n<p>Pengalamannya juga mencakup penulisan dan pengembangan karya ilmiah pada bidang matematika, sains, teknologi, dan lingkungan.<\/p>\n<p>Rangkaian pengalaman tersebut membentuk kebiasaan untuk melihat persoalan lingkungan bukan semata sebagai fenomena, melainkan sebagai persoalan yang perlu dipahami melalui data, observasi, analisis, dan pencarian solusi.<\/p>\n<p>Namun, riset pada akhirnya memiliki batas apabila berhenti pada hasil tulisan atau prototipe. Persoalan ekologis membutuhkan pemahaman terhadap konteks tempat, karakter ekosistem, aktivitas manusia, serta hubungan antarkomponen yang membentuk suatu lanskap.<\/p>\n<p>Di titik inilah Forest Youthverse menghadirkan cakrawala baru bagi Afifah.<\/p>\n<p>Kehutanan tidak lagi dipandang hanya dari sisi hasil penelitian atau isu lingkungan secara umum, melainkan sebagai bidang yang memiliki dimensi ekologis, sosial, kelembagaan, dan pengelolaan kawasan yang saling berkaitan.<\/p>\n<p>Konservasi pun menjadi lebih dari sekadar upaya mempertahankan keberadaan suatu spesies. Konservasi menyangkut bagaimana sebuah ekosistem dapat tetap berfungsi dan memiliki kemampuan menghadapi berbagai tekanan.<\/p>\n<p>Pemahaman tersebut sejalan dengan arah Forest Youthverse yang menempatkan generasi muda sebagai bagian dari ekosistem pelestarian hutan, bukan sekadar penerima informasi.<\/p>\n<p>Peserta didorong untuk belajar, membangun jejaring, mengembangkan inovasi, dan menerjemahkan kepedulian terhadap hutan ke dalam aksi yang sesuai dengan kapasitas masing-masing.<\/p>\n<p>Bagi Afifah, pengalaman tersebut menjadi jembatan antara dua ruang yang selama ini berjalan beriringan: dunia riset dan dunia konservasi.<\/p>\n<p>Kemampuan meneliti dapat menjadi modal untuk memahami persoalan kehutanan, sementara pengalaman lapangan dapat memperkaya cara seorang peneliti dalam merumuskan pertanyaan dan solusi.<\/p>\n<h3>Menapaki Hutan, Membaca Lanskap TWA Sibolangit<\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"830\" height=\"553\" class=\"size-medium wp-image-524263 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0055-830x553.jpg\" alt=\"img 20261004 wa0055\" srcset=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0055-830x553.jpg 830w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0055-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0055-750x500.jpg 750w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0055-1140x760.jpg 1140w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0055.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px\" \/><\/p>\n<p>Salah satu pengalaman yang memberikan warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan Forest Youthverse adalah ketika peserta berhadapan langsung dengan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit.<\/p>\n<p>Berada di kawasan hutan menghadirkan pengalaman yang berbeda dari membaca data, artikel ilmiah, maupun gambar ekosistem di dalam ruang kelas.<\/p>\n<p>Hutan menjadi sesuatu yang dapat diamati melalui lanskap, vegetasi, kondisi tanah, keberadaan organisme, aliran air, serta interaksi antara manusia dan ruang alam.<\/p>\n<p>Pengalaman lapangan semacam ini penting dalam pembelajaran kehutanan karena sebuah kawasan tidak dapat dipahami hanya melalui satu indikator.<\/p>\n<p>Tutupan vegetasi, misalnya, hanyalah salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar. Di baliknya terdapat struktur habitat, kondisi tanah, siklus air, hubungan antarmakhluk hidup, serta aktivitas manusia yang turut mempengaruhi dinamika ekosistem.<\/p>\n<p>Bagi generasi muda yang datang dari latar belakang berbeda, pembelajaran di lapangan juga membuka kesempatan untuk melihat hutan melalui perspektif yang lebih luas.<\/p>\n<p>Mahasiswa dengan latar belakang kehutanan dapat melihat aspek pengelolaan kawasan. Mahasiswa kesehatan masyarakat dapat membaca keterkaitan antara kualitas lingkungan dan kehidupan manusia. Peserta dengan latar belakang teknologi dapat melihat peluang pemanfaatan data dan inovasi, sedangkan mereka yang aktif dalam komunikasi dapat memikirkan bagaimana isu kehutanan diterjemahkan menjadi pesan yang mudah dipahami masyarakat.<\/p>\n<p>Perbedaan perspektif tersebut justru menjadi kekuatan.<\/p>\n<p>Pelestarian hutan merupakan persoalan kompleks yang tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja. Pengelolaan kawasan membutuhkan pengetahuan ekologis, data, kebijakan, partisipasi masyarakat, komunikasi publik, inovasi, serta keberlanjutan aksi di tingkat tapak.<\/p>\n<p>Melalui pengalaman menapaki kawasan hutan, Afifah memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa konservasi bukan hanya sesuatu yang dibicarakan di atas kertas.<\/p>\n<p>Konservasi hadir dalam kondisi nyata suatu kawasan, dalam keberadaan biodiversitas, dalam cara manusia berinteraksi dengan alam, serta dalam keputusan-keputusan yang menentukan apakah fungsi ekologis suatu kawasan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.<\/p>\n<h3>Saat Biodiversitas Menjadi Jaringan Kehidupan<\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"830\" height=\"553\" class=\"size-medium wp-image-524264 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0053-830x553.jpg\" alt=\"img 20261004 wa0053\" srcset=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0053-830x553.jpg 830w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0053-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0053-750x500.jpg 750w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0053-1140x760.jpg 1140w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0053.jpg 1296w\" sizes=\"auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px\" \/><\/p>\n<p>Salah satu hal yang semakin penting ketika berbicara mengenai kehutanan adalah cara memandang biodiversitas.<\/p>\n<p>Keanekaragaman hayati tidak hanya berarti banyaknya jenis tumbuhan dan satwa yang hidup di dalam hutan. Lebih jauh, biodiversitas merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang membentuk dan menopang fungsi suatu ekosistem.<\/p>\n<p>Satu spesies dapat memiliki hubungan dengan spesies lain melalui proses penyerbukan, penyebaran biji, rantai makanan, penyediaan habitat, hingga berbagai interaksi ekologis lainnya.<\/p>\n<p>Tumbuhan, satwa, mikroorganisme, tanah, air, dan faktor lingkungan bekerja dalam hubungan yang saling mempengaruhi. Karena itu, hilangnya satu komponen ekosistem dalam kondisi tertentu dapat membawa konsekuensi yang lebih luas daripada yang terlihat secara langsung.<\/p>\n<p>Cara pandang seperti ini membuat konservasi tidak cukup hanya berorientasi pada penyelamatan spesies tertentu.<\/p>\n<p>Perlindungan habitat, konektivitas kawasan, pemulihan ekosistem, pengendalian tekanan terhadap lingkungan, serta penguatan pengetahuan tentang biodiversitas menjadi bagian yang sama pentingnya.<\/p>\n<p>Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki ruang kontribusi yang luas.<\/p>\n<p>Kemajuan teknologi memungkinkan anak muda terlibat dalam dokumentasi biodiversitas, pemetaan, pengolahan data, edukasi, kampanye konservasi, hingga pengembangan inovasi.<\/p>\n<p>Sementara itu, kemampuan komunikasi dapat membantu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan hutan.<\/p>\n<p>Forest Youthverse memberikan konteks bagi proses tersebut dengan mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang dan mendorong mereka melihat biodiversitas sebagai persoalan bersama.<\/p>\n<p>Bagi Afifah, perspektif tersebut memperluas cara memandang lingkungan.<\/p>\n<p>Hutan tidak lagi hanya menjadi objek yang diamati, tetapi sebuah sistem kehidupan yang perlu dipahami hubungan dan proses di dalamnya.<\/p>\n<p>Dari sana, konservasi dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan keberlanjutan fungsi ekosistem, bukan sekadar mempertahankan pemandangan hijau.<\/p>\n<h3>Ketika Hutan Diuji, Seberapa Tangguh Ekosistem Bertahan?<\/h3>\n<p>Kata resilience atau ketahanan menjadi salah satu gagasan penting dalam Forest Youthverse Resilience Summit.<\/p>\n<p>Dalam konteks ekologi, ketahanan merujuk pada kemampuan suatu ekosistem menghadapi tekanan, mempertahankan fungsi pentingnya, dan dalam kondisi tertentu mengalami pemulihan setelah mengalami gangguan.<\/p>\n<p>Hutan menghadapi berbagai bentuk tekanan, mulai dari perubahan penggunaan lahan, degradasi habitat, fragmentasi, tekanan terhadap keanekaragaman hayati, hingga perubahan kondisi iklim dan berbagai gangguan ekologis lainnya.<\/p>\n<p>Besarnya tekanan tersebut dapat berbeda pada setiap wilayah. Karena itu, respons pengelolaan juga perlu mempertimbangkan karakter lanskap, kondisi sosial, serta kapasitas masyarakat dan institusi yang terlibat.<\/p>\n<p>Membangun ketahanan ekosistem tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.<\/p>\n<p>Diperlukan pemahaman terhadap kondisi kawasan, penguatan pemantauan, pengelolaan berbasis data, rehabilitasi atau restorasi pada lokasi yang membutuhkan, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan generasi muda.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika kehutanan dihubungkan dengan isu kebencanaan.<\/p>\n<p>Hutan dan lanskap yang dikelola dengan baik memiliki fungsi ekologis penting, termasuk dalam menjaga tata air, kestabilan tanah, dan kualitas habitat.<\/p>\n<p>Namun, ketahanan suatu wilayah terhadap bencana dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, pengelolaan hutan merupakan salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengurangi kerentanan masyarakat dan lingkungan.<\/p>\n<p>Di sinilah pengalaman Forest Youthverse menjadi penting bagi Afifah.<\/p>\n<p>Sebelumnya, ia terbiasa mendekati persoalan lingkungan melalui penelitian dan inovasi. Melalui kegiatan ini, ia memperoleh perspektif bahwa solusi ekologis juga membutuhkan pemahaman terhadap kawasan, tata kelola, perilaku manusia, serta keberlanjutan aksi setelah sebuah program selesai.<\/p>\n<h3>Dari Hutan untuk Memahami Kehidupan Manusia<\/h3>\n<p>Meski menempuh pendidikan di bidang Kesehatan Masyarakat, Afifah menemukan bahwa perspektif tersebut memiliki titik temu yang kuat dengan kehutanan.<\/p>\n<p>Kesehatan masyarakat pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Kondisi lingkungan tempat manusia hidup dapat mempengaruhi kualitas kehidupan, sementara perubahan lingkungan juga dapat menciptakan berbagai bentuk kerentanan bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Dalam kerangka tersebut, hutan dapat dipandang sebagai bagian dari sistem pendukung kehidupan.<\/p>\n<p>Hutan menyediakan berbagai jasa ekosistem dan berperan dalam menjaga fungsi ekologis yang pada akhirnya berhubungan dengan kehidupan manusia. Ketika kualitas lingkungan terganggu, dampaknya dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tidak selalu dirasakan secara langsung.<\/p>\n<p>Perspektif kesehatan masyarakat membuat Afifah semakin melihat pentingnya pendekatan lintas sektor dalam persoalan kehutanan.<\/p>\n<p>Perlindungan hutan tidak hanya menjadi urusan pengelola kawasan atau pemerintah. Ada ruang bagi tenaga kesehatan, peneliti, akademisi, pendidik, komunikator, inovator, komunitas, hingga masyarakat lokal untuk berkontribusi sesuai kompetensinya.<\/p>\n<p>Hal tersebut memperlihatkan mengapa keterlibatan generasi muda dalam isu kehutanan tidak harus dibatasi oleh latar belakang pendidikan.<\/p>\n<p>Justru, keberagaman keahlian dapat memperkaya pendekatan terhadap persoalan yang sama.<\/p>\n<p>Mahasiswa kesehatan masyarakat dapat membawa perspektif kesehatan dan perilaku masyarakat. Mahasiswa teknologi dapat mengembangkan sistem pemantauan. Mahasiswa komunikasi dapat memperkuat literasi publik. Sementara mahasiswa kehutanan memiliki kompetensi khusus dalam pengelolaan ekosistem hutan.<\/p>\n<p>Ketika perspektif tersebut dipertemukan, kehutanan dapat dipahami sebagai persoalan yang memiliki banyak pintu masuk.<\/p>\n<p>Tujuan akhirnya tetap sama: menjaga fungsi hutan dan biodiversitas sekaligus memastikan pengelolaannya mampu mendukung kehidupan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai penting yang dibawa Afifah dari Forest Youthverse.<\/p>\n<p>Ia tidak harus menjadi mahasiswa kehutanan untuk memiliki kepedulian terhadap hutan. Sebaliknya, latar belakang kesehatan masyarakat dan pengalaman riset yang dimilikinya dapat menjadi bagian dari kontribusi yang lebih luas bagi isu konservasi dan ketahanan lingkungan.<\/p>\n<h3>Generasi Muda dan Masa Depan Hutan<\/h3>\n<p style=\"text-align: right;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"830\" height=\"623\" class=\"size-medium wp-image-524265 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0066-830x623.jpg\" alt=\"img 20261004 wa0066\" srcset=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0066-830x623.jpg 830w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0066-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0066-750x563.jpg 750w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0066-1140x855.jpg 1140w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0066.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px\" \/><\/p>\n<p>Forest Youthverse pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah rangkaian kegiatan atau pengalaman berada di kawasan hutan.<\/p>\n<p>Lebih dari itu, program ini memperlihatkan bagaimana generasi muda dapat diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pelestarian hutan.<\/p>\n<p>Kementerian Kehutanan melalui Pusgenri menempatkan pengembangan kapasitas, kolaborasi, inovasi, dan aksi sebagai bagian penting dalam membangun generasi pelestari hutan.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut penting karena tantangan kehutanan Indonesia terus berkembang.<\/p>\n<p>Konservasi membutuhkan generasi yang mampu memahami data, membaca perubahan lingkungan, berkomunikasi dengan masyarakat, menggunakan teknologi secara tepat, serta memiliki kemampuan bekerja lintas disiplin.<\/p>\n<p>Kepedulian saja tidak cukup apabila tidak disertai kapasitas untuk memahami persoalan dan merancang tindakan yang relevan.<\/p>\n<p>Bagi Afifah, Forest Youthverse menjadi ruang untuk memperluas identitasnya sebagai mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada riset.<\/p>\n<p>Jika sebelumnya riset lingkungan lebih banyak membawanya pada pertanyaan tentang bagaimana suatu masalah dapat dianalisis dan diselesaikan, pengalaman di lapangan memperkenalkan pertanyaan lain yang tidak kalah penting:<\/p>\n<p>Bagaimana solusi tersebut dapat ditempatkan dalam konteks ekosistem dan masyarakat yang nyata?<\/p>\n<p>Pertanyaan itu menjadi penting bagi generasi muda yang akan hidup di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks.<\/p>\n<p>Masa depan kehutanan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang memahami hutan secara teknis, tetapi juga generasi yang mampu membangun jembatan antara ilmu pengetahuan, masyarakat, inovasi, dan kebijakan.<\/p>\n<p>Perjalanan Afifah dari dunia riset menuju pengalaman langsung di kawasan hutan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh melalui banyak jalur.<\/p>\n<p>Seorang mahasiswa kesehatan masyarakat dapat memasuki isu kehutanan melalui riset. Seorang inovator dapat berkontribusi melalui teknologi. Seorang komunikator dapat memperkuat literasi publik. Dan generasi muda di daerah dapat memulai perubahan dari lingkungan yang paling dekat dengannya.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, menjaga hutan bukan sekadar tentang mempertahankan pepohonan tetap berdiri.<\/p>\n<p>Ia adalah upaya menjaga habitat, biodiversitas, fungsi ekologis, dan ruang kehidupan yang menopang masyarakat.<\/p>\n<p>Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi semakin penting, bukan hanya untuk berbicara tentang masa depan hutan, tetapi untuk mulai memahami, menjaga, dan mengambil bagian di dalamnya sejak sekarang.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"830\" height=\"553\" class=\"size-medium wp-image-524266 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0052-830x553.jpg\" alt=\"img 20261004 wa0052\" srcset=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0052-830x553.jpg 830w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0052-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0052-750x500.jpg 750w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0052-1140x760.jpg 1140w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/10\/img-20261004-wa0052.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px\" \/><\/p>\n<p>Forest Youthverse Resilience Summit 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan proses tersebut: pengetahuan dengan pengalaman, riset dengan lapangan, kepedulian dengan aksi, serta generasi muda dengan masa depan kehutanan Indonesia.<\/p>\n<p>Dari sana, perjalanan Afifah Afrah tidak berhenti pada pengalaman menapaki hutan. Lebih jauh, pengalaman tersebut menjadi titik tumbuh bagi cara pandang baru dalam memahami hubungan antara ekosistem, manusia, dan keberlanjutan kehidupan.<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/524260?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Sumatera Utara, rangkaian kegiatan Forest Youthverse mempertemukan mahasiswa, dan berbagai unsur generasi muda dalam proses belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman langsung di lapangan.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":524261,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"1","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"Forest Youthverse,Afifah Afrah","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[1],"tags":[372706,329380,372705],"series":[],"class_list":["post-524260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-afifah-afrah","tag-forest-youthverse","tag-forest-youthverse-resilience-summit-2026"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/524260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=524260"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/524260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":524284,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/524260\/revisions\/524284"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/524261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=524260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=524260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=524260"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=524260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}