{"id":525703,"date":"2026-10-13T14:09:00","date_gmt":"2026-10-13T07:09:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/13\/jepang-pulang-klaim-indonesia-bisa-tangani-karhutla-sendiri-bikin-netizen-protes\/"},"modified":"2026-10-13T15:32:36","modified_gmt":"2026-10-13T08:32:36","slug":"jepang-pulang-klaim-indonesia-bisa-tangani-karhutla-sendiri-bikin-netizen-protes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/13\/jepang-pulang-klaim-indonesia-bisa-tangani-karhutla-sendiri-bikin-netizen-protes\/","title":{"rendered":"Jepang Pulang, Klaim Indonesia Bisa Tangani Karhutla Sendiri Bikin Netizen Protes"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><\/p>\n<p><b>BANDA ACEH<\/b>\u00a0 &#8211; Rilis resmi Kementerian Pertahanan Jepang soal penghentian misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia ramai disorot warganet. Mereka mempertanyakan pernyataan bahwa Indonesia bisa menangani karhutla sendiri, sementara kebakaran dan kabut asap masih berdampak hingga ke negara tetangga.<\/p>\n<p>Sorotan warganet merujuk pada siaran pers Kementerian Pertahanan Jepang tertanggal 29 September 2026 di website Kementerian Pertahanan Jepang. Dalam dokumen tersebut, pemerintah Indonesia disebut menyampaikan bahwa penanganan karhutla selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri.<\/p>\n<p>\u201cThe Government of Indonesia informed Japan that the firefighting operations conducted by the Japan Self-Defense Forces had contributed to preventing the spread of the forest fires and that further response efforts could be handled by the Government of Indonesia,\u201d tulis Kementerian Pertahanan Jepang dalam poin ketiga rilisnya.<\/p>\n<p>Pernyataan itu berarti Indonesia disebut mengakui kontribusi operasi Jepang dalam mencegah meluasnya kebakaran. Namun, dokumen tersebut tidak menyebut seluruh titik api telah padam atau ancaman karhutla sudah berakhir.<\/p>\n<p>Dalam poin keempat, Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan telah memerintahkan pengakhiran operasi bantuan darurat internasional di Indonesia. Pasukan Jepang dijadwalkan kembali ke negaranya setelah menyelesaikan operasi pemadaman yang direncanakan dan persiapan kepulangan.<\/p>\n<p>Tangkapan layar rilis Kementerian Pertahanan Jepang yang menyebut pemerintah Indonesia bisa menyelesaikan problem karhutla.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut lantas memicu polemik di media sosial. Sejumlah warganet menilai pemerintah terlalu pongah karena disebut menyatakan mampu menangani karhutla sendiri, sementara hingga kini belum ada penjelasan resmi yang memadai mengenai dasar penilaian tersebut. Di sisi lain, warga di sejumlah wilayah Kalimantan masih menghadapi kabut asap yang mengganggu pernapasan. Kondisi itu dinilai tidak sejalan dengan pernyataan bahwa penanganan karhutla selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri.<\/p>\n<p>BNPB Apresiasi Bantuan Jepan<\/p>\n<p>Terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengapresiasi dukungan Pasukan Bela Diri Jepang atau Self-Defense Forces (SDF) dalam membantu pemadaman karhutla di wilayah Kalimantan. Dalam siaran pers pada 30 September, BNPB juga menyampaikan bahwa bantuan Jepang telah membantu mencegah meluasnya kebakaran.<\/p>\n<p>BNPB mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi yang menyebut Indonesia mampu melanjutkan pengendalian dan penanganan karhutla. Namun, siaran pers tersebut tidak merinci indikator yang digunakan untuk menilai kemampuan penanganan secara mandiri.<\/p>\n<p>Selama bertugas, tiga helikopter CH-47 Chinook milik Jepang melakukan sekitar 40 operasi udara dengan menjatuhkan lebih dari 220 ton air. Operasi pengeboman air atau water bombing tersebut berlangsung sejak 16 September di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, termasuk Pontianak dan Ketapang.<\/p>\n<p>Helikopter dan personel Jepang tiba di Pelabuhan Kijing, Kalimantan Barat, pada 10 September setelah bertolak dari Pelabuhan Kure, Prefektur Hiroshima, pada 30 Agustus. BNPB menyebut pengerahan tersebut menjadi kali pertama militer Jepang menjalankan operasi pemadaman karhutla dalam misi luar negeri.<\/p>\n<p>Bantuan itu merupakan bagian dari kerja sama Kementerian Pertahanan kedua negara dalam operasi kemanusiaan dan bidang pertahanan lainnya. Jepang kemudian mengakhiri dukungan pemadaman pada 29 September setelah berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia.<\/p>\n<p>Malaysia Belum Terima Respons<\/p>\n<p>Di tengah polemik tersebut, Malaysia mengaku belum menerima respons resmi dari Indonesia atas tawaran bantuan pemadaman karhutla. Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi menyampaikan hal itu kepada wartawan setelah meresmikan Bulan Kesiapsiagaan Nasional 2026 di Ipoh Convention Centre, Selasa (13\/10).<\/p>\n<p>Ahmad Zahid mengatakan Malaysia telah menawarkan satu pesawat pemadam kebakaran, tiga helikopter, dan 52 personel untuk membantu operasi pemadaman di Indonesia. Tawaran itu, menurut dia, telah dibicarakan dalam pertemuannya dengan Presiden Indonesia <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/prabowo-subianto\/\">Prabowo Subianto<\/a> dan perwakilan Wakil Presiden saat berkunjung ke Jakarta pada September lalu.<\/p>\n<p>Namun, hingga Selasa (13\/10), pemerintah Malaysia masih menunggu tanggapan dari Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia (NADMA) dan Kementerian Luar Negeri Malaysia juga disebut telah mengirimkan surat kepada mitra masing-masing, tetapi belum mendapat respons.<\/p>\n<p>\u201cBadan Nasional Penanggulangan Bencana (Nadma) dan Kementerian Luar Negeri juga telah mengirimkan surat kepada mitra masing-masing, tetapi belum ada respons,\u201d kata Ahmad Zahid kepada wartawan, dikutip Malay Mail.<\/p>\n<p>Meski belum mendapat jawaban, Ahmad Zahid berusaha menanggapi situasi tersebut secara positif. \u201cKami berpandangan positif bahwa mungkin mereka tidak memerlukan bantuan kami,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut belum bisa dimaknai sebagai bukti bahwa Indonesia menolak bantuan Malaysia. Hingga keterangan itu disampaikan, belum ada keputusan resmi Indonesia untuk menerima ataupun menolak tawaran tersebut.<\/p>\n<p>Tawaran bantuan Malaysia muncul ketika dampak karhutla di Sumatera dan Kalimantan menjadi perhatian kawasan. Kabut asap yang terbawa angin telah memasuki wilayah Malaysia dan memicu persoalan kualitas udara.<\/p>\n<p>Reuters melaporkan pada 9 Oktober bahwa Malaysia menutup sekolah di sejumlah wilayah akibat kualitas udara yang tidak sehat. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menyatakan negaranya siap menawarkan bantuan untuk menangani persoalan kabut asap.<\/p>\n<p>Singapura turut menyatakan kesiapan membantu Indonesia memadamkan kebakaran hutan jika diperlukan. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu mengatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Jumhur Hidayat pada 10 Oktober.<\/p>\n<p>Perkembangan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah Indonesia. Penanganannya juga berkaitan dengan kualitas udara dan aktivitas masyarakat di negara tetangga<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/525703?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH\u00a0 &#8211; Rilis resmi Kementerian Pertahanan Jepang soal penghentian misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia ramai disorot warganet. Mereka mempertanyakan pernyataan bahwa Indonesia bisa menangani karhutla sendiri, sementara kebakaran dan kabut asap masih berdampak hingga ke negara tetangga. Sorotan warganet merujuk pada siaran pers Kementerian Pertahanan Jepang tertanggal 29 September 2026 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":525704,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[1],"tags":[1420,1536,64313,274908],"series":[],"class_list":["post-525703","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-peristiwa","tag-jepang","tag-karhutla","tag-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/525703","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=525703"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/525703\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":525705,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/525703\/revisions\/525705"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/525704"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=525703"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=525703"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=525703"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=525703"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}