{"id":526795,"date":"2026-10-19T19:06:00","date_gmt":"2026-10-19T12:06:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/19\/guru-besar-unair-benarkah-prabowo-sengaja-dibuat-lemah-agar-tak-tuntas-memerintah-hingga-2029\/"},"modified":"2026-10-19T19:23:17","modified_gmt":"2026-10-19T12:23:17","slug":"guru-besar-unair-benarkah-prabowo-sengaja-dibuat-lemah-agar-tak-tuntas-memerintah-hingga-2029","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/19\/guru-besar-unair-benarkah-prabowo-sengaja-dibuat-lemah-agar-tak-tuntas-memerintah-hingga-2029\/","title":{"rendered":"Guru Besar Unair: Benarkah Prabowo Sengaja Dibuat Lemah agar Tak Tuntas Memerintah hingga 2029?"},"content":{"rendered":"<div class=\"fpm_start\"><\/div>\n<p><b>BANDA ACEH<\/b> &#8211; Berbagai persoalan yang melanda Indonesia memunculkan pertanyaan besar mengenai kapasitas kepemimpinan Presiden <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/prabowo-subianto\/\">Prabowo Subianto<\/a>.<\/p>\n<p>Apakah kondisi pemerintahan saat ini menunjukkan kemampuan <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/prabowo\/\">Prabowo<\/a> berada di bawah pendahulunya, <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/joko-widodo\/\">Joko Widodo<\/a> (<a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/jokowi\/\">Jokowi<\/a>)?<\/p>\n<p>Ataukah ada skenario <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/politik\/\">Politik<\/a> yang sejak awal dirancang untuk membuat pemerintahan Prabowo lemah dan gagal menyelesaikan masa jabatan hingga 2029?<\/p>\n<p>Pertanyaan kritis tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto, saat menyoroti dinamika politik nasional dan berbagai persoalan yang dihadapi pemerintahan Prabowo, Ahad (18\/10\/2026).<\/p>\n<p>Henri mengangkat kemungkinan bahwa terpilihnya Prabowo pada <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/pilpres-2024\/\">Pilpres 2024<\/a> tidak sepenuhnya dapat dibaca sebagai pergantian kepemimpinan biasa.<\/p>\n<p>Ia mempertanyakan apakah terdapat kalkulasi politik dari kekuatan tertentu yang menghendaki pemerintahan Prabowo tidak berjalan optimal, bahkan berpotensi tumbang sebelum masa jabatannya berakhir.<\/p>\n<p>Dalam pandangan tersebut, berbagai persoalan yang muncul di pemerintahan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan presiden mengelola negara, tetapi juga membuka ruang bagi dugaan adanya pertarungan kepentingan di lingkaran kekuasaan.<\/p>\n<p>Henri menggambarkan kemungkinan adanya skenario yang membuat pemerintahan Prabowo sejak awal berada dalam posisi rentan. Pemerintahan yang lemah, menurut gambaran ini, dapat lebih mudah digerogoti dari dalam, kehilangan dukungan politik, dan menghadapi tekanan publik yang semakin besar.<\/p>\n<p>Jika dugaan tersebut benar, persoalan yang dihadapi Prabowo bukan hanya menyangkut kinerja kabinet atau kebijakan ekonomi. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana menghadapi kekuatan politik lama yang diduga masih memiliki pengaruh terhadap negara, partai politik, dan kelompok elite.<\/p><script data-noptimize=\"\" data-wpfc-render=\"false\">\nfpm_start( \"true\" );\n<\/script>\n\n<p>Pertanyaan mengenai kapasitas Prabowo dibandingkan Jokowi juga perlu dijawab melalui evaluasi kebijakan, kondisi ekonomi, efektivitas pemerintahan, dan kemampuan keduanya dalam menghadapi persoalan nasional.<\/p>\n<p>Meski menggambarkan kemungkinan adanya upaya pelemahan dari dalam, Henri tidak memandang Prabowo sebagai pemimpin yang pasif dan tidak memiliki strategi.<\/p>\n<p>Prabowo merupakan seorang jenderal yang memiliki pengalaman panjang dalam politik dan pertarungan kekuasaan. Karena itu, ia dinilai memiliki kemampuan untuk membangun kekuatan, memperkuat soliditas pendukung, serta berusaha menggeser pihak-pihak yang dianggap menjadi penghambat agenda pemerintahannya.<\/p>\n<p>Dalam situasi politik yang rumit, konsolidasi kekuasaan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan pemerintahan. Presiden tidak cukup hanya mengandalkan kewenangan formal, tetapi juga harus memastikan bahwa jajaran kabinet, partai pendukung, dan institusi negara bergerak sejalan dengan agenda pemerintah.<\/p>\n<p>Persoalannya, upaya tersebut tidak selalu mudah. Hubungan antarelite politik dibangun melalui kepentingan dan kompromi yang tidak seluruhnya dapat diubah dalam waktu singkat.<\/p>\n<p>Di sinilah tantangan Prabowo menjadi semakin berat. Ia harus menjaga koalisi, menjalankan program pemerintahan, sekaligus merespons kritik masyarakat yang menginginkan perubahan nyata.<\/p>\n<p>Henri menggambarkan situasi politik saat ini sebagai war within, atau pertarungan di dalam lingkaran kekuasaan yang belum sepenuhnya selesai.<\/p>\n<p>Istilah tersebut mencerminkan kemungkinan adanya persaingan kepentingan di antara berbagai kelompok elite yang berada dalam atau berdekatan dengan pemerintahan. Secara politik, situasi semacam ini dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan, konsistensi kebijakan, dan kemampuan presiden menjalankan agenda perubahan.<\/p>\n<p>Jika presiden menghadapi hambatan dari kelompok yang semestinya mendukung pemerintahannya, konsolidasi kekuasaan akan menjadi pekerjaan yang jauh lebih rumit.<\/p>\n<p>Namun, pertarungan internal elite juga tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti adanya operasi terencana untuk menjatuhkan pemerintahan. Diperlukan penelusuran terhadap keputusan politik, hubungan antarkelompok, serta bukti konkret untuk membedakan persaingan biasa dari upaya sistematis melemahkan presiden.<\/p>\n<p>Yang jelas, stabilitas pemerintahan akan sangat bergantung pada kemampuan Prabowo mengelola perbedaan kepentingan tanpa mengorbankan kepentingan publik.<\/p>\n<p>Di luar lingkaran kekuasaan, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya kekecewaan masyarakat terhadap kondisi nasional.<\/p>\n<p>Ketika rakyat menghadapi tekanan ekonomi, kesulitan memperoleh pekerjaan, dan ketidakpastian mengenai masa depan, pemerintah dituntut menghadirkan hasil yang dapat dirasakan secara langsung.<\/p>\n<p>Kekecewaan publik dapat berkembang menjadi tekanan politik apabila pemerintah dianggap tidak mampu menjawab persoalan tersebut. Dalam keadaan demikian, kritik terhadap presiden tidak selalu membutuhkan skenario politik dari kelompok tertentu. Kekecewaan masyarakat juga dapat tumbuh secara organik akibat pengalaman hidup dan penilaian terhadap kinerja pemerintah.<\/p>\n<p>Meski begitu, dalam persaingan politik, ketidakpuasan publik memang dapat dimanfaatkan oleh berbagai kelompok untuk memperkuat posisi masing-masing.<\/p>\n<p>Karena itu, Prabowo menghadapi tantangan ganda. Ia harus membuktikan bahwa pemerintahannya mampu memperbaiki keadaan sekaligus memastikan proses politik tidak menghambat pelaksanaan kebijakan yang dibutuhkan masyarakat.<\/p>\n<p>Keterlambatan mengambil keputusan atau ketidakjelasan arah pemerintahan dapat memperbesar ruang bagi lawan politik untuk menyerang. Sebaliknya, langkah yang tegas tetapi tidak terukur juga berisiko memunculkan persoalan baru.<\/p>\n<p>Dalam analisis Henri, dinamika putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai persoalan pencalonan <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/gibran-rakabuming-raka\/\">Gibran Rakabuming Raka<\/a> menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perhitungan politik ke depan.<\/p>\n<p>Ia melihat perkembangan hukum tersebut sebagai peluang bagi Prabowo untuk mengambil langkah strategis dalam menghadapi persoalan politik yang membebani pemerintahannya.<\/p>\n<p>Namun, putusan MK harus dibaca secara cermat berdasarkan amar putusan dan pertimbangan hukumnya. Putusan pengadilan tidak otomatis memberikan kewenangan kepada presiden untuk melakukan tindakan di luar batas konstitusi maupun ketentuan perundang-undangan.<\/p>\n<p>Jika Prabowo ingin memperkuat pemerintahannya, jalan yang paling mendasar adalah memastikan setiap keputusan politik dan pemerintahan memiliki landasan hukum yang jelas, disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.<\/p>\n<p>Dalam negara demokrasi, konsolidasi kekuasaan tidak boleh berubah menjadi upaya menyingkirkan lawan politik semata. Langkah pemerintah harus tetap tunduk pada hukum, mekanisme pengawasan, dan kepentingan masyarakat.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, persoalan utama pemerintahan Prabowo bukan hanya apakah ada kekuatan yang berusaha melemahkannya, melainkan apakah ia mampu membuktikan bahwa pemerintahannya bekerja untuk kepentingan rakyat.<\/p>\n<p>Prabowo perlu menunjukkan keberanian mengambil keputusan, memperbaiki kinerja kabinet, menegakkan hukum secara konsisten, dan memastikan kebijakan ekonomi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Jika berbagai persoalan dibiarkan berlarut-larut, kekecewaan publik dapat semakin meluas. Sebaliknya, jika pemerintah mampu menghadirkan perbaikan yang terukur, ruang bagi spekulasi mengenai lemahnya kepemimpinan maupun skenario politik untuk menggagalkannya dapat menyempit.<\/p>\n<p>Masa pemerintahan hingga 2029 masih menyisakan perjalanan panjang. Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Prabowo sengaja dipilih agar gagal atau tidak mampu menyelesaikan masa jabatannya.<\/p>\n<p>Yang akan menentukan bukan semata-mata dugaan tentang skenario politik di balik layar, melainkan keputusan yang diambil presiden, kualitas pemerintahannya, serta hasil yang benar-benar dirasakan rakyat.<\/p>\n<p>Pertanyaan besarnya: mampukah Prabowo mengonsolidasikan kekuatan, mengatasi konflik di lingkaran kekuasaan, dan memulihkan kepercayaan masyarakat sebelum kekecewaan publik semakin dalam?<\/p>\n<div class=\"fpm_end\"><\/div>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/526795?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbagai persoalan yang melanda Indonesia memunculkan pertanyaan besar mengenai kapasitas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":526796,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"34","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"prabowo subianto,prabowo,jokowi,joko widodo","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[34],"tags":[274908,68,1645,94,1420,2054,242,2081],"series":[],"class_list":["post-526795","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-headline","tag-joko-widodo","tag-jokowi","tag-peristiwa","tag-pilpres-2024","tag-politik","tag-prabowo-subianto"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/526795","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=526795"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/526795\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":526809,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/526795\/revisions\/526809"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/526796"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=526795"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=526795"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=526795"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=526795"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}