{"id":527738,"date":"2026-10-24T09:55:00","date_gmt":"2026-10-24T02:55:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/24\/angkat-dua-anaknya-jadi-tenaga-ahli-menhaj-gus-irfan-disentil-kiamat-sudah-dekat\/"},"modified":"2026-10-24T09:55:53","modified_gmt":"2026-10-24T02:55:53","slug":"angkat-dua-anaknya-jadi-tenaga-ahli-menhaj-gus-irfan-disentil-kiamat-sudah-dekat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/10\/24\/angkat-dua-anaknya-jadi-tenaga-ahli-menhaj-gus-irfan-disentil-kiamat-sudah-dekat\/","title":{"rendered":"Angkat Dua Anaknya Jadi Tenaga Ahli, Menhaj Gus Irfan Disentil: Kiamat Sudah Dekat"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><\/p>\n<p><b>BANDA ACEH<\/b>\u00a0 \u2014 Pengangkatan dua putra Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan sebagai tenaga ahli di kementerian yang dipimpinnya menuai sorotan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/pengamat-politik\/\">Pengamat Politik<\/a> Saiful Mujani bahkan melontarkan sindiran tajam terhadap keputusan yang diambil Gus Irfan.<\/p>\n<p>Sebab dinilai memunculkan pertanyaan tentang profesionalisme dan potensi nepotisme di lingkungan pemerintahan.<\/p>\n<p>Kritik itu disampaikan Saiful melalui akun X miliknya, @saiful_mujani, Jumat (23\/10\/2026).<\/p>\n<p>Saiful menyoroti praktik seorang pejabat yang menunjuk anaknya sendiri untuk menjadi penasihat.<\/p>\n<p>\u201cBapak ngangkat anak jadi penasehat dirinya sebagai menteri haji \u2026. dunia udah dekat kiamat,\u201d tulis Saiful.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut menambah panjang polemik setelah nama Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, dua putra Gus Irfan, tercantum dalam dokumen yang disebut sebagai lampiran Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengangkatan Tenaga Ahli Menteri Haji dan Umrah.<\/p>\n<p>Dokumen tersebut memuat sembilan nama tenaga ahli.<\/p>\n<p>Pencantuman nama kedua putra Gus Irfan memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pengangkatan, kualifikasi, transparansi seleksi, hingga potensi konflik kepentingan.<\/p>\n<p>Meski demikian, dugaan nepotisme tidak bisa langsung dianggap sebagai fakta.<\/p>\n<p>Kejelasan mengenai proses penunjukan, persyaratan jabatan, dan kompetensi masing-masing tenaga ahli menjadi kunci untuk menjawab kritik publik.<\/p>\n<p>Gus Irfan Buka Suara soal Keterlibatan Kedua Putranya<\/p>\n<p>Gus Irfan sebelumya sudah memberikan penjelasan mengenai keterlibatan anak-anaknya dalam pembentukan Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), lembaga yang mulai dibangun pada akhir Oktober 2024 sebelum berkembang menjadi Kementerian Haji dan Umrah.<\/p>\n<p>Menurut Gus Irfan, pada masa awal pembentukan BP Haji, lembaga itu belum memiliki kantor, struktur organisasi, maupun staf pendukung yang memadai. Situasi tersebut membuatnya harus mengandalkan bantuan orang-orang terdekat untuk memulai pekerjaan.<\/p>\n<p>\u201cKeluar dari istana kita enggak punya staf, kita enggak punya kantor, kita enggak punya apa-apa,\u201d kata Gus Irfan di Yogyakarta, Jumat (23\/10\/2026), sebagaimana dikutip dari situs resmi Kementerian Haji dan Umrah.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak saat itu mendapat dukungan dari tim Kementerian Pertahanan. Sementara itu, Gus Irfan mengaku dibantu para santri dan anak-anaknya.<\/p>\n<p>Mereka, menurut dia, turut membantu pembentukan BP Haji selama sekitar tiga hingga empat bulan tanpa menerima gaji.<\/p>\n<p>\u201cAkhirnya Bang Dahnil (Wamenhaj sekarang) disambut timnya dari Kementerian Pertahanan, saya disambut santri-santri saya dan sama anak saya. Dan mereka ini yang tanpa diminta membantu pembentukan badan penyelenggara haji itu. Tanpa gaji tanpa apa-apa selama 3 atau 4 bulan. Itu yang terjadi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Seiring perkembangan lembaga, sebagian orang yang sebelumnya membantu kemudian diangkat menjadi tenaga ahli.<\/p>\n<p>Gus Irfan menyebut pengangkatan dilakukan dengan mempertimbangkan kompetensi dan kebutuhan organisasi. Adapun sebagian lainnya kembali ke pesantren atau melanjutkan aktivitas masing-masing.<\/p>\n<p>\u201cSampai kemudian ada beberapa yang saya masukkan menjadi tenaga ahli, ada sebagian kembali ke basic-nya tuh ada yang balik ke pondok, ada yang balik ini, karena mereka hanya sekadar ikhlas membantu,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Penjelasan itu menjadi alasan yang disampaikan Gus Irfan terkait keterlibatan orang-orang dekatnya dalam pembentukan lembaga.<\/p>\n<p>Namun, riwayat membantu BP Haji pada masa awal tidak serta-merta menjawab seluruh pertanyaan mengenai proses pengangkatan menjadi tenaga ahli, terutama menyangkut persyaratan jabatan dan penilaian kompetensi.<\/p>\n<p>Gus Irfan Sebut Tidak Menggunakan Semua Jatah Tenaga Ahli<\/p>\n<p>Gus Irfan juga menjelaskan bahwa sebagai menteri, dirinya memiliki alokasi tiga staf khusus dan lima tenaga ahli. Namun, ia mengatakan tidak menggunakan seluruh posisi tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKementerian Haji, sebagai menteri saya punya hak untuk menetapkan tiga staf khusus, saya ambil cuma satu. Saya dapat lima tenaga ahli, saya ambil cuma empat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pernyataan itu disampaikan untuk menjelaskan keputusan pengisian tenaga pendukung di kementerian yang dipimpinnya.<\/p>\n<p>Namun, jumlah posisi yang tersedia maupun yang digunakan bukan satu-satunya persoalan yang menjadi perhatian publik.<\/p>\n<p>Pertanyaan lainnya menyangkut bagaimana setiap tenaga ahli dipilih, apa kualifikasi yang dipersyaratkan, serta bagaimana potensi konflik kepentingan dikelola ketika anggota keluarga pejabat turut menduduki posisi tersebut.<\/p>\n<p>Keterangan yang terbuka mengenai proses pengangkatan diperlukan agar publik dapat menilai apakah penempatan personel dilakukan berdasarkan kebutuhan organisasi dan kompetensi, bukan semata-mata kedekatan personal.<\/p>\n<p>Baca juga: Angkat 2 Anaknya Jadi Tenaga Ahli Kemenhaj Dianggap Nepotisme, Menteri Haji Gus Irfan Buka Suara<\/p>\n<p>Kemenhaj Kekurangan Ribuan Pegawai<\/p>\n<p>Di tengah polemik tersebut, Gus Irfan turut menjelaskan keterbatasan sumber daya manusia yang dihadapi Kementerian Haji dan Umrah.<\/p>\n<p>Berdasarkan analisis jabatan, kebutuhan pegawai kementerian itu mencapai sekitar 7.000 orang.<\/p>\n<p>Dalam keterangannya kepada media, Gus Irfan menyebut jumlah pegawai yang tersedia sekitar 3.200 orang. Sementara itu, data internal kementerian mencatat sebanyak 3.631 pegawai.<\/p>\n<p>Meski terdapat perbedaan angka, keduanya menunjukkan bahwa jumlah pegawai yang tersedia masih jauh di bawah kebutuhan berdasarkan analisis jabatan.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Kemenhaj tidak melakukan rekrutmen ASN baru, tetapi membuka kesempatan mutasi ASN dari instansi lain.<\/p>\n<p>Proses mutasi telah berlangsung dalam dua gelombang, meski sejumlah jabatan masih kosong dan tugasnya harus dirangkap pejabat lain.<\/p>\n<p>Kementerian juga mengerahkan tenaga alih daya untuk membantu operasional dan pelayanan kepada jemaah haji.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu semua sumber daya kita kerahkan. Termasuk outsourcing-outsourcing kita kerahkan untuk menutup kekurangan itu. Dan alhamdulillah 2026 dianggap sebagai haji yang paling berhasil dibanding tahun-tahun sebelumnya,\u201d ujar Gus Irfan.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, personel yang tersedia dikerahkan dengan mempertimbangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjaga pelayanan kepada jemaah.<\/p>\n<p>Evaluasi akan dilakukan secara bertahap seiring pemenuhan kebutuhan pegawai.<\/p>\n<p>Kekurangan pegawai tersebut menjadi bagian dari konteks yang dijelaskan Gus Irfan.<\/p>\n<p>Namun, persoalan kebutuhan sumber daya manusia tetap perlu dibedakan dari pertanyaan mengenai tata cara penunjukan tenaga ahli dan kesesuaian kualifikasi orang-orang yang mengisi jabatan tersebut.<\/p>\n<p>Transparansi Jadi Kunci Menjawab Kritik Publik<\/p>\n<p>Polemik pengangkatan dua putra Gus Irfan kini menempatkan transparansi dan akuntabilitas Kemenhaj dalam sorotan.<\/p>\n<p>Kritik Saiful Mujani memperlihatkan bahwa keputusan pejabat yang melibatkan anggota keluarga dapat memunculkan kecurigaan publik, terutama ketika informasi mengenai proses seleksi dan dasar penunjukan belum sepenuhnya terang.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Gus Irfan telah menyampaikan alasannya mengenai kondisi awal pembentukan BP Haji, bantuan yang diberikan orang-orang terdekatnya, serta keterbatasan pegawai di kementerian.<\/p>\n<p>Penjelasan tersebut penting sebagai bagian dari klarifikasi, tetapi belum dengan sendirinya menuntaskan pertanyaan mengenai mekanisme pengangkatan kedua putranya.<\/p>\n<p>Kementerian perlu menjelaskan dasar keputusan, kualifikasi yang digunakan, serta tanggung jawab masing-masing tenaga ahli.<\/p>\n<p>Kejelasan itu akan membantu publik menilai persoalan berdasarkan informasi yang dapat diperiksa, bukan sekadar dugaan atau pembelaan dari pihak yang menjadi sorotan.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, ukuran profesionalisme birokrasi bukan hanya jumlah pegawai atau beratnya tantangan organisasi.<\/p>\n<p>Kepercayaan masyarakat juga bergantung pada proses pengisian jabatan yang transparan, kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pengelolaan konflik kepentingan secara terbuka<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH\u00a0 \u2014 Pengangkatan dua putra Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan sebagai tenaga ahli di kementerian yang dipimpinnya menuai sorotan. Pengamat Politik Saiful Mujani bahkan melontarkan sindiran tajam terhadap keputusan yang diambil Gus Irfan. Sebab dinilai memunculkan pertanyaan tentang profesionalisme dan potensi nepotisme di lingkungan pemerintahan. Kritik itu disampaikan Saiful [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":527739,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[1420,274908],"series":[],"class_list":["post-527738","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-peristiwa","tag-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/527738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=527738"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/527738\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":527740,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/527738\/revisions\/527740"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/527739"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=527738"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=527738"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=527738"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=527738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}