{"id":530085,"date":"2026-11-05T17:12:26","date_gmt":"2026-11-05T10:12:26","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=530085"},"modified":"2026-11-05T17:08:36","modified_gmt":"2026-11-05T10:08:36","slug":"jelang-peringatan-100-tahun-panas-bumi-indonesia-pge-percepat-pengembangan-menuju-kapasitas-1-gw","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/11\/05\/jelang-peringatan-100-tahun-panas-bumi-indonesia-pge-percepat-pengembangan-menuju-kapasitas-1-gw\/","title":{"rendered":"Jelang Peringatan 100 Tahun Panas Bumi Indonesia, PGE Percepat Pengembangan Menuju Kapasitas 1 GW"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA \u2014<\/strong> 5 November 2026 \u2014 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus memperkuat perannya dalam perjalanan panjang pengembangan <a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" href=\"https:\/\/harianaceh.co.id\/panasbumi\/\">panas bumi<\/a> Indonesia yang memasuki usia satu abad. Berawal dari penemuan potensi panas bumi pada 1926 di Kamojang, Jawa Barat, wilayah ini kini berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional.<\/p>\n<p>Momentum satu abad ini turut dimaknai Direktur Utama PGE Ahmad Yani. Menurutnya, komitmen terhadap energi bersih dan kinerja bisnis yang solid dapat berjalan beriringan.<\/p>\n<p>\u201cTujuan kami adalah untuk melayani masyarakat, baik dengan menyediakan pasokan listrik berbasis energi panas bumi yang tersedia setiap saat maupun Beyond Electricity. Sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong transisi energi dan ketahanan energi nasional, ekspansi bisnis yang kami lakukan difokuskan untuk memberikan manfaat panas bumi sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kinerja positif ini menjadi bekal bagi kami untuk melayani masyarakat,\u201d jelas Ahmad Yani.<\/p>\n<p>Sejalan dengan fokus ekspansi tersebut, PGE kini mengelola kapasitas terpasang secara mandiri (own operation) sebesar 727 megawatt (MW). Kapasitas ini ditargetkan naik menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033 melalui pengembangan organik, anorganik, dan akselerasi proyek. Untuk itu, PGE mengoptimalkan aset eksisting, memperluas kapasitas, dan mengembangkan sumber pendapatan baru.<\/p>\n<p>Langkah menuju target tersebut didukung kinerja positif PGE sepanjang kuartal III-2026. Mengacu pada laporan keuangan per 30 September 2026, laba bersih Perseroan tumbuh 21,45 persen secara year-on-year (YoY), melampaui pertumbuhan pendapatan yang naik 10,46 persen YoY.<\/p>\n<p>Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan, capaian ini mencerminkan konsistensi strategi bisnis Perseroan yang efektif dan efisien.<\/p>\n<p>\u201cProyek panas bumi PGE adalah proyek jangka panjang yang berjalan multi-years. Karena itu, pertumbuhan tidak hanya diukur dari penambahan kapasitas, tetapi juga dari kemampuan Perseroan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan di setiap tahap pengembangan. Dengan prinsip growth with discipline, kami memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas, menguntungkan, dan berkelanjutan. Harapannya, investasi yang kami tanam hari ini dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian dan masyarakat,\u201d ujar Fransetya.<\/p>\n<p>Pertumbuhan tersebut tercermin dalam kinerja PGE sepanjang Januari hingga September 2026:<br \/>\nPendapatan : US$352,20 juta, naik 10,46 persen YoY.<br \/>\nLaba bersih : US$126,62 juta, naik 21,45 persen YoY.<br \/>\nEBITDA : US$287,77 juta, naik 15,58 persen YoY.<br \/>\nKas dan setara kas: US$713,68 juta<\/p>\n<p>Kinerja tersebut turut didukung struktur keuangan yang tetap terjaga. Hingga akhir September 2026, total liabilitas Perseroan turun 3,37 persen menjadi US$955,55 juta, yang memberikan fleksibilitas untuk melanjutkan ekspansi.<\/p>\n<p>Dari sisi operasional, PGE mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dikelola secara mandiri sepanjang Januari hingga September 2026. Angka ini menjadi rekor tertinggi (all-time high) PGE untuk periode sembilan bulan. Realisasinya melampaui target 3.801 GWh, dengan capaian mencapai 108,22 persen. Dibandingkan Januari hingga September 2025 yang sebesar 3.747 GWh, produksi naik sekitar 9,86 persen. Capaian ini mencerminkan konsistensi PGE menjaga operational excellence sekaligus mengoptimalkan aset panas bumi yang dikelola.<\/p>\n<p>Berbekal capaian tersebut, PGE mengintensifkan kegiatan pengeboran di sejumlah wilayah operasional. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi menjelaskan peran pengeboran dalam strategi pertumbuhan Perseroan.<\/p>\n<p>\u201cPengeboran menjadi salah satu langkah konkret PGE dalam mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi, baik untuk membuka potensi kapasitas baru maupun mengoptimalkan aset yang telah beroperasi. Bagi PGE, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap sama pentingnya dengan mengembangkan kapasitas baru,\u201d kata Edwil.<\/p>\n<p>Pengeboran ini berjalan beriringan dengan pengembangan proyek. Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, serta PLTP Lahendong Unit 7 dan 8. Dari portofolio tersebut, PLTP Hululais telah mengantongi Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract\/SSC) dan dipersiapkan untuk memasuki tahap Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), dengan target beroperasi secara komersial pada 2028. Sementara itu, PLTP Lumut Balai Unit 3 sudah memiliki Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement\/PPA) dan telah melakukan pengeboran dua sumur. Proyek ini juga sudah memulai proses Front End Engineering Design (FEED), dengan target beroperasi secara komersial pada 2030.<\/p>\n<p>Untuk mencapai target 1 GW pada 2028, PGE memprioritaskan 12 proyek dengan total kapasitas 320 MW. Lima proyek di antaranya, dengan kapasitas gabungan 105 MW, diakselerasi dari jadwal semula yang beroperasi setelah 2028.<\/p>\n<p><strong>Tentang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk<\/strong><\/p>\n<p>PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power &amp; New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi. Hingga September 2026, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.<\/p>\n<p>Sebagai world class green energy company, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060. PGE memiliki kredensial ESG yang sangat baik, dengan 20 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup\/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. PGE juga termasuk perusahaan dengan risiko ESG sangat rendah, yang menempatkannya sebagai peringkat 1 dari 679 perusahaan di Sektor Utilitas Global pada Sustainalytics ESG Risk Rating 2025.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 5 November 2026 \u2014 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus memperkuat perannya dalam perjalanan panjang pengembangan panas bumi Indonesia yang memasuki usia satu abad. Berawal dari penemuan potensi panas bumi pada 1926 di Kamojang, Jawa Barat, wilayah ini kini berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional. Momentum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4152,"featured_media":530086,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":true},"categories":[1],"tags":[321413],"series":[],"class_list":["post-530085","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-panas-bumi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/530085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/4152"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=530085"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/530085\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":530087,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/530085\/revisions\/530087"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/530086"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=530085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=530085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=530085"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=530085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}