BANDA ACEH – Pertumbuhan investor pasar modal di Provinsi Aceh terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Oktober 2025, jumlah investor di Aceh telah mencapai 206.440 Single Investor Identification (SID) dengan total aset mencapai Rp3,14 triliun .
Hal tersebut disampaikan oleh Anggitha Silviani Dewi, Investor Services Education KSEI, dalam kegiatan Media Gathering bersama insan pers di Banda Aceh, yang bertujuan untuk memperkuat literasi publik terkait perkembangan pasar modal dan peran KSEI sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) di Indonesia.
Anggitha menjelaskan bahwa dari 38 provinsi di Indonesia, Aceh kini menempati urutan ke-17 sebagai provinsi dengan jumlah investor terbanyak. Pertumbuhan tersebut dinilai selaras dengan peningkatan minat masyarakat terhadap investasi yang lebih modern, aman, serta diawasi oleh regulator.
“Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memiliki minat yang terus meningkat untuk berinvestasi, terutama dengan hadirnya berbagai fasilitas yang memudahkan investor dalam mengakses informasi, memantau portofolio, dan melakukan transaksi secara aman,” ujar Anggitha pada acara Media Gathering Aceh di Banda Aceh, Jumat (27/11/2025).
Dari total 206 ribu investor di Aceh, Kota Banda Aceh menjadi penyumbang terbanyak dengan 26.672 SID dan nilai aset mencapai Rp1,74 triliun . Disusul oleh Aceh Utara, Aceh Besar, Aceh Timur, dan Bireuen sebagai lima daerah dengan jumlah investor tertinggi.
Sementara itu, daerah dengan nilai aset signifikan meliputi Banda Aceh, Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Aceh Barat — menunjukkan pemerataan pertumbuhan investor di wilayah daratan dan pesisir.
Didominasi Usia Muda
Dalam paparannya, Anggitha menyebutkan bahwa investor Aceh banyak berasal dari kalangan muda. Dikatakan sebanyak 57,14% investor berusia di bawah 30 tahun dengan total aset kelompok ini mencapai Rp288,23 miliar .
“Ini menarik karena menunjukkan bahwa generasi muda Aceh semakin sadar akan pentingnya investasi sejak dini. Tren ini juga didorong oleh kemudahan akses aplikasi investasi yang semakin ramah bagi pemula,” tambah Anggitha.
Dari sisi gender, laki-laki mendominasi 71,38% investor dengan aset Rp1,46 triliun, sementara perempuan memegang porsi 28,62% dengan aset sekitar Rp887,60 miliar.
Anggitha turut menjelaskan bahwa KSEI terus meningkatkan layanan dan fasilitas untuk memperkuat transparansi serta perlindungan investor, di antaranya: SID (Single Investor Identification) sebagai identitas tunggal investor.
Ada juga AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) untuk memantau portofolio secara mandiri. eASY.KSEI yang memfasilitasi kehadiran dan voting pada RUPS secara elektronik. S-INVEST untuk pengelolaan reksa dana secara terintegrasi, dana K-CASH, layanan mobile yang mempermudah pengelolaan dana investasi.
Fasilitas-fasilitas ini, menurut Anggitha, menjadi kunci meningkatnya kepercayaan publik terhadap pasar modal nasional maupun daerah. KSEI berkomitmen memperluas edukasi keuangan ke berbagai segmen masyarakat, termasuk mahasiswa, pelaku UMKM, dan komunitas lokal.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak sekadar tertarik berinvestasi, tetapi juga benar-benar paham risiko dan mekanismenya. Literasi yang baik akan menciptakan investor yang sehat dan berkelanjutan,” tutup Anggitha. []































































































