Calang – Pembangunan masyarakat Aceh Jaya harus dilakukan dengan prinsip kolaborasi, bukan kompetisi. Baik kolaborasi di internal pemerintahan, juga kolaborasi dengan aktor-aktor pembangunan lainnya dari sektor swasta, media massa, organisasi masyarakat (Ormas), NGO (non-government organisastion) dan berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya.
Hal itu disampaikan Pj Bupati Aceh Jaya, Dr Nurdin saat menyambut perwakilan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) di Warung Kopi Aceh, depan pintu keberangkatan Bandara Internasional Iskandar Muda, sesaat sebelum keberangkatannya ke Denpasar falam rangka mengikuti Rapat Koordinasi Satu Data Ketenagakerjaan tadi sore, Rabu (20/07).
“saya menyambut baik ajakan kerjasama WCS dan saya mengundang NGO-NGO lain, baik lokal, nasional, maupun internasional untuk mengambil bagian dalam pembangunan Aceh Jaya” ujar Dr Nurdin kepada rombongan WCS-IP yang dipimpin Ina Nisrina Has, selaku Manajer Program Aceh.
Dalam sesi audiensi itu juga, Dr Nurdin menegaskan bahwa pemerintah dan semua pihak sekarang butuh aksi cepat, diskusi-diskusi dan analisis masalah harus dilanjutkan dengan aksi nyata berupa program dan kegiatan yang konkrit, utk membedakan kita dengan diskusi di warung kopi.
Menindak lanjuti diskusi itu, kedua belah pihak menyepakati akan melaksanakan dua seminar dan workshop internasional tentang panangangan satwa liar dan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar hutan, serta pengembangan sumber daya laut.
“kita mulai dari seminar internasional, dalam waktu sesegera mungkin untuk menggalang dukungan luas berbagai pihak di level regional dan pancanegara” tambah Pj Bupati Aceh Jaya.
Sebagaimana diketahui, Aceh Jaya mempunyai panjang garis pantai 156 Km, memiliki potensi besar dikembangkan menjadi wisata bahari dan kepulauan. Didasarkan pertimbangan itu, parawisata menjadi salah satu prioritas pembangunan ekonomi Aceh Jaya di bawah kepemimpinan Pj Bupati Dr Nurdin.
Dalam kunjungan kerjanya ke Universitas Teuku Umar pada Selasa (19/07), Pj Bupati Aceh Jaya menekankan parawisata merupakan salah satu sektor andalan yang harus digarap serius untuk menyukseskan pembangunan koridor ekonomi Kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela) yang gagasannya sedang dikembangkan saat ini.Tentu kita memilih segmen yg sesuai dengan syariat islam, misalnya kita memilih segmen wisata keluarga” ujar lulusan S3 Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjajaran itu.
Untuk itu upaya konservasi yang dilakukan harus menjadi pengungkit ekonomi bagi masyarakat dan daerah dengan mengkaitkan aktivitas konservasi dengan kegiatan kegiatan produktif seperti parawisata. (rel)

















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler