Minggu, 19/05/2024 - 04:56 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Michelle Obama Jalani Terapi Penggantian Hormon karena Menopause, Apa Itu?

Michelle memilih terapi penggantian hormon saat memasuki masa menopause

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

JAKARTA – Mantan ibu negara Amerika Serikat, Michelle Obama, mulai merasakan beragam gejala setelah memasuki masa menopause. Untuk mengatasi gejala tersebut, Michelle memilih terapi penggantian hormon.

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan


Salah satu perubahan yang dirasakan oleh Michelle setelah menopause adalah berat badan. Michelle mengungkapkan bahwa berat badannya naik secara perlahan setelah memasuki masa menopause.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat & Sukses ada Pelantikan Direktur PT PEMA dan Kepala BPKS


Perubahan tersebut membuat Michelle menjadi lebih berhati-hati dan rutin dalam mengecek berat badan. Sebelum menopause, Michelle mengatakan dia sangat jarang memeriksa berat badannya.

ADVERTISEMENTS
Selamat Memperingati Hardiknas dari Bank Aceh Syariah


“Saya harus lebih mindful, bukan obsesif, tapi lebih mindful,” ujar Michelle kepada People seperti dilansir Hello Magazine.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh


Menghadapi perubahan-perubahan akibat menopause ini, Michelle memilih untuk menjalani terapi penggantian hormon. Wanita berusia 58 tahun tersebut mengatakan terapi ini baru saja dimulai dan dia merasa bersyukur. “Saya pikir kulit saya masih terasa sehat. Rambut saya masih ada di kepala saya. Ini adalah hal-hal yang membuat saya bersyukur,” ujar Michelle.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action


Seperti dilansir Mayo Clinic, menopause adalah waktu yang menandakan akhir dari siklus menstruasi. Wanita bisa terdiagnosis dengan menopause setelah melalui 12 bulan tanpa periode menstruasi. Menopause umumnya dimulai pada rentang usia 40-an hingga 50-an tahun.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA
Berita Lainnya:
Anda Sering Duduk Terlalu Lama, Malas Minum, Tahan Kencing? Awas Kena Batu Ginjal


Meski merupakan proses biologis alami, menopause bisa memunculkan gejala fisik yang cukup mengganggu. Sebagian di antaranya adalah hot flashes atau merasa panas tiba-tiba pada area tubuh atas, vagina kering, dan menggigil. Menopause juga dapat memunculkan gejala seperti masalah tidur, berkeringat di malam hari, penambahan berat badan, serta perlambatan metabolisme.

ADVERTISEMENTS


Gejala lain yang kerap dikeluhkan oleh wanita menopause adalah kehilangan kepadatan payudara, rambut menipis, dan kulit kering. Selain gejala fisik, menopause juga bisa memunculkan gejala psikologis. Salah satunya adalah perubahan suasana hati.

ADVERTISEMENTS


Mengenal Terapi Penggantian hormon


Terapi penggantian hormon merupakan pengobatan yang menggunakan hormon-hormon wanita. Terapi ini bertujuan untuk mengganti estrogen yang tak lagi diproduksi oleh tubuh ketika masa menopause.


Secara umum, terapi penggantian hormon dapat dibagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah terapi hormon sistemik yang umumnya mengandung estrogen dalam dosis lebih tinggi. Jenis terapi hormon ini tersedia dalam bentuk pil, skin patch, ring, gel, krim, atau semprotan.

Berita Lainnya:
Dokter: Olahraga Bantu Perbaiki Kondisi Kesehatan Penderita Diabetes  


Tipe yang kedua adalah produk vagina dosis rendah. Tipe ini umumnya hanya digunakan untuk mengatasi gejala berkemih dan gejala pada vagina yang muncul akibat menopause. Jenis terapi ini juga memiliki ragam bentuk mulai dari krim, tablet, atau ring.


Seperti dilansir Mayo Clinic, salah satu manfaat dari terapi penggantian hormon adalah dapat meringankan gejala menopause. Selain itu, terapi penggantian hormon dapat memberikan manfaat kesehatan seperti mencegah terjadinya kerapuhan tulang dan risiko patah tulang.


Akan tetapi, terapi penggantian hormon juga memiliki risiko. Jenis risiko yang muncul akan sangat bergantung pada jenis terapi, dosis, durasi pengobatan, serta kondisi kesehatan individu. Beberapa risiko tersebut adalah penyakit jantung, strok, bekuan darah, dan kanker payudara.


Untuk hasil yang terbaik, terapi penggantian hormon perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Selain itu, terapi juga perlu dievaluasi secara rutin untuk memastikan manfaat yang muncul lebih besar dibandingkan risikonya.

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi