Minggu, 25/02/2024 - 09:55 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

BISNISEKONOMI

Belanja Produk UMKM Indonesia Bisa Habiskan Rp 2.000 Triliun

ADVERTISEMENT

Pengunjung melihat sejumlah produk UMKM yang dipajang pada Pasar Kreatif Bandung 2023.

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj

JAKARTA — Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan potensi belanja produk-produk UMKM dari dalam negeri bisa mencapai Rp 2.000 triliun per tahunnya. Potensi ini berasal dari belanja BUMN, belanja pemerintah, hingga belanja dari Ibu Kota Nusantara

ADVERTISEMENT
Hari Pers Nasional

“Catatan saya BUMN bisa sekitar Rp 500 triliun untuk membeli produk UMKM. IKN bisa sekitar Rp 400 triliun, pemerintah Rp 500 triliun dan usaha besar Rp 400 triliun. Jadi ini potensi dan kalau efektif bisa sampai Rp 2.000 triliun, ini tugas kita dan UMKM,” kata MenKopUKM Teten pada acara INABUYER B2B2G EXPO 2023 di Gedung Smesco Jakarta, Rabu (5/7/2023).

ADVERTISEMENT

Besarnya potensi belanja UMKM dari dalam negeri akan dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo untuk segera dipotensikan belanja produk UMKM agar realisasinya bisa maksimal. Jika seluruh lembaga yang disebutnya di atas mampu memaksimalkan penyerapan produk buatan dalam negeri, Teten meyakini Indonesia masih mampu bertahan di tengah situasi pelemahan ekonomi dunia.

ADVERTISEMENT
KUR Syariah Bank Aceh
Berita Lainnya:
Tekad Amir Hamzah Bangun Wirausaha

“Ekonomi dalam negeri terutama belanja pemerintah, belanja BUMN termasuk konsumsi masyarakat, kalau beli produk UMKM, (pertumbuhan) ekonomi kita bisa lima persen. Dengan begitu kita bisa menghadapi ekonomi global yang lesu,” ucapnya.

ADVERTISEMENT
Bayar Tol dengan Pengcard

Lebih lanjut Teten menuturkan bahwa penting bagi UMKM untuk masuk ke rantai pasok industri agar lebih memudahkan pelaku UMKM untuk mengakses pembiayaan karena telah mempunyai kepastian pasar.

ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action

Jika pasar UMKM telah jelas, perbankan pun disebutnya akan lebih mudah untuk memberikan pembiayaan kepada UMKM. Namun sayangnya, hingga saat ini baru sekitar tujuh persen UMKM yang telah masuk ke rantai pasok industri besar.

Berita Lainnya:
Asosiasi UMKM Sebut Boikot Produk Israel Mulai Kendor

“Sebagian UMKM kita masih memasarkan mandiri, branding sendiri, ke depan kita harap UMKM jadi bagian dari rantai pasok industri. Sehingga UMKM itu bisa tumbuh berkembang juga bersamaan dengan tumbuh berkembangnya industri itu sendiri,” tuturnya.

Manfaat UMKM lain yang bisa didapatkan pelaku UMKM jika masuk ke dalam rantai pasok industri adalah bisa meningkatkan standar produk. Ia pun meminta agar para buyer dan offtaker dari produk UMKM untuk turut memberikan pendampingan bersama dengan KemenKopUKM.

“Begitu juga sekarang pemerintah, Pak Presiden Jokowi sudah menerapkan kebijakan substitusi impor untuk pengadaan barang dan jasa pemerintah. Hari ini sudah ditetapkan 40 persen belanja pemerintah harus membeli produk UMKM dan selama pandemi kemarin ketika ekonomi dunia sedang lesu dengan kebijakan itu terbukti efektif kita bisa tetap tumbuh 5 persen,” jelas dia.

sumber : Antara

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENT

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi