Selasa, 30/04/2024 - 11:53 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EKONOMIENERGI

Harga Minyak Jatuh Jelang Pengumuman Kebijakan Suku Bunga The Fed

ADVERTISEMENTS

 TOKYO — Menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve AS, harga minyak turun lebih jauh dari level tertinggi 10 bulan. Hal ini karena investor tidak yakin kapan puncak suku bunga akan dicapai dan seberapa besar dampaknya terhadap permintaan energi.

ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Thantawi Ishak mantan Komisaris Utama Bank Aceh

Seperti dilansir dari laman Reuters, Rabu (20/9/2023) harga turun meskipun terjadi penurunan stok minyak AS yang lebih besar dari perkiraan dan lemahnya produksi minyak serpih AS yang mengindikasikan terbatasnya pasokan minyak mentah pada sisa tahun ini.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA
ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah

Patokan global, minyak mentah berjangka Brent turun sedikit di atas satu miliar dolar AS menjadi 93,33 dolar AS per barel dan terakhir turun 80 sen atau 0,8 persen, menjadi 93,54 dolar AS per barel.

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 0,8 persen atau 75 sen, menjadi 90,45 dolar AS per barel, setelah naik ke level tertinggi 10-bulan sebesar 93,74 dolar AS per barel pada hari sebelumnya.

ADVERTISEMENTS

 

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

“Reli minyak sedikit terhenti karena setiap pedagang menunggu keputusan penting The Fed yang mungkin menentukan apakah perekonomian AS akan mengalami soft landing atau hard landing,” kata Analis Pasar Edward Moya.

Berita Lainnya:
Analis: Konflik Iran-Israel Berpotensi Ganggu Pertumbuhan Ekonomi RI

Moya menambahkan pasar minyak masih sangat ketat dan akan tetap demikian dalam jangka pendek. Kecuali Wall Street merasa khawatir bahwa The Fed akan mematikan perekonomian, prospek permintaan minyak mentah (hanya) akan melemah secara bertahap, namun pasar minyak akan dengan mudah mengalami defisit pasokan sepanjang musim dingin.

Investor sedang menunggu serangkaian keputusan suku bunga bank sentral minggu ini, termasuk keputusan Federal Reserve AS pada Rabu, untuk menilai prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunganya, namun fokusnya akan tertuju pada jalur kebijakannya, yang masih belum jelas.

Stok minyak mentah AS turun pekan lalu sekitar 5,25 juta barrel, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute pada hari Selasa. Analis dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan penurunan sebesar 2,2 juta barrel.

“Penurunan besar dalam persediaan minyak AS dan lambatnya produksi minyak AS telah menambah kekhawatiran pasokan yang berasal dari perpanjangan pembatasan produksi oleh Arab Saudi dan Rusia,” kata Presiden NS Trading, salah satu unit Nissan Securities Hiroyuki Kikukawa.

Berita Lainnya:
Komisi VII DPR Minta Alokasi dan Harga Gas untuk Industri Pupuk Jadi Prioritas

“Akan ada beberapa penyesuaian jangka pendek pada harga minyak karena lonjakan baru-baru ini, namun ekspektasi untuk mencapai 100 dolar AS per barel pada Brent dan WTI pada akhir tahun ini tidak akan berubah,” katanya.

Selain itu, pemerintah Rusia sedang mempertimbangkan untuk mengenakan bea ekspor pada semua jenis produk minyak sebesar 250 dolar AS per metrik ton – jauh lebih tinggi dari biaya saat ini – mulai 1 Oktober hingga Juni 2024 untuk mengatasi kekurangan bahan bakar, sumber mengatakan kepada Reuters pada hari Selasa.

Langkah tersebut dilakukan ketika produksi minyak AS dari wilayah penghasil serpih terbesar berada jalur penurunan menjadi 9,393 juta barel per hari pada Oktober, terendah sejak Mei 2023, dan setelah Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pengurangan pasokan gabungan sebesar 1,3 juta barel per hari hingga akhir tahun.

 

sumber : Reuters

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi