Lantaran, rumah sakit di Kota Gaza dan Gaza utara hancur total.
Hampir dua pertiga dari rumah sakit di Jalur Gaza – 26 dari 35 rumah sakit – telah berhenti berfungsi usai berminggu-minggu pemboman Israel di wilayah tersebut.
Selain itu, pengepungan total yang dilakukan Israel terhadap Gaza, menyebabkan rumah sakit kehabisan bahan bakar, listrik, dan air bersih.
“Persediaan medis kami sangat terbatas,” ujar Abu Shawish.
“Saat puluhan orang terluka datang ke rumah sakit karena serangan Israel, kami sering tidak dapat merawat mereka semua sekaligus karena kami perlu mensterilkan peralatan. Kami tidak punya cukup (peralatan medis).”
Kurangnya sumber daya membuat dokter tidak dapat berbuat lebih dari jumlah minimum yang diperlukan untuk menjaga pasiennya tetap hidup.
Perawatan yang semestinya juga tidak mungkin dilakukan.
“Kami tidak dapat mengeluarkan seluruh pecahan peluru dari tubuh orang yang terluka, hanya (merawat) bagian yang mengancam nyawa mereka (saja),” beber Abu Shawish.
“Tapi, pecahan peluru juga berbahaya, bisa menyebabkan infeksi dan menyebabkan kegagalan banyak organ, tapi kami berharap hal ini (pecahan peluru di dalam tubuh korban) dapat ditindaklanjuti setelah perang selesai.”
Buntut serangan Israel yang membumihanguskan Gaza, membuat Abu Shawish harus mengubur dalam-dalam mimpinya.
Yang terpenting baginya saat ini adalah keluarganya tetap hidup.
“Saya mempunyai impian besar sebelum perang, tetapi sekarang saya hanya berharap saya dan keluarga saya tetap hidup,” tandas dia.
“Tak Ada Waktu untuk Istirahat”
Di ruang gawat darurat, dokter muda wanita bernama Alaa Kassab menunjukkan kondisi pasien di mana bagian tubuhnya ada yang membiru.
Ia menjelaskan, pecahan peluru kemungkinan besar telah menimbulkan banyak kerusakan sehingga anggota badan si pasien tidak mendapatkan oksigen dan mungkin perlu diamputasi.
Kejadian seperti ini, ujar Kassab, terutama dialami oleh para anak-anak.
Hal tersebut berdampak pada dirinya hingga ia terkadang tak dapat bicara.
Hampir setiap hari, Kassab duduk diam untuk memulihkan kondisi mentalnya.
Kassab menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Ain Shams di Kairo, Mesir.
Ia kembali ke kampung halamannya di Deir al-Balah pada Februari 2023 lalu.
“Saya bermimpi untuk menyelesaikan tahun magang medis saya, kemudian bepergian ke luar negeri untuk menyelesaikan studi saya di bidang spesialisasi, sebelum akhirnya pulang ke Gaza,” urai dia.
“Apa yang saya lihat dalam dua minggu terakhir sejak menjadi sukarelawan, membuat saya semakin bertekad untuk menjadi seorang dokter.”






























































































