“Membuka komunikasi dengan Pemerintah Aceh, DPR Aceh serta berbagai stakeholder lainnya di Aceh, ini sangat penting dilakukan untuk mewujudkan Aceh yang berkemajuan seperti yang diharapkan,” tuturnya.
Terakhir, lanjut dia, filosofi menikmati kopi, pada dasarnya kopi itu memang pahit, tetapi sepahit-pahitnya kopi tetap enak dinikmati, tergantung bagaimana merasakannya.
“Artinya, ketika kita punya mindset yang cerah, semanis manisnya madu, kalau dinikmati dalam kesusahan pikiran tidak bisa dinikmati. Tetapi ketika kopi pahit dinikmati secara baik, maka akan terasa nikmat melebihi manisnya madu,” harap Machendra.
Dalam kesempatan ini, Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki dalam pidatonya yang dibacakan Plh Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Danil Arca menyampaikan, empat pilar yang digaungkan PWPM Aceh ini memiliki relevansi tinggi terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa.
Pilar pertama terkait islam berkemajuan, adalah pandangan keagamaan yang berorientasi, mempertinggi dan memajukan kehidupan manusia, memerangi keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan kemerosotan akhlak.
“Pilar ini hanya dapat tegak bila kita berkomitmen untuk selalu menghadirkan pembaruan. Saya merasa bahwa kekuatan intelektual merupakan potensi utama Pemuda Muhammadiyah,” ujarnya.
Kemudian pilar keilmuan, mendorong para pengurus dan setiap anggota Pemuda Muhammadiyah senantiasa bersikap terbuka terhadap pengetahuan baru, tak henti menuntut ilmu serta mengikuti setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Harapan saya, Pemuda Muhammadiyah Aceh dapat memiliki andil dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, di Aceh khususnya,” tuturnya.
Menyikapi suatu ilmu atau teknologi, maka harus menjauhi sikap apriori dan sikap pilih kasih. Semua ilmu memiliki nilainya sendiri yang berharga untuk dipelajari, dan setiap teknologi punya keunikan yang menunggu untuk dikuasai.
Semangat keilmuan, tambah Arca, mendukung pilar selanjutnya, yaitu kewirausahaan sosial, dirinya sangat menghargai ini, dan ditafsirkan sebagai janji Pemuda Muhammadiyah untuk memperkuat dan memberdayakan ekonomi kerakyatan demi memberikan jalan bagi masyarakat untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Selanjutnya pilar keempat, yaitu politik kebangsaan, menunjukkan peran yang harus diambil Pemuda Muhammadiyah dalam menentukan haluan bangsa melalui jalur politik.
Pj Gubernur, percaya logika politik Pemuda Muhammadiyah yang dilandaskan pada nilai-nilai luhur kebangsaan dan keislaman, tidak akan mendudukkan politik hanya sebagai motor menuju kekuasaan semata, tetapi lebih dari itu.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler