Oleh : Ali SyariefKontroversi keberpihakan Presiden Jokowi terhadap salah satu pasangan calon, terutama ketika anaknya terlibat sebagai calon wakil presiden, telah menimbulkan polemik dan pertanyaan kritis dari berbagai pihak.
Pertama-tama, perlu diakui bahwa kehadiran anak Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, menjadi calon wakil presiden, secara inheren telah menimbulkan persepsi keberpihakan. Meskipun partisipasi Politik anak-anak pejabat publik adalah hak mereka, namun masyarakat berhak untuk mempertanyakan netralitas dan obyektivitas pemerintahan.
Ketidak-setujuan masyarakat dan kritik dari berbagai kalangan terhadap keberpihakan ini mencuat, terutama karena potensi konflik kepentingan dan adanya pandangan bahwa ini dapat mempengaruhi independensi kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Adalah sangat penting bagi seorang pemimpin untuk memastikan bahwa kebijakan dan keputusan yang diambil didasarkan pada kepentingan rakyat dan bukan kepentingan pribadi atau keluarga.
Keterlibatan anak Presiden sebagai calon wakil presiden juga menciptakan ketidaksetaraan akses dalam kompetisi politik. Meskipun mungkin tidak melanggar hukum, namun terdapat kekhawatiran bahwa keberadaan Gibran dalam arena politik dapat memanfaatkan sumber daya dan dukungan yang lebih besar dibandingkan dengan kandidat lainnya.
Para kritikus berpendapat bahwa ini dapat merusak prinsip kesetaraan dan fair play dalam demokrasi. Kehadiran anak presiden sebagai calon wakil presiden dapat membawa pertanyaan tentang integritas pemilihan umum dan keadilan politik.
Dalam konteks ini, penting bagi pemimpin untuk menjaga independensi dan netralitasnya, serta memastikan bahwa proses demokratis berjalan tanpa cacat atau keberpihakan yang mencurigakan. Masyarakat memiliki hak untuk menuntut transparansi dan integritas dalam sistem politik, memastikan bahwa kepentingan rakyat selalu ditempatkan di atas segalanya.
Protes terhadap Presiden Jokowi semakin meluas, dengan para professor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut memberikan suaranya. Ditengah-tengah terpuruknya sejumlah pencapaian kinerja ekonomi, kaedilan hukum dan demokrasi, kritik terhadap kebijakan-kebijakannya semakin kuat, menciptakan ketegangan di berbagai lapisan masyarakat.
Isu ini menjadi sorotan utama dari para professor yang menyoroti keberpihakan yang mungkin timbul dalam kebijakan dan dukungan Presiden Jokowi terhadap pasangan calon tertentu, di mana anaknya menempati posisi calon wakil presiden. Keberpihakan ini menciptakan perdebatan tentang netralitas dan obyektivitas Presiden dalam memimpin negara.

































































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…