NASIONAL
NASIONAL

Lakukan Kajian Ilmiah, Pakar IT Unair Sebut Data Sirekap Tidak Valid

“Berdasarkan metode pertama, jumlah yang memilih Pilpres itu 124 juta dari 795.000 TPS,” kata  Soegianto.

Kedua, menganalisa semua data Sirekap berdasarkan suara nil dan yang di atas 300 pemilih dan ternyata banyak TPS yang hasilnya nil.

Ketiga, menganalisa data suara berdasarkan gambar formulir C1 yang diupload. 

“Setelah menggabungkan metode kedua dan ketiga, saya menemukan bahwa suara tidak sah itu ada 49 juta di seluruh Indonesia,” ungkap Soegianto. 

Berita Lainnya:
KPK: Kuota Haji Tambahan Diberikan untuk Negara Malah Dibagi Dua Sama Yaqut!

Bahkan, setelah dikolaborasi antara yang mencoblos partai dan paslon atau untuk pileg dan pilpres, semua data bergeser di mana terjadi penambahan suara untuk paslon 2 sebesar 20 persen, sedangkan untuk paslon 1 berkurang dan paslon 3, sebesar 15 persen.

“Akhirnya saya mencoba untuk menghitung kalau begitu kelompok orang yang memilih di pilpres dan orang yang memilih di pileg dikelompokkan, maka muncul angka untuk paslon 2 itu 48 persen,” tutur Soegianto.

Berita Lainnya:
Habib Rizieq Tak Permasalahkan Pandji Kritik Pemerintah, tapi Jangan Lecehkan Shalat

Dia menuturkan, data Sirekap yang menunjukkan paslon 2 mendapat 58 persen suara kemungkinan disebabkan penambahan dari suara tidak sah atau nil. 

Dengan demikian, tak ada paslon yang memenangkan Pilpres dengan suara mayoritas, sehingga Pilpres bisa berlanjut ke putaran kedua. 

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya