Kamis, 30/05/2024 - 02:05 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Dokter Saraf Sarankan Terapi Ini untuk Mengurangi Kecanduan

Depresi (ilustrasi). Dokter menjelaskan kegunaan terapi transcranial magnetic stimulation (TMS) yang dapat membantu untuk mengurangi perilaku kecanduan.

ADVERTISEMENTS
ActionLink Hadir Lebih dekat dengan Anda

 JAKARTA — Dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo dr Winnugroho Wiratman menjelaskan kegunaan terapi transcranial magnetic stimulation (TMS) yang dapat membantu untuk mengurangi perilaku kecanduan. TMS adalah suatu teknik neurofisiologi yang sifatnya non-invasive (tanpa memasukkan alat yang dapat merusak kulit) yang memberikan stimulasi magnetik ke dalam otak. 

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses kepada Pemerintah Aceh

“Tujuannya untuk mempengaruhi aktivitas bagian otak tersebut. Ini dapat digunakan untuk menangani gangguan-gangguan neurologis maupun psikiatri,” kata Winnugroho dalam sebuah diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Ahad (24/3/2024).

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat & Sukses atas Pelantikan Pejabat di Pemerintah Aceh

Terapi TMS, kata Winnugroho menerangkan, sudah diterapkan sejak era 1980-an untuk menangani pasien penderita depresi. Seiring perkembangan teknologi dan teknik terapi kesehatan mental, terapi TMS juga dimanfaatkan untuk mendukung terapi adiksi perilaku.

Berita Lainnya:
WHO Sebut Peningkatan Konsumsi Rokok di RI Mengancam Generasi Muda

Winnugroho menyebutkan meskipun dapat mengurangi adiksi, terapi TMS bersifat penanganan tambahan sehingga tetap membutuhkan metode terapi lainnya agar mendapatkan hasil yang lebih efektif seperti konseling, terapi perilaku, terapi kelompok, hingga dukungan keluarga dan lingkungan.

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

 

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

“Terdapat perbaikan kritis gejala kecanduan akibat perilaku dengan menggunakan TMS secara berulang dan ditambah juga dengan pengendalian dan terapi-terapi tambahan lainnya. Jadi, sifatnya suatu additional (tambahan) dari terapi,” ujar dia.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

Terapi itu dilakukan dengan memberikan stimulasi magnetik ke prefrontal cortex atau bagian depan otak yang berfungsi mengendalikan respon dan menghambat perilaku impulsif sehingga dapat bekerja lebih aktifPenderita adiksi memiliki gangguan fungsi pada prefrontal cortex sehingga kecanduan yang dialaminya sulit dihentikan.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh
Berita Lainnya:
WHO Desak Warga Eropa Kurangi Konsumsi Garam
ADVERTISEMENTS

Terapi adiksi menggunakan TMS aman bagi pasien dan menunjukkan hasil yang baik ketika dilakukan secara berulang, kata Winnugroho.

ADVERTISEMENTS

“Hasilnya lebih mudah terukur terus bisa lebih individualis dari dosis berapa kekuatan magnetisnya, terukur juga dalam arti jalur otak mana yang bisa kita stimulasi,” kata Winnugroho.

Efek samping dari terapi itu ialah pasien akan merasakan panas, pandangan goyang, mual, mengantuk, mabuk, rasa hangat di kulit kepala, pusing hingga nyeri yang bersifat sementara. Winnugroho menjelaskan efek samping itu berlangsung antara 1-30 menit atau bahkan 1 jam dengan intensitas yang rendah.

 

sumber : Antara

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi