Sungkeman Ketika Lebaran, dari Mana Asalnya?

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

ADVERTISEMENTS

Sungkem Lebaran.

ADVETISEMENTS

JAKARTA — Hari Raya Idul Fitri tidak hanya identik dengan makan ketupat bersama opor ayam. Saat Lebaran juga biasanya dilakukan tradisi sungkeman atau saling maaf-memaafkan dengan posisi duduk atau bersimpuh.

ADVERTISEMENTS
ADVERTISEMENTS

 

ADVERTISEMENTS
ADVETISEMENTS

Dari mana asal sungkeman? Istilah sungkeman rupanya berasal dari bahasa Jawa yang berarti sujud atau tanda bakti. 

ADVERTISEMENTS

 

ADVERTISEMENTS

 

Tradisi sungkeman yang juga biasa ada dalam prosesi pernikahan ini merupakan sebuah adat yang dilakukan oleh seseorang yang biasanya lebih muda kepada orang lebih tua. Tujuannya sebagai bentuk penghormatan ataupun memohon maaf atas perilaku dan sikap yang mungkin salah selama ini.

 

Arti dari kata sungkem adalah tanda bakti dan hormat untuk orang tua serta keluarga yang lebih tua (pinisepuh). Sungkem saat hari raya Idulfitri, tepatnya setelah sholat Idulfitri, bertujuan untuk saling memaafkan antara ayah dan ibu kepada anaknya atau sesama anggota keluarga. 

 

Dalam proses ini tersirat harapan dan doa agar ke depan menjadi lebih baik. Tujuannya agar saling memaafkan satu sama lain baik untuk kesalahan yang sengaja ataupun tidak. 

 

Ucapan saat sungkeman memang identik dengan bahasa Jawa. Sebut saja kalimat seperti “Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya kalepatan nyuwun pangapunten”, yang berarti “menghaturkan (mengucapkan) Selamat Idulfitri, mohon maaf untuk semua kesalahan. 

 

Sedangkan jawaban dari ucapan sungkem lebaran dalam bahasa Jawa umumnya berbunyi:

“Semanten ugi kulo, dados tiyang ingkang langkung sepuh kathah tindak-tanduk ingkang kirang patut mugio pikantuk pangapunten. Ingkang kita suwun, mugi ibadah kulo lan panjengengan saged dipun tampi ing ngarsanipun Gusti Allah. 

 

Kalimat tersebut memiliki arti “Demikian pula saya, yang menjadi orang yang lebih tua, banyak tindak-tanduk yang kurang layak, semoga dapat diberi maaf. Yang kita minta, semoga ibadah saya dan Anda dapat diterima oleh Allah. Aamin ya Rabbal ‘alamin.”

 

Meski begitu, tradisi ini diadaptasi ke budaya lain dengan menggunakan bahasa sesuai daerah masing-masing. Contohnya pada budaya Sunda, kalimat meminta maaf ini bisa berbunyi “Hapunten Kana Sagala Kalepatan,” yang artinya mohon maaf atas segala kesalahan.

 

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS
Exit mobile version