Minggu, 16/06/2024 - 09:50 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Stop Ucap Satu Kata Ini Ketika Bicara dengan Diri Sendiri, Bisa Picu Perasaan Bersalah

JAKARTA — Ada satu kata yang sebisa mungkin tidak digunakan saat berbicara dengan diri sendiri. Terapis dan pekerja sosial klinis berlisensi Carrie Howard yang kerap menangani kasus kecemasan mengatakan, satu kata yang perlu dihindari itu adalah “seharusnya”.

ADVERTISEMENTS
Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H dari Bank Aceh Syariah

Howard yang berbasis di Texas, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa penggunaan kata “seharusnya” dapat menambah rasa kewajiban atau rasa malu. Hal itu sering kali merugikan, sebab memicu perasaan bersalah dan dapat mengarah pada penundaan.

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses atas Dilantiknya Daddi Peryoga sebagai Kepala OJK Provinsi Aceh

“Ini mengabaikan proses penting untuk belajar percaya pada diri sendiri untuk membuat keputusan terbaik, dan mampu dengan sadar mempertimbangkan bagaimana keputusan potensial itu selaras atau tidak dengan tujuan, nilai, dan keinginan,” ucap Howard, dikutip dari laman Huffington Post, Selasa (21/5/2024).

ADVERTISEMENTS
Menuju Haji Mabrur dengan Tabungan Sahara Bank Aceh Syariah

Sayangnya, banyak orang sudah terbiasa memakai kata “harus” atau “seharusnya”. Misalnya, “saya seharusnya tidak makan gorengan itu”, atau “saya seharusnya mengerjakan pekerjaan ini sekarang”. Mungkin kesannya sepele, tapi jika dicermati, ada tekanan dalam sejumlah pernyataan itu.

ADVERTISEMENTS
ActionLink Hadir Lebih dekat dengan Anda
Berita Lainnya:
Apoteker bukan Sekadar Penjaga Toko Obat

Padahal, sebagai orang dewasa yang memiliki hak pilihan untuk mempertimbangkan keputusan dan memilih yang terbaik untuk diri sendiri, itu bukanlah kata yang pas. Menurut Howard, lebih baik memakai kata “memilih”, “ingin”, atau “perlu”. “Itu dapat menginspirasi tindakan, motivasi, rasa hak pilihan, atau pencapaian yang bermakna,” ungkap Howard. 

ADVERTISEMENTS
Selamat & Sukses kepada Pemerintah Aceh

Pendiri dan direktur klinis Bloom Psychology & Wellness, Meghan Watson, mengatakan analisis lain di balik pemakaian kata “harus” dan “seharusnya”. Bagi Watson, itu mengandung unsur yang berakar pada ketidakpastian, kebingungan, keterpisahan, juga keterputusan dari diri sendiri.

ADVERTISEMENTS
Selamat Menunaikan Ibadah Haji bagi Para Calon Jamaah Haji Provinsi Aceh

Dia memaklumi beberapa orang mungkin merasa sulit untuk memisahkan apa yang sebenarnya diinginkan dan apa yang diinginkan karena pengaruh eksternal dan tekanan masyarakat. Pengaruh itu mungkin berasal dari keluarga, budaya, persahabatan, atau peran sebagai pengasuh, orang tua, atau pasangan.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat & Sukses atas Pelantikan Pejabat di Pemerintah Aceh
Berita Lainnya:
Kecanduan Internet Berisiko Pengaruhi Intelektual dan Kesehatan Mental Remaja

Pengaruh eksternal pun bisa membuat seseorang menanggung banyak tekanan dalam setiap keputusan. Pada akhirnya, seseorang akan merasa dikuasai oleh rasa malu dan bersalah jika tidak melakukan sesuatu, yang berujung pada pernyataan “seharusnya”.

ADVERTISEMENTS
ADVERTISEMENTS
Selamat Memperingati Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2024

Watson yang berbasis di Toronto, Kanada, mengatakan tidak berarti seseorang perlu menghapus sepenuhnya pernyataan “seharusnya”. Namun, cobalah sadari kewajiban dan tanggung jawab berbeda dengan menyerah begitu saja pada sesuatu yang menurut Anda “harus” Anda lakukan

ADVERTISEMENTS
ADVERTISEMENTS
Selamat dan Sukses kepada Pemerintah Aceh atas Capai WTP BPK

Dalam pandangan Watson, ada juga “keharusan” positif dalam hidup. Dia menyarankan untuk melepaskan diri dari narasi “seharusnya” yang toksik, dan fokus pada keyakinan dan nilai-nilai hidup. “Dengan menghilangkan tekanan “seharusnya”, Anda akan lebih siap melakukan apa yang benar-benar ingin Anda lakukan dan hal-hal yang selaras dengan tujuan dan nilai-nilai Anda,” kata Watson. 

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

 

ADVERTISEMENTS
Bayar Jalan tol dengan Pencard

 

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا الكهف [96] Listen
Bring me sheets of iron" - until, when he had leveled [them] between the two mountain walls, he said, "Blow [with bellows]," until when he had made it [like] fire, he said, "Bring me, that I may pour over it molten copper." Al-Kahf ( The Cave ) [96] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi