Terdapat karya penelitian lain yang mendukung kesimpulan penelitian sebelumnya, antara lain perlakuan terhadap subjek dari perspektif antropologi oleh Leo Weiner dengan judul “Africa and the Discovery of America”, dan ada karya peneliti Ivan Van Sertima yang berjudul “Mereka Datang Sebelum Columbus.”
Meskipun penelitian-penelitian ini sepakat bahwa sebagian besar komunikasi yang terjadi antara penduduk Dunia Lama dan Dunia Baru sebelum Columbus mungkin dilakukan secara acak dan tidak sistematis, mereka juga setuju bahwa penemuan Dunia Baru tidak akan terjadi tanpa keahlian kognitif yang diperlukan di bidang pembuatan kapal, teknik navigasi, informasi yang jelas tentang bumi dan luasnya, serta teknik-teknik canggih di bidang pemetaan, yang pada saat itu hampir merupakan domain eksklusif umat Islam.
Peta dunia pertama dibuat oleh ahli geografi Muslim Arab, atas perintah Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun pada abad ke-9 Masehi. Peta tersebut menggambarkan ciri-ciri bumi, menunjukkan bagian-bagiannya yang dapat dihuni atau dihuni, dan menggambarkan lautan secara terpisah. Para cendekiawan Muslim terus mengembangkannya, terutama Al-Zuhri, Al-Biruni, dan Al-Idrisi yang mengembangkannya dan menuangkannya dalam bentuk yang sekarang dikenal dengan nama “Peta Al-Idrisi”.
Teori Al-Biruni soal keberadaan Benua Amerika
Pada 2012, surat kabar Perancis Courrier International menerbitkan sebuah penelitian berjudul “Orang Persia yang Menemukan Amerika di Abad ke-11,” mengacu pada cendekiawan Muslim Sunni yang unggul dalam bidang astronomi, geologi, dan matematika, Abu Rayhan al-Biruni (973-1048). Ilmuwan itu lahir di kota Kath di Uzbekistan dan tinggal di antara kota Ray dan Ghazni di tempat yang sekarang disebut Iran dan Afghanistan.
Studi tersebut menilai bahwa Al-Biruni menemukan Dunia Baru berabad-abad sebelum Christopher Columbus, berkat perhitungan astronominya dan keterampilannya yang unggul dalam bidang teknik dan pemetaan.
Studi tersebut mengatakan bahwa selain pengetahuannya yang luar biasa, Al-Biruni adalah seorang musafir yang – seperti banyak pelancong Muslim pada saat itu – melakukan petualangan dan perjalanan panjang melintasi Eurasia dan mencatat informasi rinci tentang geografi dan iklim negeri yang mereka kunjungi.
Penelitian tersebut menyatakan bahwa pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis bujur dan lintang kotanya, “Kath.” Kemudian, dengan menggunakan temuan penulis kuno seperti Claudius Ptolemy, dia mengumpulkan data geografis tentang dunia Mediterania dan mulai menambahkan koordinat fitur daratan lainnya.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler