BANDA ACEH – Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, menilai banyaknya kasus kekerasan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian lantaran terdapat dua penyakit, yakni penyakit yang diderita per individu dari masing-masing anggota kepolisian dan sistem yang ada di institusi tersebut. Menurut Bambang, penyakit per individu yang diderita oleh oknum anggota kepolisian adalah narcissistic personality disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik, dimana mereka memiliki pandangan yang tinggi terhadap dirinya sendiri.Salah satu akibat gangguan NPD ini membuat penderitanya bersikap arogan dan sewenang-wenang, mereka tidak bisa mengontrol emosinya sehingga melakukan kekerasan hingga pembunuhan terhadap orang lain. Oleh sebab itu, kata Bambang, institusi kepolisian harus melakukan kajian yang mendalam untuk menjaga kesehatan mental anggotanya.
Sementara soal penyakit yang diderita sistem di kepolisian yang dimaksud adalah mandeknya sistem kontrol dan pengawasan dari atasan terhadap bawahannya, akibatnya banyak anggota kepolisian yang keluar dari tugas pokok dan fungsinya, seperti menjadi backing mafia tanah, BBM, tambang minyak ilegal, dan lainnya. Menurut Bambang, semua persoalan yang dilakukan oleh oknum aparat tersebut hanyalah puncak gunung es yang diakibatkan gangguan mental dan sistem pengawasan dari lembaga kepolisian tidak berjalan. “Artinya dua-duanya ini sama-sama sedang sakit. Individu sakit, sistemnya juga sakit,” kata Bambang.
Kondisi yang tengah dialami institusi kepolisian saat ini mendorong segera dilakukan evaluasi dan reformasi secara menyeluruh di tubuh Polri. Menurut Bambang, sejatinya reformasi kepolisian merupakan amanat reformasi 1998 yang harus dijalankan, namun langkah kepolisian saat ini berjalan semakin menjauh dari amanat reformasi. Bambang menilai, melencengnya langkah polisi dari amanat reformasi itu dinilai sebagai lemahnya kepemimpinan Kapolri, Listyo Sigit Prabowo beserta jajarannya. Mereka dinilai tidak tegas dan tidak konsisten dalam melakukan penegakan aturan di internal lembaganya.
Selain itu, dampak lemahnya jiwa kepemimpinan di tubuh kepolisian juga melahirkan kelompok-kelompok atau kubu-kubuan antarmereka. Kemudian juga ada promosi kenaikan pangkat bagi orang-orang terdekat serta runtuhnya meritokrasi di internal bhayangkara. “Makanya memang harus ada evaluasi terkait dengan kemungkinan [pelanggaran sistem] di kepolisian saat ini,” ujarnya.
















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler