Masih pada Sabtu, pesawat Boeing 737-800 milik maskapai KLM Royal Dutch tergelincir saat mendarat darurat di Bandara Oslo Torp, Sandefjord, Norwegia, usai mengalami kegagalan sistem hidrolik. Sebanyak 182 penumpang dinyatakan selamat.
Pada Ahad (29/12/2024), kecelakaan pesawat Jeju Air di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan (Korsel) dilaporkan menewaskan sedikitnya 179 orang. Hanya dua orang dari total 181 penumpang.
Satu dari penumpang yang selamat adalah seorang awak kabin, yang mengaku tak mengingat kejadian sesaat sebelum pesawat mengalami kecelakaan. Dikutip Korean Herald dilansir The Strait Times, awak kabin itu baru sadarkan diri saat tiba di Rumah Sakit (RS) Hankook.
“Apa yang terjadi? Mengapa saat ada di sini,” ujarnya, menjawab pertanyaan dokter.
Menurut awak kabin kepada dokter, hal terakhir yang dia ingat adalah mengenakan sabuk pengaman menjelang pesawat mendarat, lantaran dia berpikir pesawat hampir mendarat di Bandara Muan. Dia mengaku tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu.
Awak kabin pria itu ditugaskan melayani penumpang Jeju Air 7C 2216 di bagian belakang pesawat dan mengalami luka di pundak kiri dan kepala akibat kecelakaan. Satu penyintas lain yang adalah seorang wanita, saat ini masih menjalani perawatan di RS Hankook.
Jeju Air 7C 2216 terbang dari Bandara Suvarnabhumi Bangkok menuju Bandara Muan di Provinsi Jeolla, Korsel sekitar pukul 09.00 pagi. Sebelum mendarat darurat dan mengalami kecelakaan, seorang penumpang sempat mengirim pesan singkat kepada anggota keluarganya, menginformasikan bahwa pesawat yang ditumpanginya tidak bisa mendarat karena seekor burung berada di sayap pesawat.
“Seekor burung tersangkut di pesawat, dan kami tidak bisa mendarat. Haruskah saya mengirimkan kata-kata terakhir? demikian pesan singkat seorang penumpang kepada anggota keluarganya.
Majalah Time pada pertengahan tahun lalu pernah merilis hasil investigasi dengan memeriksa data kecelakaan pesawat selama 35 tahun terakhir. Data menunjukkan, bahwa kursi tengah di area belakang pesawat memiliki tingkat kematian terendah (28 persen). Persentase itu lebih kecil jika dibandingkan dengan kursi tengah di area lorong (44 persen).
Data itu cukup masuk akal, karena kursi tengah akan memberikan jalan keluar tercepat dalam keadaan darurat. Namun, karena sayap pesawat juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan bakar, kursi tengah di area sayap tidak lagi menjadi pilihan baris yang paling aman.
Menurut analisis Popular Mechanics, penumpang yang duduk di dekat ekor pesawat memiliki peluang 40 persen lebih besar untuk selamat dari kecelakaan daripada penumpang di depan. Kursi di sepertiga tengah kabin disebut paling tidak aman jika terjadi tabrakan.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler