BANDA ACEH – Emiten properti milik Sugianto Kusuma alias Aguan, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) terdepak dari jajaran 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan Kamis (23/1/2025), saham PANI kembali merosot di tengah kisruh sertifikat HGB di area pemasangan pagar laut di Tangerang yang menyeret entitas Agung Sedayu Group.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, saham PANI rontok dengan penurunan 2.750 poin atau 19,89% ke level Rp11.075 pada akhir perdagangan hari ini. Level itu merupakan harga penutupan terendah saham PANI sejak 4 Oktober 2024.
Saham PANI sudah memerah 4 hari beruntun. Merujuk data BEI, saham PANI turun 0,95% ke level Rp15.500 pada 20 Januari 2025, merosot 9,03% ke level Rp14.100 pada 21 Januari 2025, dan turun 1,95% ke level Rp13.825 pada 22 Januari 2025.
Secara akumulasi, saham PANI sudah anjlok 30,78% secara year-to-date dari posisi Rp16.000 per saham pada akhir 2024.
Penurunan harga saham juga membuat kapitalisasi pasar PIK 2 menguap. Berdasarkan data BEI, market cap perseroan kini bertengger di level Rp187 triliun, atau menguap Rp83 triliun dari posisi Rp270 triliun per 30 Desember 2024.
Akibatnya, PANI sejak akhir perdagangan hari ini sudah tidak lagi masuk dalam jajaran 10 emiten biggest market cap di BEI. Posisi PANI digantikan oleh PT Astra International Tbk. (ASII) dengan kapitalisasi pasar Rp198 triliun.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa saham PANI kini memasuki fase bearish usai meninggalkan level psikologis Rp13.000. Untuk diketahui, fase bearish mengacu pada kondisi harga saham yang mengalami tren penurunan signifikan dalam jangka waktu tertentu.
“Rekomendasi hold untuk PANI dengan target harga Rp10.350, sebab pergerakan harga saham mengalami fase bearish,” ujarnya, Kamis (23/1/2025).
Sebelumnya, Financial Advisor Sucor Sekuritas Danika Augusta Sari mengatakan bahwa secara teknikal, level Rp13.000 menjadi batas penting bagi PANI. Sebab, jika banderol ini tembus ada risiko pembalikan tren menjadi bearish.
“Asal saham PANI tidak menembus di bawah Rp13.000, kalau secara teknikal itu bisa menjadi reversal bearish,” kata Danika saat ditemui di Jakarta, Rabu (22/1/2025).
Danika memandang pemasangan pagar laut memang menjadi salah satu isu yang mencuat. Meski demikian, sentimen itu dinilai hanya berdampak jangka pendek. Faktor terpenting adalah perilisan laporan keuangan PANI untuk periode 2024.
Dalam perkembangan lain, Kuasa Hukum Agung Sedayu Group Muannas Alaidid telah mengonfirmasi bahwa PT Intan Agung Makmur, yang menggenggam 243 bidang sertifikat hak guna bangunan (SHGB) di Tangerang, merupakan salah satu entitas bisnis terafiliasi perusahaan yang dimiliki Sugianto Kusuma alias Aguan.















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler