ISLAM
ISLAM

Rahasia Pencerahan Para Nabi dan Ilmuwan

Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla*DALAM kehidupan modern, banyak orang berjuang untuk meningkatkan fokus dan intuisi di tengah derasnya informasi dan gangguan digital. Namun, para Nabi, ulama, dan ilmuwan besar di masa lalu menggunakan puasa sebagai alat utama untuk mempertajam pikiran dan mendapatkan pencerahan.

Allah SWT berfirman: “Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepadamu (ilmu yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 282)

Puasa adalah salah satu bentuk takwa yang membuat seseorang lebih peka terhadap ilmu dan kebenaran. Dalam kajian ilmiah, puasa terbukti meningkatkan fokus, kejernihan pikiran, dan intuisi, menjadikannya alat luar biasa bagi para pemikir dan pencari kebenaran.

Puasa Meningkatkan fokus dan intuisi. Fokus adalah kemampuan untuk menyaring informasi dan berkonsentrasi pada hal penting, sementara intuisi adalah kemampuan memahami sesuatu secara instan tanpa melalui analisis panjang.

Otak Menjadi Lebih Fokus

Saat seseorang berpuasa, terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas listrik otak dan pola biokimia, yang memengaruhi fokus dan intuisi. Puasa juga mengurangi “noise” dalam otak, yaitu aktivitas otak yang tidak perlu, biasanya menyebabkan overthinking dan kecemasan.

Ketika tubuh tidak sibuk mencerna makanan, aliran darah ke otak meningkat, membuatnya lebih tajam dan fokus. Studi dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews (2021) menunjukkan bahwa puasa meningkatkan neurotransmitter dopamin dan norepinefrin, 

Hal itu dapat meningkatkan perhatian dan daya ingat serta mengurangi gangguan mental yang memperlambat proses berpikir. Nabi Muhammad SAW sendiri menyarankan mengurangi makan agar pikiran tetap tajam, sebagaimana sabdanya: “Tidak ada tempat yang lebih buruk yang dipenuhi oleh anak Adam selain perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya” (HR. Tirmidzi).

Ini menunjukkan bahwa kejelasan mental dan fokus lebih penting daripada sekadar memenuhi keinginan fisik.

Peran Ketosis: Energi Murni untuk Otak

Dalam kondisi normal, otak menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Namun, saat berpuasa, tubuh masuk ke ketosis, di mana lemak diubah menjadi keton sebagai bahan bakar utama otak.

Menurut studi dalam Nature Reviews Neuroscience (2020), keton memiliki efek berikut pada otak, di antaranya  meningkatkan efisiensi kognitif, membuat seseorang berpikir lebih cepat dan tajam. Kemudian mengurangi inflamasi otak, yang sering menyebabkan gangguan mental, serta mengoptimalkan fungsi sel saraf, sehingga intuisi dan pengambilan keputusan lebih akurat.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website