Menurut penilaian BND, Rusia dapat sepenuhnya siap untuk ‘perang konvensional berskala besar’ pada tahun 2030.
“Rusia melihat dirinya dalam konflik sistemik dengan Barat dan siap untuk melaksanakan tujuan imperialisnya melalui kekuatan militer, bahkan di luar Ukraina,” bunyi laporan BND.
Sementara itu, dinas intelijen Lithuania, VSD, menilai bahwa meskipun Moskow mungkin belum siap untuk melancarkan serangan skala penuh terhadap NATO, ia mungkin mencoba untuk ‘menguji NATO’ dengan operasi militer terbatas terhadap satu atau lebih negara anggota untuk mengukur seberapa serius blok tersebut akan menegakkan kewajiban pertahanan kolektifnya.
Serangan Rusia terhadap anggota NATO mana pun akan memicu Pasal 5 piagam aliansi, yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota akan ditanggapi dengan respons kolektif.
Dinas Intelijen Pertahanan Denmark (DDIS) juga memperingatkan pada bulan Februari bahwa Rusia bakal siap untuk melancarkan “perang skala besar” di Eropa dalam lima tahun ke depan.
“Meskipun saat ini tidak ada ancaman serangan militer reguler terhadap Kerajaan [Denmark], kemungkinan ancaman militer dari Rusia akan meningkat selama beberapa tahun mendatang,” katanya.
3. Peningkatan Belanja Militer
Belanja militer Rusia meningkat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan pengeluaran yang diperkirakan mencapai sekitar 120 miliar euro pada tahun 2025 –lebih dari 6 persen dari PDB negara tersebut. Angka itu dibandingkan dengan 3,6 persen sebelum perang.
Jumlah tentara Rusia juga akan ditingkatkan menjadi 1,5 juta personel, sementara volume persenjataan dan peralatan pasukan yang ditempatkan di sepanjang perbatasan NATO diperkirakan akan tumbuh sebesar 30-50 persen, menurut laporan BILD edisi Rusia.
Menurut laporan ‘Military Balance’ oleh International Institute for Strategic Studies (IISS) yang dirilis Februari, pengeluaran militer Rusia telah melampaui Eropa.
4. Aktivitas Mata-mata dan Sabotase
Barat telah membunyikan alarm atas meningkatnya aktivitas militer Rusia di dekat kabel komunikasi bawah laut utama. Ada kekhawatiran yang berkembang di antara anggota NATO bahwa Putin dapat menargetkan kabel bawah laut dan infrastruktur penting yang vital bagi sistem komunikasi global.
Dalam satu contoh, sebuah kapal kargo Rusia berkeliaran di atas kabel komunikasi bawah laut di Pasifik selama berminggu-minggu, menimbulkan kekhawatiran atas potensi sabotase Rusia.
Memutus jalur bawah laut utama dapat melumpuhkan komunikasi dan mengganggu ekonomi global—sebuah langkah yang akan menguntungkan kepentingan Rusia dalam perang masa depan dengan NATO.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler