Kepentingannya jelas: Arab Saudi menjadi rumah bagi lebih dari 2,6 juta pekerja migran asal India, dan jumlah yang hampir sama dari Pakistan. Dalam waktu bersamaan, India juga tengah menggodok proyek Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa bersama Arab Saudi, dengan nilai investasi mencapai $100 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun.
Menurut Samina Yasmeen, Direktur Centre for Muslim States and Societies di University of Western Australia, “Negara Teluk memiliki kepentingan kuat untuk memastikan stabilitas di kawasan. Mereka tak ingin krisis ini mengancam ekosistem migran dan investasi.”
Posisi China, Iran, dan Teluk
China tidak tinggal diam. Pada Rabu, jet tempur J-10C buatan China, yang dipersenjatai rudal PL-15, dilaporkan menembak jatuh lima jet India. Beijing juga memiliki klaim wilayah di Kashmir dan merupakan mitra strategis utama Pakistan dalam proyek-proyek besar seperti Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC).
Sementara itu, Iran—meskipun sesama negara Muslim dan berbatasan langsung dengan Pakistan—justru menunjukkan sikap yang lebih bersahabat ke arah New Delhi.
Menteri Luar Negeri Iran mengunjungi India hanya beberapa jam setelah meninggalkan Islamabad. Iran juga menyampaikan belasungkawa resmi atas serangan di Kashmir dan menawarkan diri untuk menjadi mediator.
India memiliki kepentingan besar di Iran, termasuk pengelolaan Terminal Shahid Beheshti di Pelabuhan Chabahar, investasi Rp1,9 triliun dan kredit Rp4 triliun untuk pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut.
Perjanjian air dan garis batas
Tanda-tanda eskalasi semakin nyata. India menangguhkan Perjanjian Air Indus, kesepakatan yang selama puluhan tahun mengatur distribusi air dari Himalaya ke Pakistan. Di sisi lain, Pakistan mencabut Perjanjian Shimla 1972, yang membuat Garis Kontrol di Kashmir kini kembali sekadar garis gencatan senjata.
“Penghalang psikologis telah dilampaui,” kata Karnad. “
Kini militer India secara hukum bisa melangkah lebih jauh.”
Konflik India-Pakistan 2025 ini jauh lebih kompleks dari perang di medan tempur. Di baliknya, ada kepentingan ekonomi, kekuatan ideologis, dan aktor regional yang dulu tak terlibat kini jadi pusat permainan. Namun, jika tak segera dihentikan, nyawa jutaan orang di Asia Selatan terancam.
“Banyak sekarang tergantung apakah Arab Saudi akan memberi tekanan pada India,” tutup Fawad. “Kalau tidak, perang tinggal menunggu waktu.”
Pola yang digunakan India kali ini memunculkan pertanyaan besar: Apakah India sedang meniru strategi Zionis ‘Israel‘ terhadap Palestina?
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler