ISLAM
ISLAM

Dari Met Gala ke Dunia Nyata: Ketika Aurat Jadi Konsumsi Publik, Anda Bangga?

LISA BLACKPINK menjadi pusat kontroversi setelah penampilannya di Met Gala 2025 yang diselenggarakan pada Senin, 5 Mei 2025 di Metropolitan Museum of Art di New York. Mengikuti tema tahun ini, Lisa tampil dengan bodysuit berlapis kain tipis dalam gaya tanpa celana.

Met Gala kembali digelar dengan segala gegap gempita dan gemerlap busana para selebriti dunia. Acara yang disebut sebagai “Oscarnya dunia fashion” ini bukan sekadar ajang amal, melainkan telah menjelma menjadi panggung kontestasi paling ekstrim dalam menampilkan tubuh. Bukan lagi soal estetika, tetapi soal siapa yang paling berani mempertontonkan aurat.

Ketika para pesohor dunia berjalan di karpet merah dengan balutan kain yang makin minim dan transparan, satu pertanyaan penting patut diajukan: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari semua ini? Benarkah ini adalah bentuk ekspresi diri, atau justru eksploitasi yang dikemas dalam bungkus kebebasan?

Aurat Dijual atas Nama Fashion

Gaya busana ekstrem yang dipertontonkan di Met Gala tak bisa dilepaskan dari arus besar peradaban sekuler liberal yang mendewakan kebebasan individu. Dalam pandangan ini, tubuh adalah milik pribadi yang bebas ditampilkan kepada publik, bahkan dieksploitasi sejauh mungkin untuk meraih pengakuan, pujian, dan tentu saja: keuntungan.

Label “fashion forward” atau “edgy” menjadi pembenaran untuk pakaian yang secara nilai moral justru menunjukkan kemunduran. Mereka yang tampil dengan busana sopan, tertutup, atau syar’i malah dianggap membosankan, konservatif, bahkan ekstrem.

Fenomena ini tidak berhenti di level selebriti dunia. Pengaruhnya menjalar ke seluruh dunia melalui media sosial. Perempuan-perempuan muda di seluruh penjuru dunia mulai mengadopsi gaya hidup yang menormalisasi keterbukaan aurat sebagai tren, bukan lagi sesuatu yang perlu dijaga. Padahal, dalam Islam, aurat adalah kehormatan.

Islam Menjaga, Bukan Mengeksploitasi

Berbeda dengan peradaban Barat yang menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas, Islam hadir dengan ajaran yang memuliakan perempuan. Islam memerintahkan perempuan menutup aurat bukan untuk mengekang, tetapi untuk melindungi dan menjaga kehormatan. Allah berfirman:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Islam tidak hanya mengatur cara berpakaian perempuan, tetapi juga membangun sistem masyarakat yang menjaga pandangan, interaksi, dan adab sosial. Dalam sejarah peradaban Islam, tidak pernah ditemukan perempuan muslimah dipamerkan dalam acara yang mempertontonkan auratnya seperti dalam budaya Barat modern.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya