Dana Swadaya dan Dampak Sosial Patung
Pembangunan patung Jokowi sepenuhnya dibiayai oleh swadaya masyarakat, dengan total dana Rp 2,5 miliar. Dana ini berasal dari sumbangan warga enam desa dan tiga dusun di wilayah LMD, ditambah Rp 500 juta dari Bobby Nasution. “Kami ingin menunjukkan bahwa rakyat Karo bisa bersatu untuk menghormati pemimpin yang telah berjasa,” tegas Sada Ginting pada 16 Mei 2025. Ia menjelaskan bahwa pembangunan jalan 37 kilometer telah memudahkan akses ke pasar, sekolah, dan rumah sakit, sehingga patung ini menjadi simbol rasa syukur yang mendalam.
Meski demikian, penggunaan dana sebesar itu menuai pro dan kontra. Sebagian warga menilai dana tersebut lebih bermanfaat untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan atau kesehatan. “Patung ini bagus, tapi kalau uangnya dipakai untuk beasiswa atau fasilitas umum, mungkin dampaknya lebih besar,” tutur aktivis lokal, Sari Br Ginting, pada 21 Mei 2025.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa tidak ada anggaran publik yang digunakan. “Ini murni inisiatif masyarakat. Pemerintah hanya memfasilitasi peresmian,” jelas juru bicara Pemprov Sumatera Utara, Ahmad Zulfikar, pada 18 Mei 2025. Patung ini juga telah menjadi daya tarik wisata baru di Desa Kutambelin, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tidak ada tiket masuk, tetapi pengunjung disarankan menyumbang untuk pemeliharaan. “Setiap akhir pekan, banyak wisatawan datang berfoto. Ini membantu pedagang lokal,” ucap Lina Tarigan, pedagang suvenir, pada 19 Mei 2025.
Damai Hari Lubis menilai bahwa kontroversi ini mencerminkan dinamika sosial yang kompleks. “Patung ini tidak hanya soal seni, tapi juga tentang bagaimana masyarakat memaknai kepemimpinan dan budaya mereka. Mirip atau tidak, patung ini telah membuka diskusi yang menarik,” ujarnya pada 23 Juni 2025.
Persepsi Publik dan Warisan Budaya
Kontroversi patung Jokowi juga ramai dibahas di media sosial, dengan pandangan yang beragam. Sebagian memuji inisiatif masyarakat Karo, sementara yang lain mengkritiknya sebagai bentuk “kultus individu”. “Patung ini menunjukkan cinta rakyat kepada Jokowi, tapi seharusnya fokusnya pada karya nyata, bukan simbol,” tulis pengguna media sosial, @KaroBersatu, pada 6 November 2023.
Bagi masyarakat Karo, patung ini bukan sekadar monumen, tetapi juga representasi identitas budaya dan solidaritas mereka. “Kami bangga bisa membangun ini tanpa bantuan pemerintah. Ini bukti kekuatan komunitas kami,” tegas Sada Ginting pada 16 Mei 2025. Patung ini juga meningkatkan kunjungan wisata, memberikan dampak ekonomi bagi pedagang lokal di sekitar lokasi.






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…