BANDA ACEH — Seorang anak buruh tani, Karna Januar meraih cumlaude dengan menjadi wisudawan terbaik Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang tahun 2025.
Januar meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yakni 3,93.
Lahir dari keluarga sederhana di Kampung Buher, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, Januar membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tertinggi.
Selama empat tahun menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ia membayar lunas semua harapan dan pengorbanan kedua orang tuanya, Komah (50) dan Kaman (55).
Sang ayah yang bekerja sebagai buruh tani dan sang ibu yang mengelola warung kecil-kecilan, menyisihkan hasil panen dan laba dagang sedikit demi sedikit untuk biaya kuliah Karna.
“Saya kuliah tanpa bekerja sampingan. Itu menjadi PR besar bagi saya agar bisa punya sesuatu yang dibanggakan. Walaupun sakit, saya paksakan kuliah demi orang tua saya,” ungkap Januar usai Prosesi Wisuda di Hotel Mercure pada Senin (30/6/2025).
Tak hanya soal semangat, Januar juga menyiapkan strategi keuangan sejak awal. Ia dan keluarga rajin menabung sejak semester pertama untuk menghindari tunggakan.
Di tahun kedua, ia berhasil mendapatkan Beasiswa Karawang Cerdas Pemerintah Kabupaten Karawang yang sangat membantu kebutuhan akademiknya.
“Laptop saya waktu itu sudah tidak layak pakai. Alhamdulillah beasiswa itu saya gunakan untuk beli laptop dan buku. Orang tua saya sangat senang saat saya kabari,” tuturnya.
Bagi Januar, gelar wisudawan terbaik hanyalah awal dari perjalanan.
Setelah ini, ia bertekad untuk mengabdi di dunia pendidikan dan terus membanggakan kedua orang tuanya.
“Saya akan terus mencari peluang kerja, terutama di bidang pendidikan. Karena dari awal tujuan saya memang ingin jadi guru. Semoga ini menjadi langkah awal untuk membahagiakan orang tua saya,” ucapnya.
Sang ibu, Komah, mengenang masa kecil Januar yang sering sakit-sakitan akibat asma. Namun semangat belajarnya tak pernah padam.
“Dulu kalau sakit saya suruh jangan sekolah, dia nggak mau, tetap maksa sekolah. Saya sampai sedih banget karena nggak punya uang buat beli obat semprot asma yang harganya Rp500 ribu. Tapi alhamdulillah bisa kebeli juga. Itu perjuangan saya dan suami, sedikit-sedikit kumpulin uang dari hasil panen dan dagang,” ujar Komah.
Komah juga bercerita bahwa saat Januar hendak wisuda, mereka harus kembali berutang ke tetangga agar bisa menyiapkan keperluan wisuda anaknya.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler