Sistem kapitalisme menempatkan rakyat sebagai objek politik. Janji-janji manis digelontorkan untuk meraih simpati, tetapi implementasinya minim persiapan.
Celakanya, rakyatlah yang menanggung akibatnya. Kasus keracunan massal MBG adalah bukti nyata bagaimana program instan yang dilaksanakan tanpa fondasi yang kokoh justru berbahaya.
Islam Menempatkan Negara Sebagai Ra’in
Berbeda dengan kapitalisme, Islam menetapkan negara sebagai ra’in (pengurus rakyat) sekaligus mas’ul (penanggung jawab). Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Artinya, negara tidak boleh abai dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk urusan gizi. Pemenuhan kebutuhan pangan bukan sekadar program temporer, melainkan kewajiban struktural yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.
Islam mengatur agar negara:
- Menjamin kebutuhan pokok rakyat seperti pangan, sandang, dan papan.
- Menyediakan layanan kesehatan yang layak dan gratis, termasuk edukasi tentang gizi.
- Mengelola perekonomian secara adil, sehingga rakyat memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bergantung pada program populis.
Sejarah Islam: Negara Hadir Menjamin Gizi Rakyat
Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa kesejahteraan rakyat bukan utopia. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau pernah membagikan gandum secara gratis ketika Madinah dilanda musim paceklik. Tidak berhenti di situ, Umar juga membangun sistem distribusi pangan agar kebutuhan rakyat di berbagai wilayah tetap terpenuhi.
Di era Abbasiyah, sistem kesehatan dan pendidikan berkembang pesat, disertai edukasi gizi yang diberikan secara luas kepada masyarakat. Negara mengelola baitul mal (kas negara) dengan pemasukan dari sumber-sumber syar’i seperti fai’, kharaj, jizyah, dan zakat. Dengan dana inilah, negara mampu membiayai kebutuhan rakyat secara menyeluruh tanpa harus bergantung pada utang atau program instan.
Hal ini membuktikan bahwa dalam sistem Islam, program penyehatan gizi dan pencegahan stunting bukan dilakukan sekadar untuk pencitraan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab negara terhadap rakyat.
Islam Menawarkan Solusi Hakiki
Islam menawarkan solusi komprehensif untuk masalah gizi dan kesehatan masyarakat, berbeda jauh dengan kapitalisme:
- Jaminan Kesejahteraan
Negara wajib memastikan setiap rakyat bisa memenuhi kebutuhan gizinya, baik melalui distribusi langsung maupun dengan membuka akses pekerjaan dan penghasilan. - Edukasi dan Kesadaran Gizi
Rakyat diberi pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang, bukan sekadar diberi makanan gratis tanpa proses edukasi. - Pengelolaan Ekonomi yang Adil
Dengan sistem ekonomi Islam, kekayaan negara tidak terpusat di segelintir orang. Kekayaan alam dan sumber pemasukan dikelola untuk kesejahteraan rakyat, termasuk kebutuhan pangan dan gizi. - Kebijakan yang Terintegrasi
Masalah gizi tidak hanya diatasi dengan pemberian makanan, tetapi dengan perbaikan menyeluruh pada aspek sanitasi, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Refleksi untuk Indonesia
Keracunan MBG yang terus berulang harus membuka mata kita bahwa solusi parsial berbasis program populis tidak akan pernah menyelesaikan masalah mendasar. Alih-alih menurunkan angka stunting, justru muncul masalah baru: ancaman kesehatan massal.

































































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…