EDUKASI
EDUKASI

Hari Ibu 2025: Perempuan Baduy Benteng Terkuat Ketahanan Iklim dan Pangan di Pedalaman Banten

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, dalam sambutannya menekankan pentingnya negara belajar dari Baduy, bukan sebaliknya. Menurutnya, kohesi sosial dan resiliensi masyarakat Baduy terbentuk karena kepatuhan pada alam.

“Mereka yang menjaga lingkungan, bukan orang modern yang justru sering mencabik-cabik alam. Pemerintah tidak boleh melakukan uniformisasi atau memaksakan standar pendidikan modern yang bisa merusak tatanan nilai mereka. Kekuatan Baduy ada pada keasliannya,” tegas Didik.

Senada dengan itu, Tokoh Perempuan dan Alumni Paramadina, Donna Louisa Latief, membandingkan Baduy dengan negara Bhutan yang mengukur kemajuan dari kebahagiaan warganya, bukan semata materi.

“Perempuan Baduy sejahtera tanpa teknologi canggih. Mereka hidup selaras dengan alam, dan itulah kekayaan sejati yang sulit dimiliki masyarakat kota,” ujarnya.

Di sisi ekonomi kreatif, Maya Fransiska, pengusaha handycraft, mengangkat isu pelestarian tenun (wastra) di tengah gempuran gawai pada generasi muda Baduy Luar. Tradisi menenun yang biasanya menjadi pengisi waktu luang kini bersaing dengan media sosial.

“Namun, potensi eco-fashion dari tenun Baduy sangat besar sebagai produk yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi, asalkan tetap menjaga pakem adat,” kata Maya.

Acara ini juga memutar video dokumenter pendek “Saba Budaya Baduy 2025” yang merekam potret visual ketangguhan perempuan Baduy dalam menenun kehidupan yang berkelanjutan di kaki pegunungan Kendeng.

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website