Alhasil, lahirlah generasi yang split personality, tampil islami di konten, tapi gaya hidupnya kapitalistik. Beragama, tetapi keputusan hidupnya ditentukan oleh standar duniawi.
Islam Memandang Pernikahan sebagai Kebaikan Besar
Ketakutan ini berbanding terbalik dengan pandangan Islam. Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu… Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS An-Nur: 32)
Ayat ini seolah menepuk pundak kita kemiskinan bukan penghalang untuk menikah. Justru keberkahan pernikahan yang akan membuka pintu rezeki.
Rasulullah SAW juga menegaskan, “Ada tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah, salah satunya adalah orang yang menikah untuk menjaga kehormatan.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, pernikahan adalah ibadah, penjagaan kesucian, sekaligus jalan datangnya pertolongan Allah. Pernikahan tidak dimaksudkan sebagai beban; ia adalah solusi untuk ketenangan jiwa dan kelanjutan kehidupan.
Namun, di dalam sistem ekonomi yang meniadakan peran Allah dan menggantinya dengan logika pasar, ayat dan hadits ini terdengar seperti utopia. Bukan karena ajarannya tak relevan, tetapi karena sistem yang mengatur kehidupan tidak lagi selaras dengan nilai-nilai tersebut.
Belajar dari Sejarah: Ketika Negara Menjadi Penopang Keluarga
Dalam sejarah Islam, negara hadir bukan sekadar sebagai pemungut pajak atau pembuat regulasi. Ia hadir sebagai rā‘in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung).
Pada masa Umar bin Khattab, negara memberikan tunjangan untuk setiap bayi yang lahir, memastikan para ibu tidak terbebani. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, rakyat sampai kesulitan menemukan orang yang mau menerima zakat karena kesejahteraan begitu merata.
Di berbagai era, negara mengelola milkiyyah ammah seperti minyak, tambang, air, dan hutan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk swasta atau asing. Hasilnya kembali ke masyarakat melalui terjangkaunya kebutuhan pokok, lapangan kerja luas, layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan stabilitas ekonomi yang membuat pernikahan bukan sesuatu yang menakutkan.
Dengan sistem seperti itu, generasi muda tidak tumbuh dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian membangun keluarga dan peradaban.
Saatnya Mengembalikan Kepercayaan Generasi pada Pernikahan
Pernikahan tidak akan lagi dianggap beban jika biaya hidup ditekan, bukan karena diskon semu, tetapi karena negara mengelola kebutuhan publik secara amanah. Lapangan kerja dibuka seluas-luasnya, bukan hanya untuk kepentingan investor, tetapi untuk kesejahteraan rakyat. Generasi dididik dengan aqidah, bukan dengan standar hedonisme. Dan keluarga diposisikan sebagai institusi agung, bukan sekadar urusan privat.































































































