Emil mengungkapkan, pihaknya menelusuri penyebab keracunan massal ini, terutama dari keterangan siswa maupun santri hingga pihak pengelola SPPG yang memasok MBG berupa menu soto ayam dan telur.
Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto telah mengambilnya sampel sisa makanan MBG yang dikonsumsi para korban, maupun dari dapur SPPG yang bersangkutan.
“Sudah beberapa diambil sampel (makanan MBG) dan paling cepat hasilnya kemungkinan besok Senin (12/1/2026). Namun kami tidak terburu-buru, terpenting data bisa akurat dan valid untuk dijadikan bahan evaluasi bersama,” papar Teguh
Pemkab Mojokerto memastikan, seluruh biaya pengobatan hingga perawatan siswa/santri terdampak keracunan menu soto ayam MBG, akan ditanggung penuh oleh pemerintah.
Seluruh biaya tersebut ditanggung pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN), selaku stakeholder yang menangani program MBG (Makan Bergizi Gratis).
Sekretaris Daerah (Sekdakab) Mojokerto, Teguh Gunarko menegaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan BGN maupun pengelola SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk menanggung seluruh biaya korban terdampak musibah keracunan massal dari pengobatan maupun perawatan di seluruh Fasyankes Mojokerto Raya.
“Terkait biaya (RS/ Puskesmas) kemarin kami sudah sepakat dengan BGN yang semuanya akan ditanggung BGN dan masyarakat (terdampak) gratis tidak mengeluarkan serupiah pun. Termasuk rumah sakit, semuanya ditanggung negara,” kata Teguh di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Minggu (11/1/2026).
Kiti Fatmalasari (29), salah satu wali murid menceritakan pengalaman putrinya yang mengalami keracunan.
Anaknya bernama Putri Candra Kirana (13), kelas 7 SMP IT Al Hidayah, kini masih terbaring lemah di ruangan perawatan Puskesmas Kutorejo, Minggu (1/11/2026).
Putri merupakan siswi sekolah reguler yang tidak mondok di tempat tersebut, dan mengalami gejala keracunan seperti diare selama dua hari.
“Anak saya sudah mengalami gejala, Jumat (9/1) malam, seperti diare dan besoknya badannya panas dan sore sudah gemetar dari rumah langsung saya bawa ke sini (Puskesmas),” ujar Kiti saat dijumpai di Puskesmas Kutorejo.
Wanita asal Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo ini mengungkapkan, kondisi putrinya kini telah berangsur membaik dalam penanganan intensif oleh dokter puskesmas.
“Diare sudah tidak, cuma perutnya masih sakit dan kalau minum obat masih terasa mual mau muntah. Badannya sudah tidak panas dan mau makan,” jelasnya.
Wali Murid Merasa Trauma
Kiti mengatakan, sebagai orangtua ia trauma dengan kejadian yang menimpa anak kesayangannya.































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler