NASIONAL
NASIONAL

Duduk Perkara 261 Siswa Keracunan Usai Santap Menu Soto Ayam MBG, Wali Murid Trauma

Emil mengungkapkan, pihaknya menelusuri penyebab keracunan massal ini, terutama dari keterangan siswa maupun santri hingga pihak pengelola SPPG yang memasok MBG berupa menu soto ayam dan telur.

Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto telah mengambilnya sampel sisa makanan MBG yang dikonsumsi para korban, maupun dari dapur SPPG yang bersangkutan.

“Sudah beberapa diambil sampel (makanan MBG) dan paling cepat hasilnya kemungkinan besok Senin (12/1/2026). Namun kami tidak terburu-buru, terpenting data bisa akurat dan valid untuk dijadikan bahan evaluasi bersama,” papar Teguh

Pemkab Mojokerto memastikan, seluruh biaya pengobatan hingga perawatan siswa/santri terdampak keracunan menu soto ayam MBG, akan ditanggung penuh oleh pemerintah. 

Seluruh biaya tersebut ditanggung pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN), selaku stakeholder yang menangani program MBG (Makan Bergizi Gratis). 

Berita Lainnya:
Mobil SPPG di Kebumen Tabrak Pagar Sekolah, Sopir Diduga Mabuk

Sekretaris Daerah (Sekdakab) Mojokerto, Teguh Gunarko menegaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan BGN maupun pengelola SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk menanggung seluruh biaya korban terdampak musibah keracunan massal dari pengobatan maupun perawatan di seluruh Fasyankes Mojokerto Raya. 

“Terkait biaya (RS/ Puskesmas) kemarin kami sudah sepakat dengan BGN yang semuanya akan ditanggung BGN dan masyarakat (terdampak) gratis tidak mengeluarkan serupiah pun. Termasuk rumah sakit, semuanya ditanggung negara,” kata Teguh di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Minggu (11/1/2026). 

Kiti Fatmalasari (29), salah satu wali murid menceritakan pengalaman putrinya yang mengalami keracunan.

Anaknya bernama Putri Candra Kirana (13), kelas 7 SMP IT Al Hidayah, kini masih terbaring lemah di ruangan perawatan Puskesmas Kutorejo, Minggu (1/11/2026).

Berita Lainnya:
Jengkel Dituduh Punya Saham PT Toba Pulp Lestari, Luhut: Mana? Tunjukin!

Putri merupakan siswi sekolah reguler yang tidak mondok di tempat tersebut, dan mengalami gejala keracunan seperti diare selama dua hari.

“Anak saya sudah mengalami gejala, Jumat (9/1) malam, seperti diare dan besoknya badannya panas dan sore sudah gemetar dari rumah langsung saya bawa ke sini (Puskesmas),” ujar Kiti saat dijumpai di Puskesmas Kutorejo.

Wanita asal Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo ini mengungkapkan, kondisi putrinya kini telah berangsur membaik dalam penanganan intensif oleh dokter puskesmas.

“Diare sudah tidak, cuma perutnya masih sakit dan kalau minum obat masih terasa mual mau muntah. Badannya sudah tidak panas dan mau makan,” jelasnya.

Wali Murid Merasa Trauma

Kiti mengatakan, sebagai orangtua ia trauma dengan kejadian yang menimpa anak kesayangannya.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya