BANDA ACEH – Kurnia Tri Royani merasa bahwa Eggi Sudjana Mastal sedang melakukan gerakan pengkhianatan perjuangan yang diyakini pihaknya sebagai langkah untuk mencari kebenaran, yakni soal dugaan bahwa ijazah Joko Widodo dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah palsu.Hal ini disampaikan Kurnia setelah mendapati bahwa Eggi Sudjana bersama Damai Hari Lubis mendatangi kediaman Joko Widodo di Solo, tanpa koordinasi dengan rekan-rekan sejawatnya, dan kemudian berujung SP3 di Polda Metro Jaya.
“Allah memerintahkan kita untuk istiqomah di jalan yang benar, sebagaimana kami telah perintahkan kepadamu dan untuk dipahami juga oleh bang Eggi Sudjana ya kan,” kata Kurnia dalam podcast Madilog seperti dikutip Holopis.com, Jumat (16/1/2026).
Dalam memandang situasi ini, Kurnia menegaskan bahwa sikap Eggi Sudjana jelas pengkhianatan terhadap perjuangan rekan-rekan sejawatnya, khususnya mereka yang kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas laporan yang dilakukan oleh Joko Widodo. Di mana dirinya pun ikut menjadi salah satu dari tersangka itu.
“Nah kalau Anda bertanya itu datang ke sana ujug-ujug tanpa sebab tanpa memberi tahu kawan seperjuangan padahal jelas-jelas ini merupakan kontradiksi, kontraproduktif, bahkan sangat berlawanan, kita menyebutnya apa ?,” ujarnya.
Bahkan ia sampai menahan tangis agar tidak sampai meneteskan air mata karena merasakan pedihnya dikhianati oleh rekan seperjuangannya yang selama 4 tahun terakhir melakukan upaya untuk pembuktian, apakah ijazah Jokowi yang digunakan untuk maju sebagai Kepala Daerah hingga Presiden Republik Indonesia ke 7 selama dua periode tersebut asli atau palsu.
“Sangat menyakitkan. Kita ini tersangka ya, tersangka itu selangkah lagi. Tapi kami bangga tersangkanya bukan karena korupsi ya, bukan karena menyakiti orang, bukan karena yang lain-lain,” tegas Kurnia.
Lebih lanjut, ia pun menegaskan bahwa apa yang diperjuangkan oleh dirinya dan sejumlah orang terkait dugaan ijazah palsu Jokowi sama sekali tidak mendapatkan bayaran. Bahkan risiko besarnya adalah masuk penjara. Namun ia menegaskan bahwa semuanya dilakukan dengan penuh keyakinan atas nama kebenaran.
“Saya ingin menyampaikan bahwa kita ini sama-sama berjuang loh, hampir 4 tahun begitu ya kan dan pro-bono, benar-benar dari hati kita sendiri, berjuang luar biasa,” ucapnya.
Oleh sebab itu, ia berharap Eggi Sudjana Mastal bisa kembali merenungi diri terhadap apa yang ia lakukan hingga mengorbankan perjuangan yang telah bersama-sama mereka lakukan.






























































































