Setiap unit huntara dirancang berukuran 6 x 6 meter, dilengkapi dua kamar tidur, satu ruang multifungsi yang dapat difungsikan sebagai dapur atau ruang keluarga, serta teras. Kebutuhan kayu diperkirakan sekitar 4 meter kubik untuk rumah tanpa lantai panggung dan 5 meter kubik untuk rumah berpanggung. Material pendukung seperti atap galvalum, paku, baut, dan mur didatangkan dari luar lokasi.
Dalam pelaksanaannya, satu unit huntara idealnya dikerjakan oleh enam orang, terdiri dari dua tukang utama dan empat warga sebagai pembantu tukang. Target awal pembangunan adalah empat hari per unit, namun pada tahap awal waktu pengerjaan masih berkisar enam hari per unit karena proses adaptasi tenaga kerja dan kondisi lapangan.
Penentuan penerima huntara dilakukan melalui musyawarah gampong, dengan mengutamakan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yatim dan piatu. Pendekatan ini diharapkan memastikan bantuan tepat sasaran dan berkeadilan.
Di balik data dan perencanaan teknis, pembangunan huntara ini juga menyimpan kisah kemanusiaan. Salah satunya dialami Misran dan keluarganya. Saat banjir melanda, Misran bersama istri yang tengah hamil besar serta tiga anggota keluarga lainnya bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit demi menyelamatkan diri. Kini, hunian sementara bagi keluarganya telah selesai dibangun dan mulai ditempati, sementara belasan unit huntara lainnya masih dalam proses pembangunan di lokasi yang sama.
Keterlibatan Yonzipur 5/ABW dalam pembangunan huntara ini merupakan bagian dari komitmen TNI AD dalam penanggulangan bencana. Yonzipur 5/ABW Kodam V/Brawijaya bersama Yonzipur 10/JP Divisi 2 Kostrad tercatat sebagai satuan BKO paling pertama yang hadir di wilayah Aceh Utara pada pertengahan Desember 2025, setelah sebelumnya menyelesaikan tugas tanggap darurat bencana vulkanologi Gunung Semeru di Jawa Timur.
Melalui pembangunan huntara kayu di kawasan tenda pengungsian Desa Geudumbak, Satgas Gulbencal Gabungan berharap dapat membantu mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana di Aceh Utara. []




























































































