Dampak perang ini terlihat dalam kehidupan para tentara cadangan seperti Paul (28), seorang ayah tiga anak yang harus meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer proyek. Suara desingan peluru yang terus terngiang di kepalanya membuatnya hidup dalam kondisi waspada terus-menerus meski sudah kembali ke rumah dan jauh dari medan tempur.
Namun, upaya untuk mendapatkan bantuan tidaklah mudah karena birokrasi yang berbelit. Tentara yang mencari bantuan negara harus melalui komite penilaian Kementerian Pertahanan untuk menentukan tingkat keparahan kasus mereka. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan dan sering kali membuat mereka enggan melanjutkannya.
Institusi kesehatan mental di Israel dilaporkan sudah kewalahan menangani lonjakan pasien ini. Para ahli memperingatkan, risiko bunuh diri atau menyakiti diri sendiri akan meningkat drastis jika trauma ini tidak segera ditangani dengan tepat di tengah perang yang tak kunjung usai.
“Institusi kesehatan mental di Israel kewalahan, dan banyak orang tidak bisa mendapatkan terapi atau bahkan tidak mengerti bahwa tekanan yang mereka rasakan berkaitan dengan apa yang mereka alami,” tutur Sidi, dikutip The Economic Times.






























































































