BANDA ACEH – Sebuah petunjuk baru yang mengejutkan muncul dalam proses pencarian korban pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan. Perangkat elektronik milik kopilot Farhan Gunawan diduga menunjukkan adanya aktivitas pergerakan, memicu harapan besar bahwa korban kemungkinan masih dalam kondisi hidup.Harapan ini mencuat setelah ponsel milik Farhan ditemukan oleh tim SAR di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, pada Minggu (18/1/2026). Setelah diperiksa oleh pihak keluarga, terdapat data sinkronisasi yang tidak biasa antara ponsel dan jam tangan pintar (smartwatch) milik korban.
Rekaman Langkah Kaki di Hari Ketiga
Dalam sebuah video yang viral di media sosial, seorang kerabat keluarga Farhan menjelaskan bahwa data pada smartwatch tersebut merekam adanya aktivitas fisik yang terus bertambah hingga hari ketiga setelah pesawat dinyatakan jatuh (17/1/2026).
“HP Farhan ditemukan di hutan pada tanggal 18 dan sekarang dipegang adik saya. Setelah dicek, jam tangannya terhubung ke HP dan menunjukkan ada pergerakan langkah kaki Farhan dari pagi sampai malam, jumlahnya terus bertambah,” ujar perempuan dalam video tersebut dengan nada haru.
Pihak keluarga memohon bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto dan otoritas terkait untuk menambah personel SAR guna menyisir titik yang diindikasikan oleh perangkat digital tersebut.
Basarnas Fokus pada ‘Golden Time’
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Safii mengonfirmasi bahwa tim gabungan terus mengumpulkan benda-benda yang ditemukan di lokasi, termasuk barang pribadi milik korban. Mengenai temuan dua korban di dasar lereng, Safii menyebut proses evakuasi masih berlangsung di bawah kendala cuaca ekstrem.
“Benda-benda milik korban kita inventarisir untuk kemudian diserahkan kepada keluarga atau pihak berwenang seperti KNKT dan Kepolisian untuk investigasi lebih lanjut,” jelas Safii di Makassar.
Safii menegaskan bahwa tim SAR masih bekerja dalam periode kritis atau golden time. “Harapan kita adalah menemukan korban dalam kondisi selamat. Namun, tantangan utama saat ini adalah kondisi alam dan cuaca yang tidak menentu di medan ekstrem Bulusaraung,” pungkasnya.






























































































