BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan langkah konkret dalam upaya pengembangan infrastruktur kesehatan dan pendidikan kelas dunia. Rektor USK, Prof. Marwan, menerima kunjungan delegasi JICA (Japan International Cooperation Agency) pusat dari Tokyo untuk meninjau persiapan awal pembangunan Rumah Sakit Pendidikan USK, Senin, 19 Januari 2026.Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian komunikasi intensif yang telah dibangun sebelumnya antara USK dengan JICA perwakilan Indonesia. Kali ini, delegasi dari Tokyo turun langsung untuk melakukan verifikasi lapangan serta melihat kesiapan dokumen strategis yang menjadi syarat mutlak dimulainya proyek besar ini.
Dalam penjelasannya, Rektor USK Prof. Marwan mengungkapkan bahwa saat ini progres proyek sedang memasuki tahapan krusial, yaitu transisi dari Blue Book (rencana daftar proyek pinjaman luar negeri jangka menengah) menuju Green Book (daftar rencana pinjaman luar negeri siap direalisasikan).
“Kunjungan hari ini dari pihak JICA Tokyo bertujuan untuk melihat langsung kesiapan dokumen dan lokasi fisik. Kita sedang melakukan persiapan dokumen-dokumen lanjutan untuk mendukung proses dari Blue Book ke Green Book,” ujar Prof. Marwan.
Ia menambahkan, koordinasi lintas sektoral terus diperkuat guna memastikan kelancaran administrasi. “Kami secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), pihak JICA sebagai calon pemberi pinjaman, serta Bappenas,” lanjutnya.
Studi Kelayakan dan Target 2027
Setelah kunjungan ini, pihak JICA dijadwalkan akan melakukan survei detail terkait Feasibility Study (FS) atau Studi Kelayakan. USK sendiri telah menyiapkan dokumen awal FS yang akan disinergikan dengan standar kebutuhan JICA.
“Langkah ini sangat penting sebagai syarat penandatanganan kontrak yang kami harapkan bisa terlaksana pada awal tahun depan. Kami melengkapi dokumen-dokumen sesuai kebutuhan JICA agar proses kontrak tidak menemui kendala,” tegas Rektor.
Proyek Rumah Sakit Pendidikan USK ini dirancang dengan konsep yang unik dan relevan dengan kondisi geografis Aceh, yakni sebagai rumah sakit yang juga tanggap bencana. Fasilitas ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi mahasiswa kedokteran dan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat pelayanan kesehatan publik yang memiliki keunggulan dalam manajemen krisis dan kebencanaan.
Pembangunan rumah sakit yang direncanakan berlokasi di area strategis kampus ini mendapatkan dukungan luas, tidak hanya dari internal universitas tetapi juga dari elemen masyarakat Aceh.

























































































