“Yang utama adalah anak-anak bisa kembali ke sekolah dan berkumpul bersama guru. Proses pembelajaran tidak harus selalu dilakukan secara formal. Guru dapat memfasilitasi kegiatan sederhana seperti diskusi, berbagi pengalaman, bercerita, hingga berhitung secara sederhana tanpa buku. Aktivitas ini sangat penting sebagai bagian dari trauma healing bagi peserta didik yang terdampak bencana,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Dandim menekankan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk kembali beraktivitas, pulih secara psikologis, serta perlahan kembali ke rutinitas belajar pascabencana.
Dengan adanya interaksi sosial bersama teman-teman dan guru, diharapkan anak-anak dapat melupakan trauma dan kepedihan yang mereka alami saat bencana, serta menumbuhkan kembali semangat belajar mereka.
“Jadi yang utama adalah anak-anak bisa melupakan trauma dan kepedihan yang mereka alami saat bencana, serta kembali berinteraksi dengan teman-temannya. Sekolah harus menjadi ruang aman dan nyaman bagi mereka untuk pulih secara psikologis dan kembali menjalani rutinitas belajar pascabencana,” tutupnya.
Melalui upaya ini, TNI AD bersama seluruh unsur terkait menunjukkan komitmen kuat untuk selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga dalam pemulihan sosial dan pendidikan, demi memastikan masa depan generasi muda Aceh Tengah tetap terjaga meski di tengah keterbatasan pascabencana. []



























































































