OLEH: DENNY JA
HARI keempat World Economic Forum 2026. Saya mendengar pidato Prabowo Subianto dengan perasaan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Spirit pidato itu sederhana namun esensial. Ia mengingatkan kembali asal-usul etis mengapa kekuasaan itu diperlukan.
Seluruh bangunan visi kepemimpinannya berakar pada satu ukuran moral yang jarang diucapkan di forum elite dunia. Yaitu perlunya kekuasaan yang membuat miskin dan lemah tersenyum.
Kalimat itu bukan slogan kampanye. Ia adalah definisi tentang apa arti kekuasaan ketika dilepaskan dari ambisi sempit. Ia adalah ukuran tentang apakah negara masih memiliki hati nurani.
-000-
Hari itu, istri saya, Mulia Jayaputri, mengirimkan potongan video. Dalam video tersebut, di tengah kerumunan yang mengelilingi Presiden Prabowo, Mulia bercerita bahwa malam sebelumnya Resto Bunga Rampai yang dipimpinnya telah menyajikan masakan Indonesia kepada para tamu dunia dalam acara Indonesia’s Night di Davos.
Prabowo bertanya, “Denny JA ada di mana?”
“Ada di sini, Pak,” jawab Mulia Jayaputri.
“Mana?” tanyanya lagi.
Ironisnya, saat itu saya justru berjarak sekitar satu jam dari Davos. Saya berada di kamar hotel, mengumpulkan bahan untuk menulis ulasan tentang pidato Prabowo.
Sekaligus mengaitkannya dengan pidato para pemimpin dunia lain yang saya dengar pada hari-hari sebelumnya.
Seolah ada ironi kecil yang disengaja oleh keadaan. Pidato tentang rakyat paling bawah justru saya dengarkan dari jarak. Namun mungkin memang dari jarak itulah maknanya terlihat lebih utuh, lebih tenang, dan lebih jernih.
-000-
World Economic Forum tahun ini dibayangi satu kesadaran bersama. Tatanan dunia sedang berubah.
Pidato para pemimpin besar dipenuhi kata tentang fragmentasi, ketidakpastian, dan dunia yang tak lagi tunduk pada aturan lama.
Ada yang menjawab perubahan ini dengan proteksionisme. Ada yang dengan nasionalisme transaksional. Ada pula yang menyerukan solidaritas antar negara menengah.
Di tengah semua itu, Prabowo memilih pintu yang jarang dibuka di Davos. Ia berbicara tentang rakyat miskin. Tentang anak yang lapar. Tentang desa yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam statistik, bukan dalam kebijakan nyata.
Justru di sanalah letak argumen besarnya.
Prabowo memulai dengan satu tesis dasar. Tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian. Tidak ada pertumbuhan tanpa stabilitas. Dan tidak ada stabilitas tanpa kepercayaan.
Ia lalu tidak berhenti pada pernyataan. Ia menyodorkan bukti. Dalam satu tahun pemerintahannya, Indonesia bukan hanya bertahan di tengah gejolak global, tetapi bergerak maju.






























































































