PIDIE JAYA – Di tengah berangsur pulihnya kondisi pascabanjir di Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya, masih tersisa cerita pilu yang dirasakan para relawan di lapangan. Salah satunya dialami tim relawan kemanusiaan EMT Aceh yang hampir setiap hari menyusuri wilayah terdampak untuk menyalurkan bantuan dan memantau kondisi warga.
Menurut salah seorang tim, Nurbaidah, sebagian besar pengungsi saat ini telah kembali ke rumah masing-masing. Namun, masih terdapat beberapa lokasi yang bertahan, seperti di Dayah Husen, kawasan Meunasah Raya, dan Meunasah Mancang. Di titik-titik tersebut, sebagian warga masih tinggal di tenda dan dapur umum masih tetap beroperasi.
“Untuk tiga lokasi ini, bantuan logistik relatif cukup. Hampir setiap hari tim kesehatan juga masih turun ke lokasi,” ujar Nurbaidah saat ditemui relawan di lapangan, Sabtu (24/1/2026).
Berbeda dengan kondisi tersebut, Nurbaidah menyoroti wilayah lain yang luput dari perhatian karena letaknya jauh ke pedalaman. Tiga lokasi yang dimaksud adalah Gampong Alue Keutapang, Babah Krueng, dan Pulo Kumbang, Kecamatan Bandar Dua. Meski warganya tidak lagi mengungsi, kondisi lingkungan pascabanjir masih sangat memprihatinkan.
“Karena mereka tidak lagi di pos pengungsian, bantuan jadi jarang masuk. Padahal kondisi rumah dan lingkungan masih berat,” jelasnya.
Nurbaidah menyebutkan, penyaluran bantuan ke wilayah-wilayah tersebut bisa dilakukan langsung ke individu warga atau melalui aparatur gampong, termasuk keuchik setempat. Namun yang paling menyentuh hati relawan adalah kebutuhan anak-anak di daerah tersebut.
“Setiap bertemu anak-anak, yang mereka minta bukan makanan. Mereka minta tas sekolah dan sepatu,” kata Nurbaidah lirih.
Ia mengaku kerap merasa sedih ketika bantuan yang dibawa hanya berupa obat-obatan atau kebutuhan darurat lainnya, sementara permintaan anak-anak tak mampu ia penuhi.
“Kadang kami hanya bawa obat. Tapi mereka bilang, ‘kak, kami butuh tas sekolah, butuh sepatu,’” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal logistik dan kesehatan, tetapi juga tentang masa depan anak-anak yang ingin kembali bersekolah dengan layak. Nurbaidah berharap kepedulian masyarakat dan para dermawan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini luput dari sorotan.
“Semoga ada yang tergerak membantu mereka. Karena bagi anak-anak ini, tas dan sepatu adalah harapan untuk bangkit kembali,” pungkasnya. []






























































































