BANDA ACEH – AMBISI China untuk menguasai dunia, menggeser posisi Amerika Serikat terus dilakukan, a.l lain dengan inovasi-inovasi baru terkait teknologi alustista atau persenjataan.Analis militer beberapa waktu dikejutkan ketika jet tempur J-10C buatan China milik AU Pakistan, 7 Mei tahun lalu menjatuhkan lima pesawat tempur AU India buatan industri pesawat tempur utama dunia yakni satu Rafale (Prancis), dua Sukhoi SU-30 (Rusia) dan dua MiG-29 (peninggalan Uni Soviet).
Teranyar, harian Global Times China seperti dilansir Kompas.com (24/1) merilis desain kapal induk terbang dijuluki “Luanniao” yang diklaim sebagai senjata super luar angkasa.
Luanniao (鸾鸟) secara harfiah berarti “burung luan” , makhluk dalam mitologi Asia Timur, sering kali digambarkan sebagai burung suci menyerupai fenghuang (phoenix Tiongkok) (sumber: wikipedia).
Sumber Deutsche Welle, diplomat Jerman yang juga analis antariksa Heinrich Kreft walau menilai, proyek ini sepenuhnya tidak realistis dari sudut pandang saat ini, namun menempatkannya dalam garis panjang perkembangan teknologi.
“Banyak hal yang 20 atau 30 tahun lalu masih fiksi ilmiah, kini menjadi kenyataan,” ujarnya kepada DW.
China, kata dia, ikut meramaikan perlombaan visi masa depan yang juga digerakkan figur seperti milyuner Elon Musk dan Jeff Bezos.
Majalah The National Interest bahkan menulis: “Chinamyang ingin dunia percaya klaim mereka, sedang membangun senjata super.
Fiksi ilmiah atau realitas?
Terlepas dari apakah ia benar-benar akan dibangun, visi tersebut telah mengaburkan batas antara fiksi ilmiah dan realitas teknologi, demi membuat Barat gelisah dan dipaksa menguras sumber daya mereka untuk berlomba.
Bagi Kreft, pengumuman China ini terdengar seperti pesan yang sengaja dilepas dalam perang psikologis melawan AS, terutama di bawah bayang-bayang konflik Taiwan.
“Ini seperti kiasan, China menanam tanda, meninggalkan jejak,” tuturnya.
Lanskap ancaman terhadap Barat
Kreft mengingatkan bahwa “kapal induk terbang” hanyalah satu dari rangkaian pengumuman senjata super China, mulai dari pemburu kapal selam hingga sistem berbasis antariksa, yang kerap dinilai tidak realistis oleh pakar Barat, tetapi jelas berfungsi sebagai bagian dari lanskap ancaman.
Pengamat senjata antariksa Juliana Sub memandang proyek ini melalui kacamata pencegahan. “Ini tentang pertunjukkan poyeksi kekuasaan lintas dimensi,” ujarnya.
Dia juga menilai presentasi‘Luanniao’ sebagai respons terhadap rencana pertahanan rudal AS di luar angkasa.
Proyek “Golden Dome”, yang digagas pada era Donald Trump, bertujuan melindungi AS dengan jaringan berlapis sistem pencegat darat, laut, radar, dan kemungkinan sistem berbasis antariksa.































































































