BANDA ACEH -Tidak banyak yang mengetahui di balik sosok Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri ternyata menyimpan makna perjuangan dalam kehidupan.
Dalam catatan yang dibagikan bertepatan dengan momentum Hari Buruh alias May Day, Firli menceritakan kehidupannya di masa lalu yang pernah menjadi seorang buruh serabutan.
“Tidak dapat dipungkiri telah membentuk sosok dan kepribadian saya saat ini,” kata Firli dalam catatannya yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (1/5).
“Apa yang dirasakan saudara-saudara saya para buruh, mulai dari beratnya pekerjaan yang terkadang tidak sebanding dengan upah, hingga ke khawatiran akan masa depan, juga Saya sendiri alami semasa menjadi buruh,” sambungnya.
Saat masih sekolah, Firli pernah bekerja mencuci pakaian dan mobil, membersihkan rumah termasuk WC sebagai konsekuensi pekerjaanya saat itu sebagai buruh serabutan pada sebuah keluarga.
“Saya bekerja pada keluarga yang kala itu memiliki tujuh orang anak, sehingga tidak dapat dibayangkan helai demi helai pakaian yang harus saya cuci dan setrika dengan rapi, mobil-mobil yang wajib kinclong sebelum digunakan, dan setiap sudut rumah yang mesti di bersihkan,” ungkap Firli.
Pensiunan jenderal bintang tiga ini bahkan harus bangun lebih dulu dari majikannya untuk menyiapkan segala sesuatu dan membersihkan seluruh bagian-bagian dalam rumah.
“Bangun jam 4 pagi lalu mencuci beberapa mobil sebelum saya tinggal sholat subuh, kemudian lanjut mencuci pakaian lalu menyapu dan meminta izin pergi ke sekolah, adalah rutinitas yang wajib saya kerjakan sebagai pembantu kala itu,” kata Firli.
Selain bekerja sebagai pembantu, Firli saat itu juga berjualan spidol untuk sekedar menambah uang saku dan membantu keluarganya yang memang berasal dari petani miskin. Berjualan spidol ini, ia kerjakan usai pulang sekolah.
“Pulang sekolah, saya berjualan spidol yang saya beli dari Pasar Cinde lalu saya jual di Taman Ria Palembang. Tak jarang juga, saya menjadi buruh lepas, sebagai tukang cuci mobil disebuah bengkel atau tempat cuci mobil,” beber Firli.
Habis berjualan, ketika ia kembali ke rumah majikan ia harus menuntaskan pekerjaanya yakni menggosok atau setrika pakaian keluarga majikannya.
“Sekitar jam 11 malam saya baru dapat tidur dan syukurnya tidur terasa sangat nikmat akibat penat dan lelah bekerja seharian,” imbuh Firli.
Dari perjalanan lika liku hidup yang harus diperjuangkannya itu, Firli sangat memahami psikologis kaum buruh saat ini.
“Kami bekerja banting tulang untuk menghidupi diri dan keluarga, dengan kata lain sebagai penyambung kehidupan generasi penerus bangsa,” kata Firli.



















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler