NASIONAL
NASIONAL

‘Miftah Minta Maaf Bukan karena Merasa Bersalah Melainkan Takut Kehilangan Jabatan’

BANDA ACEH – WAKIL Ketua Umum Partai Garda Republik Indonesia, Teddy Gusnaidi turut mengomentari kelakuan Gus Miftah yang mengolok-olok penjual es teh keliling, yang berjualan saat ulama nyentrik itu sedang ceramah.Teddy Gusnaidi menilai permintaan maaf Gus Miftah dengan mendatangi langsung penjual es itu bukan cerminan penyesalan atau rasa bersalah.

Menurut Teddy Gusnaidi, Gus Miftah minta maaf karena telah ditegur Sekretaris Kabinet, Mayor Teddy, gegara video ceramah itu viral.

Gus Miftah baginya meminta maaf karena takut jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Agama dan Toleransi bisa bermasalah.

“Miftah memaki dan menghina itu dilakukan pada tanggal 20 November 2024. Dia baru meminta maaf, tanggal 4 Desember 2024, setelah ditegur oleh Seskab,” tulisnya di akun X miliknya, @teddgus, Kamis, 5 Desember 2024.

Menurutnya, dengan rentang waktu hampir dua minggu dari kejadian hingga momen minta maaf, Gus Miftah sama sekali tak menyadari bercandanya berlebihan.

Berita Lainnya:
Eggi Sudjana Sebut Pertemuannya dengan Jokowi Ibarat Musa Menghadap Firaun, Jadi Alasan Ideologis

“Artinya selama dua minggu setelah kejadian, Miftah menganggap yang dia lakukan itu nyeleneh dan keren, bukan tindakan biadab. Kalau dia rasa itu biadab, saat itu juga atau esok harinya dia akan meminta maaf. Tapi ini tidak,” tegasnya.

Baginya, gesture Gus Miftah saat bertemu dengan penjual es, Pak Sunhaji, bukanlah seperti orang meminta maaf.

“Cara dia meminta maaf juga masih tengil dan sok asik sama yang lebih tua. Yang lebih tua dirangkul, lalu ditarik-tarik. Posisinya masih tetap tengil dan sok asik,” kritiknya.

Oleh karena itulah, dia menyimpulkan bahwa; “Miftah meminta maaf bukan karena merasa bersalah atas tindakannya, tapi karena tidak mau bermasalah dengan jabatannya”.

Dalam tweet-nya, Teddy juga menuturkan pelajaran dari kasus Gus Miftah, bahwa seseorang yang popular karena viral suatu hari bisa kandas, kalua tidak menjaga kelakuan.

Berita Lainnya:
Habiburokhman: Kritik Gatot Nurmantyo ke Kapolri Berpotensi Melemahkan Pemerintahan Prabowo

“Melihat Miftah memaki dan mengolok-olok penjual teh dikeramaian, tentu orang normal manapun pasti mengatakan itu biadab. Tidak perlu ada pembelaan. Itu bukan khilaf, itu tabiat. Tidak normal jika ada yang bilang ini guyonan,” tegasnya.

“Dari kasus Miftah, ini bisa jadi pelajaran bagi siapapun yang muncul tidak sengaja dari jalur viral, untuk upgrade diri jika ingin bertahan di industry,” sambungnya.

Miftah, kata Teddy adalah penceramah yang dikenal melalui jalur viral. Bukan karena isi ceramahnya, tapi karena hal unik, seperti ceramah di lokalisasi dan tempat hiburan malam.

“Itu unik dan viral sehingga dia jadi penceramah industri. Sayangnya Miftah tidak punya kemampuan untuk upgrade kemampuan ceramahnya sebagai jualan, sehingga yang dijual adalah keunikan, bukan isi ceramah. Ini yang salah,” ungkapnya.

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya