BANDA ACEH – Amerika Serikat dan Israel dikabarkan telah melakukan pembicaraan dengan tiga negara Afrika Timur mengenai kemungkinan pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza ke Sudan, Somalia, dan wilayah yang memisahkan diri, Somaliland.Informasi ini diungkap oleh pejabat AS dan Israel yang dikutip oleh kantor berita The Associated Press (AP) pada Jumat, 14 Maret 2025.
Menurut laporan tersebut, Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim menyatakan bahwa diskusi ini berlangsung dalam kerahasiaan tinggi. Masih belum jelas sejauh mana upaya ini telah berkembang dan pada tingkat apa pembicaraan dilakukan.
Sebagai imbalan atas penerimaan warga Palestina yang dimukimkan kembali, AS dan Israel dikabarkan menawarkan berbagai insentif, termasuk bantuan finansial, diplomatik, dan keamanan.
Seorang pejabat AS yang terlibat dalam negosiasi mengonfirmasi bahwa AS telah melakukan pembicaraan dengan Somaliland mengenai berbagai bidang kerja sama.
“Kami melakukan pembicaraan diam-diam dengan Somaliland tentang berbagai bidang di mana mereka dapat membantu AS dengan imbalan pengakuan,” ungkapnya.
Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, berupaya mendapatkan pengakuan internasional.
Presiden baru Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, diyakini menjadikan pengakuan ini sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Namun, masih belum jelas mengapa Somalia akan mempertimbangkan untuk menampung warga Palestina, mengingat negara tersebut secara historis sangat mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.
“Penyelarasan geopolitik terus berubah, jadi mungkin ada agenda tersembunyi di balik alasan Somalia,” ujar Sambu Chepkorir, seorang pengacara dan peneliti konflik di Nairobi.
Di Sudan, dua pejabat yang berbicara secara anonim mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah menghubungi militer Sudan untuk membahas kemungkinan menerima warga Palestina.
Salah satu pejabat mengungkapkan bahwa diskusi ini sebenarnya telah dimulai sebelum pelantikan Trump. AS menawarkan bantuan militer terhadap kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), serta bantuan rekonstruksi pascaperang dan insentif lainnya.
Namun, kedua pejabat Sudan menegaskan bahwa pemerintah mereka menolak gagasan tersebut.
“Saran ini langsung ditolak. Tidak seorang pun membuka masalah ini lagi,” kata salah satu pejabat Sudan.
Pernyataan tersebut langsung mendapat kecaman dari warga Palestina dan negara-negara Timur Tengah, yang menyebutnya sebagai bentuk pembersihan etnis.

































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler